[Cek Fakta] Lebah Pembunuh Meneror di Tengah Wabah Covid-19


Lebah raksasa Asia Vespa Mandarinia (iStock)

Klaim: Bahaya lebah pembunuh di tengah wabah Covid-19 yang belum selesai. Lebah ini menyerang India, China, Turki, dan sekarang menuju Iran.

Belum lagi habis covid 19, kini Allah hantar lagi satu bala yang amat dasyat sekali. Kalau covid19 kita boleh keluar di jalan untuk mencari makan. Tapi dengan musibah yang baru ini adalah lebih bahaya lagi dari covid 19. Tidak boleh tinggal di luar (gigitan lebah pembunuh di katakan insect ini menyerang India, China, Turki dan sekarang menuju Iran, Kalau covid 19 sesiapa yg terjangkit bisa mendpt perawatan di RS ada yang hidup dan segelintir yang mati. Tapi gigitan lebah ni bila dia serang manusia terus akan menyebabkan kematian segera di tempat itu juga.

Campuran: Hoax dan Fakta


Analisis

Peringatan bahaya lebah pembunuh di tengah wabah Covid-19 yang belum selesai meneror jejaring sosial. Lebah pembunuh memang nyata, tetapi klaim sangat berlebihan mencari sensasi untuk meneror masyarakat. Lantas apa yang benar?

Lebah raksasa Asia yang dijuluki “lebah pembunuh” dikenal juga dengan nama Vespa Mandarinia. Lebah raksasa Asia dinamai demikian karena ia adalah lebah terbesar di dunia. Panjang tubuh ratu lebah bisa melebihi 5 cm, dengan lebar sayap yang bisa melebihi 7,6 cm. Lebah pekerja jantan dan betina jauh lebih kecil daripada ratu (panjang 3,5 hingga 3,9 cm).

Habitat V mandarinia cenderung hidup di pegunungan rendah dan/atau kawasan hutan. Spesies ini menciptakan sarang di bawah tanah dengan menggali, mengambil rongga yang digali oleh tikus, atau menemukan ruang yang cocok di dekat akar pinus yang membusuk. Kedalaman sarang mereka berkisar hingga 60 cm.

Lebah ini mendapat julukan “lebah pembunuh” karena merupakan satu-satunya spesies tawon eusocial yang melakukan serangan kelompok terhadap sarang lebah dan sarang tawon eusocial lainnya. Mereka membunuh secara sadis hingga korban dimutilasi.

Serangan kelompok lebah ini dapat dibagi menjadi tiga tahap. Yang pertama, disebut fase berburu, melibatkan pekerja soliter yang menunggu di dekat pintu masuk sarang yang diburu. Para pekerja ini menangkap mangsa saat terbang menggunakan mandibula mereka. Mangsa digigit sampai mati, dan bagian-bagian tubuh dikeluarkan dari mesosoma.

Lebah yang menyerang lalu kembali ke sarang mereka dan memberi makan larva mereka dari hasil buruan. Fase perburuan dapat berlanjut tanpa batas waktu, dan perkembangan ke fase selanjutnya tergantung pada jarak antara sarang V mandarinia dan koloni mangsa.

Fase kedua disebut fase pembantaian. Fase ini melibatkan 2 sampai 50 ekor V mandarinia. Lebah ini fokus menyerang pada sarang tunggal atau sarang yang sudah ditandai dengan bahan kimia yang disekresikan oleh lebah pekerja. Para penyerang biasanya tinggal di dekat pintu masuk sarang target dan membunuh mangsa yang menyerang balik.

Mayat mangsa diabaikan selama fase pembantaian. Waktu fase pembantaian sangat panjang, musuh terkadang akan mati kelaparan. Panjang fase ini bervariasi dan tergantung pada jumlah lebah target dan intensitas pertahanannya.

Setelah pertahanan berhenti, fase pendudukan dimulai. V mandarinia menjadi teritorial, dan penjaga akan mengancam hewan lain yang mendekati sarang yang telah diduduki. Pekerja sering akan menghabiskan malam di sarang yang diduduki bukan di sarang koloni mereka sendiri.

Lebah pembunuh adalah predator lebah madu. Lebah madu Jepang (tidak seperti beberapa spesies lebah lainnya) telah berevolusi dalam pertahanan terhadap agresi V mandarinia. Lebih dari 500 lebah madu dapat mengepung lebah pembunuh individu yang mengintai. Dengan demikian, lebah madu Jepang dapat membunuh pengintai sebelum melaporkan lokasi sarang target kepada teman-temannya.

V mandarinia adalah omnivora pemakan serangga. Lebah ini juga sering makan getah pohon, buah-buahan lunak dengan kadar gula tinggi juga dimakan. Lebah pekerja dewasa tidak bisa mencerna makanan padat, mereka hidup sangat bergantung pada getah dan liur larva.

Baru-baru ini lebah pembunuh telah mencapai Amerika Serikat. Hal ini menjadi perhatian para ahli karena risiko ancaman bagi lebah lokal. Dua orang ahli entomologi Universitas Arizona, Wendy Moore dan Katy Prudic, memaparkan risiko lebah pembunuh bagi lebah madu dan manusia.

V mandarinia berpesta dengan bayi lebah madu yang tak berdaya setelah membantai lebah dewasa. Ini adalah serangan mengerikan dengan potongan-potongan tubuh lebah di mana-mana. V mandarinia tidak seperti lebah madu yang memanen serbuk sari tanaman untuk memberi makan anak mereka, lebah ini memanen tubuh lebah madu untuk memberi makan anak mereka.

