Bukan K-Pop atau Drakor, Ini Yang Membuat Korea Selatan Patut Untuk Ditiru


Korea Selatan (Korsel) yang awalnya negara miskin berubah drastis menjadi negara filantropi (kaya raya). Kebangkitan Korsel tidak lepas dari kontinuitas sejarah dan homogenitas yang menonjol sebagai sebuah bangsa. Setelah dihancurkan oleh Perang Korea (1950-53), negara harus memulai lagi dari awal dan semua orang secara harfiah berada pada pijakan yang sama.

Setelah berakhirnya Perang Korea (1953), masyarakat Korsel semuanya hidup di bawah kemiskinan. Dalam kondisi seperti itu, mereka dihadapkan pada dua pilihan: Harus pasrah pada nasib atau melakukan sesuatu di luar batas (istimewa) untuk lepas dari kesengsaraan hidup.

Perang Korea (Korea Selatan vs Korea Utara) berlangsung selama tiga tahun di Semenanjung Korea, dimulai pada 25 Juni 1950 sampai gencatan senjata pada 27 Juli 1953. Namun dikarenakan belum adanya perjanjian damai, secara teknis konflik ini masih berlanjut sampai sekarang.

Perang Korea juga melibatkan pihak Barat dan Timur. Di kubu Korsel dibantu Amerika Serikat dan sekutu negara-negara di bawah bendera PBB. Sedangkan Korut dibantu saudaranya sesama komunis, China bersama dengan Uni Soviet (juga anggota PBB tetapi memilih mendukung Korea Utara).

Konflik dipicu oleh keputusan membagi Korea menjadi dua (Selatan dan Utara) tanpa melakukan konsultasi dengan pihak Korea sendiri (1945). Peserta perang utama adalah Korea Utara dan Korea Selatan, tetapi aktor utamanya adalah para sekutu dengan tujuan menduduki Korea.

Pada 27 Juli 1953, Perang Korea berakhir tanpa pemenang, bahkan berakhir kehancuran bagi keduanya. Korea yang tidak dianugerahi kekayaan sumber daya alam harus berjuang keras bangkit dari kehancuran. Korsel membangun negara mulai dari awal lagi, rasa egaliter yang kuat pada masyarakat mendorong mereka untuk ikut serta dalam mobilisasi sosial.

Pola pikir egaliter sangat penting karena hal ini mendorong persaingan di antara masyarakat, tentunya persaingan yang positif dan sehat. Egaliter mendorong masyarakat untuk mengikuti, ‘Jika orang lain bisa melakukannya, mengapa saya tidak?’ Orang-orang iri dengan kekayaan atau kesuksesan tetangga atau kenalan mereka, dan ini membuat mereka berusaha lebih keras untuk mengejar ketinggalan.

Semangat “bisa melakukan” orang Korea berakar pada pemikiran egaliter ini. Selain itu, pembangunan Korsel juga luar biasa berlandaskan pembangunan yang berkeadilan, dengan pengurangan kemiskinan yang cepat dan tidak ada peningkatan ketimpangan selama proses pembangunan.

Kebangkitan Korsel juga tidak lepas dari norma sosial-budaya yang menekankan ‘menyelamatkan wajah’ dan menjaga martabat, bersama dengan ‘budaya malu’ yang khas, telah memberikan kontribusi besar terhadap munculnya dan perluasan masyarakat pekerja keras yang rela berkorban.

Kepentingan pemimpin negara, pemerintah, rakyat dan pengusaha saling selaras, mengarah pada pertumbuhan ekonomi yang fenomenal dan tak tertandingi. Negara-negara yang sulit maju disebabkan mereka lebih mementingkan politik dan pengusaha (kaum elit), sedangkan rakyat dan negara yang dikorbankan.

Peran kuat pemerintah berdasarkan birokrasi meritokrasi adalah ciri khas keberhasilan Korsel, terutama dalam periode industrialisasi yang pesat, tetapi juga merupakan fitur menyeluruh dalam pembangunan Korsel secara keseluruhan yang berlanjut hingga hari ini.

