Mitos Vs Fakta: Orang Korea Rasis?


Aktivis pro-pengungsi melakukan aksi protes mengecam rasisme terhadap pengungsi pada 16 September 2018 di Seoul, Korea Selatan. Foto: Jean Chung / Getty Images

Sebuah video viral memperlihatkan percakapan seorang pemuda Korea Selatan dengan wanita Indonesia di jejaring OmeTv. Video yang direkam itu lantas diupload di akun Youtube Indah Asmigianti.

Pria tersebut melontarkan hinaan terhadap lawan bicaranya (wanita asal Indonesia) dengan menyebut wajah yang jelek dan orang Korea Selatan derajatnya lebih tinggi daripada orang Indonesia.

Korea
Pria Korea Selatan menghina wanita Indonesia saat perbincangan di OmeTV.

“Tapi aku enggak suka, karena kamu Asia aku juga orang Asia. Enggak bagus saja gitu. Wajahmu jelek sekali,” kata pria Korea Selatan. “Aku tetap berpikir bahwa orang Korea lebih di atas daripada orang Indonesia. Banyak hal seperti GDP, ekonomi, segalanya,” katanya. Sontak, pernyataannya membuat warganet di Indonesia geram dan menyebut orang Korea memang terkenal rasis.

Lantas benarkah orang Korea identik dengan rasisme?

Para ahli percaya bahwa identitas nasional Korea yang kuat berasal dari tradisi panjang “seribu tahun garis keturunan leluhur yang ‘murni’, bahasa yang sama, adat istiadat, dan sejarah”. Dan diperkuat selama dan setelah penjajahan Jepang pada abad ke-20.

Upaya Jepang untuk menghapus bahasa, budaya dan sejarah Korea telah membangun etnosentrisme dan etno-nasionalisme sebagai pemicu bagi orang Korea untuk merebut kembali dan mempertahankan kedaulatan mereka. Sementara identitas nasional Korea secara historis didefinisikan melawan imperialisme Jepang, belakangan ini identitas Korea merespon pengaruh baru yang terkait dengan globalisasi.

Kolonialisme Jepang berperan penting dalam pembentukan identitas nasional Korea. Semenanjung Korea dikelilingi oleh kekuatan besar seperti China, Jepang, dan Rusia. Bahkan hingga hari ini, pengaruh tersebut masih sangat kuat. Rasa ancaman dirasa masih ada.

Korea Selatan sebenarnya telah mempromosikan multikulturalisme sebagai inisiatif kebijakan sejak tahun 2006, sehingga merupakan fenomena yang cukup baru di masyarakat Korea. Jika merujuk kembali ke sejarah, rasisme di Korea adalah pemikiran yang sangat orientalis.

Gerakan antirasisme di Amerika Serikat yang dikenal sebagai Black Lives Matter (BLM), yang dimulai pada 2013, telah berkembang pesat dalam jangkauan global, tetapi tidak begitu nyaring di Korea Selatan. Jika Anda membandingkan gerakan Black Lives Matter dengan gerakan Me Too atau #MeToo (gerakan melawan pelecehan seksual dan kekerasan seksual), gerakan #MeToo memiliki dampak yang jauh lebih besar di Korea Selatan. BLM sejauh ini tidak berdampak banyak di Korea Selatan, Jepang, atau China karena alasan yang berbeda.

Untuk Jepang dan Korea Selatan, homogenitas etnis masih sangat kental. Ada etnis minoritas, tapi populasinya sangat sedikit. Ada beberapa gerakan dari etnis minoritas di Jepang dan Korea, tetapi mereka memiliki suara yang sangat sedikit dan tidak terorganisir dengan baik tidak seperti BLM di AS.