Lebah raksasa Asia memulai serangan massal terhadap sarang lebah madu di Lembah Hase di Prefektur Nagano, Jepang. Kredit: Alastair Macewen Getty Images
Apakah lebah Vespa Mandarinia menyerang manusia?

Pada 2013, V mandarinia dilaporkan membunuh 42 orang di China dan melukai lebih dari 1.500 orang dengan sengatan berbisa mereka. Lebah raksasa ini membawa racun yang menghancurkan sel darah merah, yang dapat menyebabkan gagal ginjal dan kematian, kata Justin O. Schmidt, ahli entomologi di Southwest Biological Institute di Tucson, Arizona.

Lebah raksasa tertarik pada keringat manusia, alkohol, dan aroma manis. Mereka sangat sensitif ketika hewan atau orang berlari. Wang Xue, direktur unit perawatan intensif di Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Xi’an Jiaotong dan seorang ahli unit bimbingan pengobatan sengatan lebah, memperingatkan dalam rilis pemerintah Shaanxi bahwa lebah ini cenderung agresif dan lebih aktif selama September dan Oktober, musim kawin mereka. Lebah ini tidak masuk ke hibernasi sampai Desember, menurut otoritas pemerintah setempat.

Jepang juga akrab dengan sengatan lebah raksasa Asia. Sekitar 30 hingga 50 kematian dilaporkan setiap tahun di Jepang akibat serangan semacam itu, menurut penelitian Jepang. Sebagian besar kematian disebabkan oleh alergi terhadap racun, kata Shunichi Makino, direktur Pusat Penelitian Kehutanan dan Lembaga Penelitian Hasil Hutan Hokkaido di Jepang.

Cara menghindari serangan lebah ini jangan panik atau menjerit. Diam jangan bergerak atau berjalan dengan tenang. Seorang korban mengatakan kepada media lokal bahwa “semakin banyak Anda berlari, semakin mereka ingin mengejar Anda.” Beberapa korban mengaku dikejar hingga sekitar 200 meter oleh segerombolan lebah raksasa.

Meskipun lebah madu lebih beracun dari lebah raksasa, lebah madu hanya menyengat sekali. Lebah raksasa menjadi lebih berbahaya karena bisa menyengat berkali-kali. Itu artinya lebah raksasa bisa menghasilkan 10 kali lebih banyak racun saat menyerang manusia.

Penting untuk diingat, seperti tawon lainnya, umumnya lebah raksasa tidak akan menyerang kecuali merasa terganggu. Terutama ketika ada serangga keluar mencari makan, mereka cenderung mengabaikan manusia. Sebagian besar kematian akibat sengatan lebah raksasa terjadi karena orang-orang mengganggu sarang lebah.

Apakah selama wabah Covid-19 (2020) ada kasus serangan lebah raksasa pada manusia?

Kabar potensi bahaya V mandarinia sebenarnya terjadi di Amerika Serikat, tetapi tidak ada laporan korban manusia. V mandarinia kembali menjadi pemberitaan pada awal Mei 2020. Namun, yang menjadi heboh karena lebah ini terlihat di Amerika Utara, sebelumnya para ahli menyatakan lebah ini tidak mungkin bisa mencapai AS.

Ketakutan terbesar di AS bukan serangan terhadap manusia, tetapi lebah raksasa bisa mengancam populasi lebah madu lokal yang bisa berakibat produksi madu menurun. Berdasarkan laporan awal, lebah ini terlihat di Negara Bagian Washington dan Pulau Vancouver yang berdekatan.

Penampakan lebah raksasa pertama di AS yang dikonfirmasi adalah spesimen mati yang ditemukan di Washington Desember tahun lalu. Tetapi beberapa lebah ini sebelumnya telah terlihat di Pulau Vancouver di British Columbia pada akhir musim panas dan musim gugur 2019.⁠

Potensi bahaya bagi populasi lebah madu AS dan Eropa karena tidak ada evolusi pertahanan, tidak seperti di Asia yang sering terjadi serangan. Jika V mandarinia menjadi mapan di AS, itu akan menjadi pemicu masalah bagi populasi lebah madu Eropa yang vital. Sejak 2012, peternak lebah telah mengalami kerugian tahunan dalam sarang mulai dari 29 hingga 45 persen.

Kesimpulan

Fakta: Lebah pembunuh adalah nyata. Dengan ukuran tubuh yang besar dan racun yang mematikan, lebah ini telah membunuh banyak manusia di pelbagai negara.

Hoax: Lebah pembunuh menjadi musibah baru di tengah wabah Covid-19.

Lebah raksasa Asia atau Vespa Mandarinia dijuluki sebagai lebah pembunuh karena mereka menyerang lebah madu secara sadis untuk dijadikan makanan. Lebah ini bisa menyerang manusia hingga meninggal, tetapi selama 2020 tidak ada laporan serangan terhadap manusia. Kabar terbaru lebah raksasa muncul di Amerika Serikat, mengancam populasi lebah madu.

Pesan peringatan lebah pembunuh merupakan ancaman baru di tengah wabah Covid-19 hanya sensasi untuk menakuti masyarakat. V mandarinia sudah hidup sejak lama di Asia. Lebah raksasa menyerang manusia dengan pola yang sama seperti tawon atau lebah lainnya, mereka akan menyerang jika sarangnya diganggu. Lebah ini cenderung agresif dan lebih aktif selama musim kawin, September dan Oktober.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Kategori: Fakta

ARTIKEL TERBARU

[Cek Fakta] Lebah Pembunuh Meneror di Tengah Wabah Covid-19