Korsel tidak hanya berhasil mengatasi krisis dari waktu ke waktu, tetapi juga menjadi lebih kuat dan maju dari sebelumnya. Dan Korsel membuat banyak pilihan kebijakan yang benar ketika dihadapkan pada tantangan atau tugas besar. Bahkan ketika beberapa di antaranya ternyata gagal, pemerintah berada di jalur yang tepat untuk memperbaikinya.

Kunci utama keberhasilan Korsel bangkit dari kehancuran adalah modernisasi nasional yang dikampanyekan oleh pemimpin mereka, Park Chung-Hee. Park berasal dari keluarga petani miskin dan gaya kepemimpinannya dianggap membumi dan menyentuh akar rumput. Ia menekankan kepada rakyatnya harus selalu lebih unggul dari Korut, persaingan tidak boleh berakhir.

Masalah besar pemerintahan Korsel datang dari pihak sekutu yang selalu mengintervensi setiap kebijakan negara. Seperti ketika Korsel mengejar kebijakan penggerak ekspornya dan mengurangi impor, AS menolak kebijakan itu.

Park harus selalu waspada jangan sampai membuat AS murka, kemungkinan risiko penarikan militer AS di Korsel, komitmen keamanan pasukan AS di Korsel bergantung pada keputusan yang diambil di Washington DC, dan itu tidak boleh dianggap sebagai pemberian gratis.

Hal itu tidak membuat Park pasrah terus menerus bergantung kepada AS, negaranya harus mandiri. Hal ini mendorong Park untuk mempercepat pembangunan ekonomi dan mencoba memperoleh kemampuan industri termasuk pertahanan.

‘Modernisasi tanah air’, semboyan pemerintahan Park Chung-Hee, tepat waktu dan sesuai untuk bangsa, dan terbukti mampu membawa Korsel menuju peradaban baru yang lebih baik. Setiap kebijakan Park bukan hanya untuk jangka pendek, ia juga berpikir jauh untuk masa depan Korsel.

Istilah ‘modernisasi’ menyiratkan perpindahan dari ‘keterbelakangan’ ke modernitas, mewujudkan pembangunan ekonomi dan mengadopsi moda, sistem, dan institusi maju yang diperlukan untuk meningkatkan status bangsa agar dapat bergabung dengan barisan negara maju. Oleh karena itu, pemerintah meminta agar masyarakat tidak hanya mendukung visi dan kebijakan tetapi juga benar-benar berpartisipasi secara fisik dan semangat dalam kampanye ‘mobilisasi’.

Efektivitas memenangkan hati rakyat dan menghasilkan dukungan mobilisasi sosial bergantung pada kepemimpinan dan kinerja pemerintah, dan momentum pembangunan bangsa dipertahankan karena pemerintah dapat segera memberikan hasil yang konkret.

Park juga memperbaiki kualitas sumber daya manusia ke jenjang lebih tinggi. Semangat pendidikan dan ujian PNS yang kompetitif dan obyektif memungkinkan untuk merekrut dan mempertahankan birokrasi yang kompeten. Melalui kepemimpinan yang visioner dan upaya birokrasi yang efisien, rencana pembangunan ekonomi menjadi sangat efektif.

Singkatnya, apa yang terjadi di Korea adalah pelajaran berharga bagi kita. Pada tahun 1950-an, Korsel dipandang sebagai negara yang ‘putus asa’ dan berisiko tinggi menjadi negara terbelakang. Mereka bisa bangkit dan bahkan lebih maju dari sebelumnya karena memiliki pemimpin seorang pahlawan yang mementingkan kemakmuran negara dan rakyatnya.

Park berusaha melepaskan diri dari cengkraman ketergantungan kepada sekutu agar setiap kebijakannya tidak diintervensi. Ia juga berhasil mendapatkan hati seluruh rakyatnya untuk bersatu membangun negara. Jika rakyat terpecah maka kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.

Perang Korea membuka mata kita bahwa sejatinya setiap perang tidak pernah ada pemenangnya, rakyat menderita dan ribuan hingga jutaan nyawa menjadi korban. Sejatinya kedamaian bukan tidak adanya perang, tetapi tidak adanya kebencian.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
1
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Kategori: Informasi

ARTIKEL TERBARU

Bukan K-Pop atau Drakor, Ini Yang Membuat Korea Selatan Patut Untuk Ditiru