Bagaimana Media Beritakan Perang Israel-Palestina?


Palestina

Ketika konflik kekerasan yang merenggut banyak korban jiwa dari masyarakat sipil Palestina dan Israel, outlet berita di seluruh dunia membuat versi peristiwa yang akan terus memusatkan perhatian pada konten mereka. Bagaimanapun, perang adalah berita yang paling menarik yang menyedot banyak perhatian dunia.

Mengingat banyak orang yang peduli dengan situasi ini tidak memiliki pengetahuan, mereka sangat bergantung pada laporan media untuk membentuk paradigma. Media menjadi sarana doktrin bagi masyarakat di mana setiap berita bisa menjadi bias.

Masalahnya, kondisi perang tidak lepas dari kepentingan politik, jurnalis dihadapkan pada pilihan sulit. Sementara etika profesional jurnalistik menuntut objektivitas, di sisi lain mereka juga dituntut perusahaan untuk mengikuti aturan.

Selain itu, bahasa tidak memiliki mode netral. Begitu Anda melangkah ke dalam proses untuk mengatakan apa pun tentang kekerasan di Gaza, bahasa membuat Anda memihak. Pada dasarnya ada dua mode utama untuk melaporkan kekerasan geopolitik.

Mode pertama dan dominan adalah tipikal pemberitaan berita arus utama. Ini berjuang untuk objektivitas dengan menyajikan peristiwa faktual selektif tanpa konteks. Ini secara singkat merangkum peristiwa kompleks, tanpa mengalokasikan kesalahan atau tanggung jawab.

Ketika jurnalis mencoba tidak memihak dengan menyebut kedua pihak sama-sama pelaku kekerasan, tetapi dengan penyampaian yang salah akhirnya menimbulkan sinisme. Belum lagi dengan media yang secara terang-terangan mengkampanyekan keberpihakannnya.

Al Jazeera, media yang dibiayai pemerintah Qatar, adalah salah satu organisasi berita terbesar di dunia. Mereka menyediakan liputan berita yang luas melalui 80 biro di berbagai platform media dalam beberapa bahasa, terutama bahasa Arab dan Inggris. Mereka telah lama dikritik karena anti-semit dan sentimen anti-Israel.

Kontroversi mereka mulai dari jurnalisme miring hingga bias informasi, terutama berita seputar Timur Tengah. Al Jazeera memang dikenal media berita yang sangat kental mengkampanyekan anti-Israel, tetapi dengan cara kotor – framing, distorsi informasi, fake news.

Al Jazeera diblacklist oleh para debunkers dunia karena dianggap tidak bisa dipercaya. Komunitas Reddit pun memasukan Al Jazeera dalam daftar media tidak dipercaya. Bahkan kantor Al Jazeera di Gaza dibom Israel diduga telah direncanakan oleh militer Israel, dengan alibi gedung itu menjadi markas Hamas.

Ada juga media yang pro-Israel. Sebuah studi oleh organisasi Amerika Fairness and Accuracy in Reporting menemukan dari tiga jaringan utama Amerika CBS, ABC, dan NBC antara September 2000 hingga 17 Maret 2002. Ditemukan bahwa dari 150 kejadian ketika “pembalasan” dan variannya digunakan untuk menggambarkan serangan dalam konflik Israel / Palestina, 79 persen merujuk pada “pembalasan” Israel dan hanya 9 persen yang merujuk pada “pembalasan” Palestina.

Glasgow Media Group pernah melakukan studi pada liputan berita televisi BBC, mendokumentasikan perbedaan bahasa yang digunakan oleh jurnalis untuk orang Israel dan Palestina. Studi tersebut menemukan bahwa istilah-istilah seperti “kekejaman”, “pembunuhan brutal”, “pembunuhan massal”, “pembunuhan berdarah dingin yang biadab”, “hukuman mati tanpa pengadilan”, dan “pembantaian” digunakan untuk menggambarkan kematian orang Israel tetapi bukan kematian orang Palestina.

Kata “teroris” sering digunakan untuk menggambarkan orang Palestina. Namun, dalam laporan dari kelompok Israel yang mencoba untuk membom sebuah sekolah Palestina, anggota kelompok Israel disebut sebagai “ekstremis” tetapi tidak sebagai “teroris.”

Dalam studi tahun 2001 yang dilakukan oleh FAIR, hanya 4% dari laporan berita jaringan AS “tentang Gaza atau Tepi Barat yang menyebutkan bahwa ini adalah wilayah pendudukan”. Dalam pembaruan penelitian, jumlahnya dilaporkan turun menjadi hanya 2%, media yang menyebutkan bahwa Israel sedang memperjuangkan haknya.

Kurangnya verifikasi juga menjadi masalah. Etika dan standar jurnalistik membutuhkan wartawan untuk memverifikasi keakuratan faktual dari informasi yang mereka laporkan. Tanpa verifikasi, sebuah berita akan menjadi propaganda, dalam konteks konflik Israel-Palestina. Kurangnya verifikasi melibatkan publikasi informasi yang berpotensi tidak dapat diandalkan sebelum atau tanpa konfirmasi fakta independen, dan telah mengakibatkan berbagai skandal.

Jurnalisme mungkin memiliki bias karena berbagai alasan. Alasan paling umum adalah ancaman atau sensor. Ancaman atau penyensoran mengacu pada penggunaan intimidasi atau kekerasan untuk mempromosikan laporan yang menguntungkan dan untuk menghilangkan laporan yang tidak menguntungkan.

Dalam konflik Israel-Palestina, kedua belah pihak saling menuduh melakukan ancaman atau penyensoran sebagai penjelasan atas dugaan bias yang berpihak pada pihak lain. Untuk mendukung klaim ini, pendukung Israel menuduh adanya penculikan wartawan asing oleh orang Palestina, sementara pendukung Palestina menuduh adanya pembungkaman media dan penyitaan laporan oleh orang Israel.

Ketika bias media tidak nampak, masalah lainnya terjadi di mana media mewartakan konflik secara berlebihan dan sensasional demi nilai berita. Media adalah bisnis di mana sensasionalisme kerap dianggap sebagai kebutuhan.

Sensasionalisme mengacu pada klaim bahwa media memilih untuk melaporkan peristiwa dengan gaya bahasa mengejutkan atau melebih-lebihkan, dengan mengorbankan akurasi dan objektivitas, untuk meningkatkan peringkat pemirsa, pendengar, atau pembaca.

Selain itu, jurnalis mungkin sengaja atau tidak sengaja mengubah laporan karena ideologi politik, afiliasi nasional, antisemit, anti-Israel, anti-Arab, atau Islamofobia. Masalah ini tentunya akan menimbulkan distorsi berita di mana framing media bermain.

Ketika jurnalisme melakukan bias media, barang tentu ekosistem informasi akan menjadi keruh. Masalah diperumit oleh ruang media sosial di mana netizens menggambarkan konflik berdasarkan pandangan pribadi (asumsi). Belum lagi hoax, setiap ada kejadian besar pastinya banyak hoax yang beredar di ruang maya.

Untuk itulah Anda harus berhati-hati dalam menerima informasi seputar konflik Israel-Palestina. Banyak orang berlomba-lomba mencari faktanya masing-masing hanya untuk memuaskan nafsu akalnya. Sejatinya fakta bisa banyak, tetapi kebenarannya hanya ada satu. Diam karena ketidaktahuan lebih berguna daripada banyak berbicara mengikuti opini publik.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Kategori: Informasi

ARTIKEL TERBARU

Bagaimana Media Beritakan Perang Israel-Palestina?