[Cek Fakta] Di Tengah Pandemi Covid-19, Muncul Virus Apokaliptik Yang Lebih Berbahaya


Klaim: Covid-19 belum berakhir,muncul virus flu burung apokaliptik yang lebih berbahaya.

Menurut laporan terbaru tentang virus apokaliptik dan pernyataan dari Michael Greger, penulis buku terlaris How Not To Die, mengklaim bahwa ayam dapat menjadi penyebab pandemi mematikan berikutnya.

Dr Michael Greger mengatakan, sementara COVID-19 telah mengguncang keseimbangan ekonomi dan sosial dunia secara keseluruhan, jenis virus baru yang berasal dari peternakan ayam dapat menyebabkan pandemi yang lebih berbahaya dari COVID-19.

Bukan hanya itu, ilmuwan menambahkan, virus apokalitpik bisa berpotensi memusnahkan setengah populasi dunia. Diskusi tentang kemungkinan adanya virus baru dibahas dalam buku baru Dr Michael Greger, How To Survive A Pandemic, di mana ia memperingatkan bahwa ‘selama ada unggas, akan ada pandemi’.

Ilmuwan menunjukkan alasan-alasan berikut sebagai bukti pecahnya pandemi baru:

– Hubungan dekat manusia dengan hewan dapat menyebabkan jenis epidemi terburuk.
– Beberapa penyakit lain seperti COVID-19, flu babi, dan lain-lain, telah ditularkan dari hewan.
– Flu burung H5N1 yang muncul di China pada 1997, terjadi lagi pada 2003 dan 2009 di luar China, yang menunjukkan bahwa virus itu tidak sepenuhnya hilang dan kemungkinan menjadi wabahnya tinggi.
– Peternakan unggas di mana ayam diternakkan secara massal adalah tempat berkembang biaknya penyakit, karena ayam dibuat untuk hidup di ruang yang sempit dan tingkat amonia yang tinggi tertinggal di kandang yang jarang dibersihkan.
– Produksi massal, penggunaan antiviral manusia dan kurangnya kebersihan, tidak diragukan lagi dapat menimbulkan keprihatinan.

Produksi massal harus dihentikan dan beralih mengonsumsi makanan nabati akan sangat ideal.

Selain mengatakan wabah dapat menyebabkan kematian hampir setengah populasi dunia, Dr Greger juga menyarankan hal-hal berikut:

– Ada kebutuhan mendesak untuk beralih dari produksi massal ayam menjadi kawanan kecil yang dibesarkan di ruang yang luas, memiliki ventilasi dan memiliki akses keluar ruangan.
– Produksi telur yang tidak alami dan praktik pengembangbiakan juga harus diakhiri.
– Ada kebutuhan untuk ‘memutus’ hubungan virus antara ayam dan manusia.
– Hindari penggunaan antivirus manusia (penggunaan obat antivirus pada unggas disalahkan karena jenis flu burung yang kebal terhadap obat).
– Ada kebutuhan untuk mengikuti langkah-langkah kebersihan yang lebih baik.

Ilmuwan menyimpulkan, meskipun peringatan dapat membantu sampai batas waktu tertentu, tetapi itu mungkin tidak cukup untuk mencegah timbulnya pandemi baru.

“Semakin banyak hewan berdiam diri bersama-sama, semakin banyak virus yang berputar di roda roulette saat berjudi untuk jackpot pandemi yang mungkin tersembunyi di lapisan paru-paru ayam,” kata Dr Michael Greger, dilansir Boldsky, Kamis 11 Juni 2020.

Dia menekankan pentingnya mengadopsi vegetarian atau gaya hidup mengonsumsi makanan nabati dan menghindari konsumsi daging dan susu. Menurutnya, itu tidak hanya dapat mengurangi risiko pandemi mematikan, tetapi secara alami juga baik untuk kesehatan menyeluruh seseorang.

Sumber klaim: Viva.co.id


CLICKBAIT dan KONTROVERSI


Analisis

Kabar tentang bahaya virus flu burung (H5N1) apokaliptik ramai diberitakan media berdasarkan dari sumber tunggal, Dr Michael Greger. Peringatan itu sebenarnya sudah bereder sejak 2006, dalam buku yang ditulis Greger dengan judul “Bird flu: A virus of our own hatching.” Dengan memanfaatkan pandemi Covid-19, Greger kembali meluncurkan buku baru “How To Survive A Pandemic”.

Buku yang ditulis Greger membahas topik virus flu burung secara mendalam yang mudah dipahami oleh masyarakat awam. Dengan bahasa percakapan sehari-hari, ia menggambarkan beberapa prinsip kesehatan ilmiah dan publik dapat memahami ancaman yang berkembang dari pandemi influenza.

Buku itu dibagi menjadi lima bagian: Pengantar biologi dan sejarah influenza, diskusi tentang faktor sosial dan ekonomi yang bertanggung jawab atas meningkatnya ancaman virus hewan terhadap populasi manusia, ringkasan langkah-langkah kesiapsiagaan pandemi yang dilakukan sebagai tanggapan terhadap kemunculan H5N1, tentang langkah-langkah yang dapat dilakukan individu untuk mempersiapkan pandemi influenza, dan yang terakhir, komentar tentang pencegahan pandemi di masa depan.

Buku Greger memberikan ringkasan komprehensif dari banyak faktor yang penting untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat global semacam ini dan menyajikannya dengan cara yang lebih menarik dan informatif bagi para ilmuwan dan orang awam, terlepas dari keakraban mereka dengan H5N1.

