Wabah Infodemik Sama Bahayanya Dengan COVID-19


Kesalahan informasi dan teori konspirasi tentang Covid-19 telah menyebar dengan cepat secara online, menciptakan apa yang oleh beberapa ahli disebut “infodemik”. Dunia bukan hanya fokus memerangi pandemi Covid-19, wabah infodemik menjadi masalah serius yang sama bahayanya dengan corona.

“Kami bukan hanya memerangi pandemi, kita juga sedang berjuang menghadapi infodemik,” kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). WHO menjelaskan bahwa infodemik adalah informasi yang berlebihan tentang suatu masalah, hingga membuatnya sulit untuk mengidentifikasi solusinya.

Masalah ini dapat menyebarkan informasi salah, disinformasi, dan rumor selama keadaan darurat kesehatan. Infodemik dapat menghambat informasi yang akurat kepada masyarakat hingga menciptakan kebingungan dan ketidakpercayaan akan informasi.

Dalam masa krisis, filter ekosistem informasi menjadi sangat penting di mana protokol lockdown dan “stay at home” yang diterapkan banyak negara mengakibatkan penggunaan internet meningkat tajam. Masih banyak masyarakat secara sembarangan menerima informasi, akibatnya mendorong masalah baru.

Platform media sosial menjadi sarana subur infodemik di mana setiap orang secara bebas membagikan informasi dari sumber yang tidak jelas. Setiap orang berlomba-lomba menciptakan dan membagikan pelbagai informasi seputar Covid-19 tanpa filter.

Penelitian oleh Oxford’s Reuters Institute mengungkapkan penyebaran 225 klaim palsu atau menyesatkan tentang coronavirus ditemukan 88% klaim muncul di platform media sosial, 9% di televisi dan 8% di outlet berita. Hampir 30% orang dewasa AS percaya Covid-19 dikembangkan di laboratorium, menurut survei oleh Pew Research Center.

Sementara otoritas media dunia dan para ilmuwan berjuang keras menangani pasien dan mengembangkan obat serta vaksin corona baru, infodemik menjadi lebih berbahaya dari coronavirus. Infodemik dapat menginfeksi teman, keluarga, dan banyak orang di jejaring sosial.

Infodemik awalnya menginfeksi otak hingga akhirnya kesalahan fatal terjadi. Siapa saja bisa menyebarkannya, mungkin Anda juga tidak sadar pernah menyebarkannya melalui umpan media sosial. Pandemi corona menawarkan lingkungan yang subur bagi informasi sesat.

Ini bukan fenomena baru. Infodemik tidak dimulai saat pandemi corona. Ini masalah klasik di mana setiap ada kejadian besar maka informasi sesat akan mengikutinya. Sejatinya hoax sifatnya fluktuasi mengikuti apa yang sedang ramai diperbincangkan.

Selain situs-situs clickbait yang bertujuan untuk mendapat keuntungan iklan dari menyebarkan informasi palsu dan sensasional tentang corona, para aktor politik dengan kepentingannya menabur kekacauan informasi juga memasuki arena.

Di saat jutaan orang dianjurkan untuk berada di dalam rumah untuk menghentikan penyebaran virus corona, muncul masalah baru di mana infodemik menyebar melalui internet dan platform media sosial. Ada miliaran posting di jejaring sosial terkait Covid-19 atau coronavirus, pastinya sangat sulit untuk dicegah.

Contoh kesalahan informasi yang menyebar di jejaring sosial seperti penularan, pencegahan, kebersihan, pembuatan dan penggunaan disinfektan, dan makanan untuk pencegahan banyak beredar. Infodemik dapat menciptakan kecemasan dan kewaspadaan berlebihan, seperti kasus penolakan jenazah Covid-19 di berbagai daerah.

Informasi sesat tidak hanya mengarah pada kepercayaan yang salah, juga bisa menelan korban jiwa dan menyebabkan kerusuhan sosial. Efek berbahaya dari penyebaran disinformasi tentang virus corona dapat berupa banalitas, penolakan, dan kepanikan berlebihan.

Di Korea Selatan, misalnya, di mana sebuah sekte agama beranggotakan 200.000 orang menyangkal keberadaan coronavirus dan berasumsi bahwa itu hanyalah konspirasi pemerintah. Hal itu secara signifikan akhirnya berkontribusi besar pada penyebaran virus, yang mengakibatkan banyak orang meninggal.

Lee Man-hee, pendiri Gereja Shincheonji Yesus, berlutut di lantai saat ia meminta maaf atas peran gerejanya dalam menyebarkan coronavirus pada konferensi pers di Seoul pada 2 Maret. © Yonhap / Kyodo

Contoh yang paling ekstrem terjadi di Iran di mana ketidakpercayaan adanya virus corona disponsori oleh pemerintah. Pemerintah Iran menyangkal keberadaan virus corona dan menuduh bahwa itu hanya berita yang didramatisir oleh Amerika Serikat.

Akibat dari teori konspirasi itu, Iran sempat menjadi salah satu negara dengan kasus corona terbesar di luar China, dengan 14.000 kasus dan 800 orang meninggal dunia, jumlah sebenarnya bisa lebih besar. Ketidakkonsistenan dalam informasi jumlah positif dan meninggal dunia menimbulkan kecurigaan besar bahwa kasus corona di Iran jauh lebih besar dari yang dilaporkan.

Pada saat kita harus bergulat mendapatkan informasi tentang corona sebanyak mungkin, publik sangat rentan terhadap klaim palsu dan terkadang berbahaya, yang kemudian diteruskan ke orang lain. Miliaran orang bebas untuk secara terbuka membagikan pendapat mereka tentang COVID-19 di berbagai platform jejaring sosial.

Apa yang harus dilakukan?

Pencegahan infodemik sebenarnya cukup mudah, tetapi masalahnya tidak semua orang mau menerimanya. Setiap informasi tentang Covid-19 harus berasal dari sumber resmi otoritas kesehatan dunia, seperti WHO dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).

Yang harus dicatat, banyak individu dengan status ahli memberikan informasi, tetapi sebagian besar hanya berdasarkan hipotesis atau dugaan. Bahkan seseorang yang bukan ahlinya sering dijadikan rujukan informasi virus corona.

Baca juga: Coronavirus (COVID-19): Dampak Buruk dan Peran Media Sosial Selama Pandemi

Tidak ada platform yang sempurna, semua dikembalikan kepada diri masing-masing. Ketika Anda menjelajah media sosial hanya menggunakan hati (perasaan) maka Anda akan mudah tersesat. Penyebab utama seseorang masuk perangkap klaim palsu karena akalnya tidak digunakan, hanya mengandalkan hatinya – Kebenaran berdasarkan selera hati.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Kategori: Informasi

ARTIKEL TERBARU

Wabah Infodemik Sama Bahayanya Dengan COVID-19