Peran Media dan Terorisme


Media
Ilustrasi

Ketika teror menyerang, media sangat penting dalam memastikan masyarakat memiliki akses ke informasi yang sangat dibutuhkan. Namun, liputan terorisme terkadang tidak proporsional dan lebih sensasional, memberikan informasi tidak penting dan bahkan menciptakan masalah baru.

Sangat penting untuk memahami apa yang ada di balik liputan isu-isu besar seperti terorisme, motivasi media, tujuan kelompok teroris. Risiko sebenarnya adalah bahwa ketakutan dan kecurigaan akan mendorong gelombang baru nasionalisme dan populisme, dan bahwa kedamaian yang telah kita capai dengan susah payah akan dikorbankan.

Inilah sebabnya mengapa liputan media harus menghindari memupuk perpecahan, kebencian dan radikalisasi di sisi masyarakat dengan menyediakan informasi dan fakta yang dapat diverifikasi. Tidak jarang media malah mewartakan terorisme dengan memanfaatkan sinisme masyarakat terhadap agama atau golongan, memancing perselisihan.

Pers memberikan publisitas kepada teroris tetapi sering mengabaikan pesan propaganda yang disampaikan oleh teroris tentang tujuan mereka, sehingga mereduksi terorisme menjadi kejahatan atau sabotase belaka. Ada sebuah adagium “terorisme modern adalah terorisme media.”

Media tertarik dengan aksi teroris yang ekstrim bukan hanya karena kewajiban mereka untuk memberitakan peristiwa besar apapun tetapi juga karena, pada saat yang sama, dramaturgi terorisme menarik perhatian masyarakat, nilai konten berita. Teroris hari ini mengeksploitasi paradigma dan bertindak dengan cara yang akan menarik perhatian di seluruh dunia.

Sejauh menyangkut jurnalisme, hendaknya aksi terorisme tidak dieksploitasi secara berlebihan, terlalu sensasional. Seharusnya peran media yaitu mengedukasi masyarakat dan memberikan informasi yang selayaknya. Kebebasan pers harus disertai dengan hak publik untuk mendapatkan informasi tentang masalah-masalah yang menjadi perhatian publik, tidak menciptakan keresahan dan praduga.

Aksi teroris adalah tindakan yang dimaksudkan untuk menimbulkan teror, ketakutan, atau kekacauan di kalangan masyarakat. Penyebaran teror publik, ketakutan dan perasaan kekacauan sangat bergantung pada gambar dan pesan yang dibawa oleh pemberitaan media tentang aksi dan ancaman teroris. Kehadiran media massa di mana-mana di tingkat global sering kali melipatgandakan efek ini di luar proporsinya.

Media profesional harus meningkatkan kesadaran akan sifat sensitif pemberitaan media tentang terorisme, dan menghindari perlombaan berita demi konten marketing. Serta menghindari memperburuk melalui berita dan komentar yang menciptakan ketegangan sosial yang mendasari terorisme, dan khususnya menahan diri dari penyebaran ujaran kebencian.

Ketika media memberitakan aksi terorisme secara sensasional, teroris telah memanfaatkan dinamika ini dan mengambil tindakan tidak hanya untuk membuat korbannya menderita tetapi juga untuk menciptakan perhatian maksimum di seluruh dunia.

Yang harus dicatat, terorisme adalah metode, bukan karakteristik apriori dari seluruh kelompok. Terkadang aksi teror dianggap gagal karena tidak ada korban jiwa, tetapi tanpa disadari sebenarnya aksi terorisme berhasil ketika media menciptakan ketakutan, kebencian, dan perselisihan.

Selain itu, aktivitas terorisme tanpa disadari juga kerap dipromosikan oleh “jurnalisme awam”. Artinya, masyarakat nonprofesional merekam kejadian tersebut dengan kamera digital atau ponsel lalu mendistribusikan videonya melalui saluran informal, misalnya internet.

Faktanya, orang-orang yang terlibat dalam kegiatan teroris sendiri sudah mulai menerapkan dramaturgi media dan menggunakan sarana teknis yang diperlukan seperti kamera video, peralatan digital, atau internet.

Setiap aksi teroris tujuan utamanya adalah meneror masyarakat. Ketika aksi mereka direkam dan disebarluaskan, tujuan teroris telah tersampaikan. Produksi gambar atau video aksi teroris tentu saja secara langsung ditujukan pada hubungan masyarakat dan teror publik untuk mencapai tujuan mereka sendiri (teroris).

Ketika berurusan dengan liputan media tentang terorisme, penting juga untuk mempertimbangkan berbagai efek liputannya. Perlu diperjelas dalam pelaporan dan komunikasi media bahwa peristiwa dan reaksi dari peristiwa tersebut tidak berpotensi meningkatkan eskalasi teror.

Setiap aksi teror tentunya tidak sendirian, ada banyak orang di belakangnya (kelompok teroris). Kegiatan teroris diarahkan pada pemberdayaan pengikut mereka sendiri dan struktur kelompok mereka sendiri. Sangat penting, jurnalis dan media perlu mewaspadai fakta ini.

Penting untuk dicatat bahwa ada ketegangan atau kontradiksi yang melekat antara jurnalis dan teroris, jurnalis ingin beritanya diterbitkan dan teroris menginginkan publisitas dan menanamkan ketakutan.

Dalam proses melaporkan dan meliput berita-berita penting ini, jurnalis seringkali menanamkan atau memperburuk ketakutan dan teroris mencapai apa yang mereka inginkan: perhatian, publisitas dan intimidasi.

Ketika mewartakan aksi terorisme, media profesional tidak boleh memiliki urgensi yang ekstrim, norma dan nilai fundamental jurnalisme harus diutamakan. Dari perspektif pengembangan media, praktik yang baik adalah untuk memperkuat dan mempromosikan swa-regulasi, standar profesional, dan etika editorial.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

Referensi:
Media and terrorismMajelis Parlemen Dewan Eropa

The right to know and the duty to protect: terrorism and the mediaIMS

An Ethics of (not) Showing: Citizen Witnessing, Journalism and Visualizations of a Terror AttackTaylor & Francis Online

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
1
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Kategori: Informasi

ARTIKEL TERBARU

Peran Media dan Terorisme