Para Ilmuwan China Sudah Memprediksi Covid-19


Sebuah pertanyaan besar bagaimana Covid-19 bisa tiba-tiba muncul di Wuhan, China pada Desember 2019. Apakah virus ini sejenis hantu tiba-tiba muncul tanpa diketahui? Pertanyaan ini bagi masyarakat awam tentunya menjadi misteri karena tidak mengetahui benang merahnya.

Sejatinya Covid-19 bukan virus baru dan kemunculannya bisa diprediksi jauh sebelumnya. Bahkan para ilmuwan China pernah menerbitkan jurnal studi pada Maret 2019 tentang kemungkinan kemunculan wabah coronavirus di masa akan datang dengan mengacu pada kasus SARS (2002) dan MERS (2012).

Sebuah jurnal studi yang diterbitkan di MDPI pada 2 Maret 2019, para ilmuwan China bukan hanya memprediksi tetapi mereka juga sudah melakukan investigasi coronavirus pada kelelawar untuk mendeteksi tanda-tanda peringatan dini, untuk meminimalkan dampak wabah jika muncul di China.

Itu artinya para ilmuwan setidaknya sejak awal tahun 2019 sudah mengetahui potensi wabah coronavirus akan terjadi di China. Bagi masyarakat awam hal ini tentunya kejutan besar, tetapi bagi komunitas ilmiah hal itu tidak aneh dan sudah lumrah. Berikut rangkuman isi jurnalnya (02 Maret 2019), dengan judul “Virus Kelelawar di Tiongkok“.

Selama dua dekade terakhir, tiga coronavirus zoonisis telah diidentifikasi sebagai penyebab wabah penyakit berskala besar – Sindrom Pernapasan Akut Parah 2002 (SARS), Sindrom Pernapasan Timur Tengah 2012 (Mers), dan Sindrom Diare Akut Babi 2017 (SADS). Mereka memiliki karakteristik yang sama, seperti semua sangat patogen terhadap manusia dan hewan, agen inang berasal dari kelelawar, dan dua di antaranya berasal dari China.

Dengan melihat karakteristik ketiga coronavirus itu, sangat mungkin bahwa wabah coronavirus yang menyerupai SARS dan MERS akan muncul di masa akan datang di China berasal dari kelelawar. Oleh karena itu para ilmuwan China telah mempelajari dan menginvestigasi tentang keanekaragaman virus, inang reservoir, dan distribusi wilayah geografis dari coronavirus kelelawar di Tiongkok, serta memprediksi hotspot virus dan potensi penularan lintas spesiesnya.

Coronavirus menyebabkan penyakit pada hewan liar dan peliharaan serta menularkan ke manusia hingga menjadi wabah. Mengapa hanya kelelawar yang diwaspadai? Kelelawar adalah satu-satunya mamalia dengan kemampuan terbang bertenaga, yang memungkinkan mereka memiliki rentang migrasi yang lebih panjang dibanding dengan mamalia darat.

Selain itu, kelelawar juga diketahui terkait dengan beberapa penyakit yang menginfeksi manusia yang sangat patogen, seperti Iysaavirus kelelawar (virus rabies), henipavirus (virus Nipah dan virus Hendra), coronavirus (SARS, MERS, dan SADS), dan filovirus (virus Marburg, virus Ebola, dan virus Mengla), semuanya merupakan ancaman besar bagi kesehatan manusia.

Mengapa China yang berpotensi besar munculnya coronavirus baru?

Dua kasus coronavirus sebelumnya yang menjadi wabah bersumber di China. China adalah wilayah terbesar ketiga dan juga negara terpadat di dunia (1,4 milyar penduduk). Wabah SARS pertama kali muncul di China pada 2002 dan dinyatakan hilang pada 2003. Pada tahun 2005, dua kelompok Cina independen melaporkan kelelawar pertama yang berhubungan dengan SARS yang terkait erat dengan manusia, menyiratkan asal kelelawar yang terakhir. Pada November 2012, kasus SARS kembali muncul di kota Foshan, Provinsi Guangdong, Cina.

Distribusi geografis coronavirus (CoVs) dan host kelelawar yang sesuai di Cina. Setiap kotak merah mewakili satu sampel positif CoV yang ditemukan dalam spesies kelelawar tertentu. Satu dot matrix diambil untuk setiap provinsi di mana sampel positif CoV telah dilaporkan. Provinsi Guangdong, tempat SARS dan SADS dimulai, dilingkari merah. Skala kecil dari spesies kelelawar dan spesies virus diindikasikan.

Sejak saat itu, banyak kelelawar yang diisolasi terindentifikasi coronavirus di China. Tetapi berdasarkan hasil beberapa studi mengungkapkan bahwa berbagai SARSr-CoV yang bisa menularkan pada manusia masih beredar di antara kelelawar di Cina, menyoroti kemungkinan wabah penyakit lain yang mirip SARS.

Untuk memprediksi coronavirus (CoV) berikutnya yang akan menyebabkan wabah virus di masa mendatang, para peneliti mencantumkan faktor umum yang mungkin berkontribusi terhadap wabah ini. Pertama, kelelawar memiliki sejumlah besar CoV yang sangat beragam. Kedua, spesies kelelawar tersebar luas dan hidup dekat dengan manusia. Ketiga, virus ini bersifat patogen dan menular.

Berdasarkan jurnal studi itu (2 maret 2019), prediksi para ilmuwan akan kemunculan Covid-19 di China sangat masuk akal berdasarkan investigasi dan studi ilmiah, bukan ramalan. Itulah kenapa komunitas ilmiah tidak merasa aneh dengan prediksi itu.

Saya memberikan jurnal studi tersebut kepada seorang dokter untuk dipelajari. “Jadi kelelawar memang hospes utama untuk virus corona. Di manusia juga sudah ada. Dan sudah diprediksi seperti itu bukan hal yang aneh sama sekali,” kata dr Ronny kepada Sekoci Hoaxes (03/04).

“Seperti kasus Ebola yang sudah diketahui sejak tahun 1976, tetapi baru jadi person to person infection tahun 2000-an, baru dunia kalang kabut,” tambahnya.

Hal ini menjadi heboh karena keawaman masyarakat tentang cara kerja ilmu pengetahuan. Seperti para pengguna Twitter yang heboh membahas jurnal ini seolah Covid-19 adalah virus baru yang sudah diketahui para ilmuwan sebelum kemunculannya di Wuhan, bahkan bisa saja berasumsi bahwa Covid-19 adalah ciptaan manusia.

Sumber: Twitter

Bahkan jika jurnal studi tersebut diberitakan oleh media, bisa saja dipelintir menjadi lebih sensasional demi kepentingan nilai berita. Secara saat ini banyak media berita sudah kecanduan clickbait di mana “click” adalah uang.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

Kategori: Informasi

Artikel Terbaru

Para Ilmuwan China Sudah Memprediksi Covid-19