Korea Selatan secara khusus tidak memiliki perlindungan hukum terhadap diskriminasi rasial. Secara keseluruhan, Korea meningkatkan perlindungan terhadap diskriminasi, terutama yang berkaitan dengan gender dan seksual minoritas. Sebaliknya, diskriminasi rasial tidak mendapat banyak perhatian dari masyarakat, media, ataupun pemerintah karena populasi etnis minoritas yang sangat kecil.

Misalnya, ada lebih dari 100.000 Muslim di Korea Selatan saat ini, tetapi hanya sedikit orang Korea yang tahu bahwa ada begitu banyak Muslim. Kebanyakan dari mereka tidak terlalu memahami budaya Muslim, dan kemungkinan mengasosiasikan mereka dengan teroris. Ini adalah kurangnya pemahaman dan ketidaktahuan, dan meskipun mereka ada, orang Korea mengabaikannya.

Komunitas kulit hitam di Korea bahkan lebih kecil, jadi mereka tidak melihatnya banyak mempengaruhi masyarakat Korea. Minoritas di Korea “dianggap” tidak ada karena jumlahnya yang sedikit. Ini menjadi alasan kenapa orang Korea “merasa” lebih superior.

Masalah diskriminasi rasial di Korea bukan rahasia umum. Akibatnya, adalah umum bagi orang untuk ditolak layanan di tempat usaha atau di taksi karena etnis mereka.

Menurut survei yang dilakukan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Korea terhadap penduduk asing di Korea Selatan pada tahun 2019, 68,4% responden menyatakan pernah mengalami diskriminasi rasial, dan banyak dari mereka mengatakan mengalaminya karena kemampuan bahasa Korea mereka yang buruk (62,3%), karena mereka bukan orang Korea (59,7%), atau karena ras mereka (44,7%). Artinya, 7 dari 10 orang asing mengaku mengalami diskriminasi rasial di Korea Selatan.

Seorang wanita Muslim melepas jilbabnya secara paksa oleh orang asing di jalan. Seorang pengungsi ditertawakan saat mengunjungi pusat komunitas lokal. Ini hanya sedikit contoh dari tindakan diskriminatif yang dialami warga asing di Korea Selatan. Survei juga mengungkap sekitar 56% mengatakan mereka (orang asing) telah diremehkan secara verbal, keluhan yang paling umum dilaporkan.

Keluhan umum berikutnya adalah gangguan privasi (46,9 persen), dipandang dengan cara yang tidak menyenangkan (43,1 persen), menghadapi kerugian di tempat kerja (37,4 persen) dan ditolak pekerjaan (28,9 persen). Sekitar 7% mengatakan mereka telah dilecehkan atau diserang secara seksual.

Rasisme dalam masyarakat Korea didasarkan pada sikap supremasi Korea yang meremehkan migran dari negara-negara yang lebih miskin, kata laporan itu. Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Korea, Young-ae Choi mendesak pemerintah memberlakukan undang-undang terhadap diskriminasi rasial, menandai Hari Internasional untuk Penghapusan Diskriminasi Rasial pada 21 Maret.

Pada tahun 2018, Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi Rasial menyatakan keprihatinan tentang meningkatnya diskriminasi rasial dan xenofobia di Korea dan meminta pemerintah Korea untuk mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menghentikan penyebaran diskriminasi rasial.

Bahkan saat wabah Covid-19 melanda Korea, diskriminasi rasial terasa sangat kental di mana jutaan pelajar internasional dan pekerja migran yang belum membeli asuransi kesehatan tidak diizinkan membeli masker wajah yang diproduksi oleh pemasok yang ditunjuk pemerintah.

Kesimpulan

Sikap rasis orang Korea memang benar adanya, berakar dari sejarah kolonialisme Jepang hingga menciptakan pemikiran yang sangat orientalis bagian dari identitas nasional. Sifat rasis orang Korea merupakan penilaian secara umum. Artinya, memang benar sebagian besar orang korea rasis, tetapi tidak semuanya.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Kategori: Informasi

ARTIKEL TERBARU

Mitos Vs Fakta: Orang Korea Rasis?