Mengapa si Bodoh Tetap Bodoh?


Ilustrasi

Salah satu sifat buruk manusia yaitu “semakin tidak tahu maka akan semakin percaya diri.” Ketika kedua kubu saling berperang di medsos bersenjatakan kebencian, sesungguhnya mereka sedang mempertontonkan kebodohannya sendiri.

Sebuah tragedi ketika orang-orang bodoh dengan percaya diri menyebarkan kebodohannya di medsos. Dengan mengusung fanatisme buta mereka rela mengorbankan akal sehatnya demi nafsu kebencian.

Kebanyakan manusia berpikir bahwa dirinya di atas rata-rata, lebih pintar, dan lebih baik dari orang lain. Dalam psikologi, fenomena ini sering disebut sebagai ILUSI SUPERIORITAS. Beberapa sumber ilmiah bahkan mengungkap, sekitar 93% populasi manusia hidup dalam ilusi superioritas, meskipun secara logis tidak mungkin mendapatkan data tepat menggunakan statistik.

Kita semua pernah mengalami situasi bertemu dengan seseorang yang tidak menyadari betapa bodohnya dia telah terperangkap dalam ilusi superioritas. Dalam diskusi internet, mungkin Anda pernah bertemu dengan netizen yang berdiri kokoh mempertahankan pendapatnya dan tidak mengubahnya meskipun banyak orang membantahnya menggunakan data dan fakta.

Seperti habis minum alkohol, media sosial berubah menjadi debat sosial-politik-agama, dan Anda mengetahui bahwa mereka sebenarnya bukan ahli dibidangnya, hanya partisipan yang sedang mabuk, tapi anehnya Anda ikut masuk dalam ruang perdebatan.

Sejatinya semua manusia memiliki satu kesamaan, ketidaktahuan yang tidak mereka sadari. Ketika Anda mengikuti orang berbeda dan memiliki kesamaan pemikiran, kemungkinan besar Anda akan menyerah pada ilusi superioritas, semakin kuat pemikiran bahwa Anda di atas rata-rata. Tidak semua orang yang merasa di atas rata-rata menyerah pada ilusi superioritas, tetapi lebih bijaksana untuk waspada, karena ilusi ini dapat menyerang siapa saja tanpa terkecuali.

“Ketidaktahuan adalah kekuatan,” kata filsuf Ingsoc Orwell. Socrates pernah memberikan wejangan, “Saya mengetahui bahwa saya tidak tahu apa-apa,” sebuah pesan terbesar dalam skeptisme tentang ilusi pengetahuan. Confucius menulis, “pengetahuan sejati adalah untuk mengetahui sejauh mana kebodohan kita.”

Bertrand Russle menambahkan peringatan ini, “dunia kontemporer adalah orang bodoh bersikeras dan merasa yakin, sedangkan orang-orang pintar penuh dengan keraguan.” Kemudian Charles Darwin menyempurnakannya, “Ketidaktahuan lebih sering melahirkan kepercayaan daripada pengetahuan.”

Tidak hanya itu, banyak filsuf lain melihat ketidaktahuan, ilusi superioritas, kebodohan, dan kepastian keyakinan, merupakan bahaya besar bagi ilmu pengetahuan dan kemunduran manusia di masa depan. Masalah ini bukan tanpa solusi, menerapkan kebijaksanaan dalam setiap hal, kebodohan bukanlah aib melainkan jalan untuk mendapatkan kebenaran. Sejatinya ketidaktahuan bukanlah kebodohan, karena tidak ada manusia yang mengetahui segalanya.

Seringkali kita masuk dalam situasi ilusi konyol ini, merasa nyaman jika tetap mempertahankannya, dan akan menderita jika mencoba menyadarinya. Rasa nyaman itulah yang akan membuat kita bodoh dan tetap menjadi bodoh, si bodoh tidak tahu dia bodoh.

Kecerdasan bukan tentang kemampuan menjawab dengan benar, tetapi menciptakan pertanyaan yang tepat. Bertanyalah kepada diri sendiri, “apakah saya benar atau salah?” Selanjutnya gunakan intelegensi untuk mencari tahu jawabannya.

Si bodoh tidak hanya tidak tahu bahwa dia bodoh, tetapi dia juga menjadi bodoh karena dikutuk untuk tetap menjadi bodoh, karena dia tidak mampu bebas dari kebodohannya. Semakin banyak pengetahuan yang kita ketahui, maka kita akan menyadari betapa sedikit yang kita ketahui.

Orang pintar akan dengan mudah menyadari bahwa dirinya sebenarnya masih bodoh, ketidaktahuan akan menggiringnya ke dalam kecerdasan. Sejatinya setiap manusia adalah makhluk bodoh, yang membedakan ada yang menyadari dan tidak menyadarinya.

Kecerdasan bukan harus mengetahui, orang bodoh pun bisa mencari tahu, intinya tentang memahami. Sekarang Anda mengetahui mengapa si bodoh tetap menjadi bodoh, dan betapa sulit untuk mengatasinya.

Ruang media sosial adalah sarana subur bagi mereka untuk mempertontonkan kebodohannya, bangga dengan kebodohannya, bukan orang kompeten, hanya netizen yang otaknya telah terkontaminasi radiasi opini publik.

“Sejatinya orang bijak akan menciptakan keputusannya sendiri, sedangkan orang bodoh akan selalu mengikuti opini publik.”
– Henry Grantland

Selalu pupuk rasa ingin tahu, bijak dalam berpikir, sadari bahwa sebenarnya kita masih bodoh, berpikir tiga langkah ke depan sebelum beraksi, dan menyadari bahwa kita tidak sempurna dan tidak harus di atas rata-rata.

“Memiliki semua kebenaran adalah pertanda kebodohan.”
-Michel de Montaigne.

Sulitkah kita menahan lisan ini untuk tidak berbicara tentang sesuatu yang tidak kita ketahui? Terasa beratkah mulut ini untuk mengatakan, “saya tidak tahu”? Terasa kelukah lidah ini untuk mengucapkan, “tidak tahu”? Padahal, jika itu yang meluncur dari lisan kita, bukanlah suatu aib ataupun cela, kalau memang muncul dari ketidaktahuan.

Yang demikian itu tak akan mengurangi kedudukan dan kehormatan kita, dan tidak pula merendahkannya, apalagi menjatuhkannya. Maka, tak ada gunanya merasa pintar di hadapan manusia. Tak ada faedahnya memaksa diri berkata dan berkomentar tentang hal yang tidak dikuasai. Hendaknya kita sadar diri. Biasakan selalu bercermin, siapa saya ini?

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori: Informasi

ARTIKEL TERBARU

Mengapa si Bodoh Tetap Bodoh?