Kontroversi Michael Greger

Michael Greger adalah seorang dokter yang bekerja untuk Masyarakat Kemanusiaan Amerika Serikat. Beberapa ahli merekomendasikan buku Greger karena dianggap dapat mengedukasi masyarakat tentang informasi flu burung.

Namun, Greger menjadi sosok kontroversi karena ia kerap mempromosikan hidup vegan (menghindari apapun yang berasal dari hewan). Greger dianggap vegan fanatik di mana ia sangat menentang konsumsi daging hewan. Tujuan dari klaim Greger adalah kampanye vegan untuk mengajak masyarakat agar berhenti mengonsumsi daging ayam dan beralih ke makanan nabati.

Produksi massal harus dihentikan dan beralih mengonsumsi makanan nabati akan sangat ideal.

Organisasi kemanusiaan AS, Humane Watch, secara terbuka menentang Michael Greger dan menganggapnya sebagai propaganda vegan. Greger adalah seorang aktivis vegan dengan branding veganisme untuk kesehatan manusia yang lebih baik. Bahkan Greger pernah membandingkan daging mentah dan granat tangan.

“Membandingkan daging mentah dengan granat tangan, karena kontaminasi bakteri. Jika Anda tidak menanganinya dengan aman, itu seperti menarik pin. Apakah kita menjual granat tangan di toko grosir? Ini adalah perbandingan yang konyol, dan mengabaikan fakta bahwa makanan nabati dapat menjadi sumber kontaminasi juga, tulis humanewatch.org.

Michael Greger

Mengingat Greger adalah aktivis vegan dan kerap melemparkan propaganda agar masyarakat menghindari konsumsi daging, ada kemungkinan setiap hasil penelitian dimanfaatkan untuk agenda terselubung kepentingan veganisme. Vegan lebih ekstrim dari vegetarian.

Berbeda dengan vegetarian yang masih minum susu dan makan telur, vegan menolak makanan yang berasal dari hewan tanpa terkecuali, bahkan mereka menentang produk yang berasal dari hewan. Maka tidak heran banyak bermunculan veganisme garis keras mengatasnamakan pecinta hewan.

Tidak ada yang salah dengan menjadi veganisme, tetapi vegan garis keras memaksakan semua orang untuk menjadi vegan, seolah veganisme adalah pilihan hidup yang ‘paling benar’ (memaksakan kehendak). Nyatanya manusia sangat membutuhkan daging, telur dan susu hewan untuk asupan kalsium, protein, omega 3, zat besi, dan vitamin B 12.

Greger bukanlah seorang ilmuwan PhD, bahkan ia bukan ahli gizi atau ahli diet. Ia adalah seorang dokter umum yang terkenal berkat acara Oprah Winfrey ketika ia menjadi saksi ahli dalam kasus Penyakit Sapi Gila. Dia mungkin mengambil jurusan di bidang nutrisi klinis, tetapi itu tidak membuatnya menjadi ahli di bidang nutrisi.

Greger mengklaim bahwa dia tidak mengambil keuntungan uang sepeser pun dari karyanya, dan semua hasil disumbangkan untuk amal. Pengakuan itu cukup masuk akal jika melihat dari situs Nutritionfacts.org yang dibuat oleh Greger. Situs itu memang untuk amal.

Tetapi dari popularitas situs itu membantu Greger berbicara lebih banyak tentang klaimnya, menulis lebih banyak buku, dan membuat lebih banyak video, menjadi terkenal, dan akhirnya menghasilkan lebih banyak uang untuk dirinya sendiri.

Buku “Bird flu: A virus of our own hatching” tidak dipungkiri banyak mendapat apresisasi dari pelbagai pihak, bahkan direkomendasikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC). Buku ini sangat cocok bagi masyarakat awam untuk memahami tentang flu burung. Tetapi buku “Dr Michael Greger,  How To Survive A Pandemic,” sangat kental dengan kepentingan kampanye veganisme.

Dia menekankan pentingnya mengadopsi vegetarian atau gaya hidup mengonsumsi makanan nabati dan menghindari konsumsi daging dan susu. Menurutnya, itu tidak hanya dapat mengurangi risiko pandemi mematikan, tetapi secara alami juga baik untuk kesehatan menyeluruh seseorang.
Kesimpulan

Kabar bahwa di tengah pandemi Covid-19 muncul virus apokaliptik yang lebih berbahaya adalah clickbait media untuk meneror masyarakat. Klaim flu burung apokaliptik hanya peringatan dari Michael Greger, merujuk pada buku sebelumnya yang diterbitkan pada 2006, “Bird flu: A virus of our own hatching.” Tidak ada catatan resmi tentang “virus apokaliptik” dari seluruh otoritas kesehatan dunia. Apokaliptik menggambarkan akan kehancuran dunia, sangat fantastis untuk nilai berita dan menakuti masyarakat.

Bahaya flu burung atau H5N1 memang tidak boleh dianggap enteng. Namun, jika informasi H5N1 mengambil rujukan dari Michael Greger  yang merupakan aktivis vegan, itu tidak akan objektif. Walau bagaimanapun, vegan fanatik  menyampaikan informasi tentang H5N1 tujuan utamanya untuk mengajak masyarakat berhenti mengonsumsi daging dan telur ayam (menjadi vegan).

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

Artikel Lainnya

Kategori: Kesehatan

Artikel Terbaru

[Cek Fakta] Di Tengah Pandemi Covid-19, Muncul Virus Apokaliptik Yang Lebih Berbahaya