Mengapa Kasus Positif COVID-19 di Bali Sedikit, Benarkah Ada Kekebalan Misterius?


Warga Indonesia menggunakan topeng Leak Bali saat berbelanja di supermarket di Seattle, Amerika Serikat.

Bali membuat bingung sebuah media Hongkong hingga mewartakan kekebalan misterius warga Pulau Bali dari invasi wabah coronavirus. Kebingungan itu ditulis Asia Times dalam artikel berita bertajuk Bali’s mysterious immunity to Covid-19 yang dirilis pada 14 April 2020.

Media itu menyoroti kenapa Bali dengan 4,2 juta penduduk dan ditambah banyak wisatawan asing yang berkunjung ke sana, tetapi kasus positif corona sedikit. Sudah bukan rahasia umum bahwa penularan Covid-19 sangat rawan dibawa oleh orang asing yang masuk ke Indonesia, secara Bali adalah pusat pariwisata internasional di Indonesia.

“Hampir tiga bulan pandemi Covid-19 terjadi tetapi pulau wisata Bali di Indonesia hanya ada 86 kasus dan dua kematian,” tulis Asia Times. “Hingga saat ini infeksi sangat terkonsentrasi di pulau Jawa yang padat penduduk.”

Seorang blogger asal Bali, Rio Helmi mengatakan kepada Asia Times bahwa dirinya juga bingung karena itu tidak masuk akal. “Kami tidak memiliki data, tetapi tidak ada tanda lonjakan kematian.” Rumah sakit juga tidak ada yang kebanjiran pasien, tempat kremasi juga tidak ada peningkatan dan tidak ada bukti lainnya coronavirus merajalela di Pulau Dewata.

Asia Times mendapatkan informasi dari beberapa penduduk setempat, bahkan beberapa desa di Bali nol kasus corona. Seperti di desa pesisir Pererenan, lokasi selancar yang populer di ujung utara jalur wisata Bali, belum memiliki kasus Covid-19, menurut penduduk Bali setempat. Desa-desa terdekat lainnya juga tampaknya bebas dari virus.

“Apa yang membuat situasi Bali begitu membingungkan adalah bahwa jumlah kedatangan wisatawan China ke Bali sebenarnya meningkat sebesar 3% pada bulan Januari, bulan yang sama saat lockdown Wuhan. Bahkan, mereka masih datang sampai 5 Februari ketika pihak berwenang akhirnya pindah untuk melarang siapapun yang berada di China dalam 14 hari sebelumnya,” tulis Asia Times.

Lantas apakah yang sebenarnya terjadi dengan Bali hingga mereka dikatakan memiliki kekebalan misterius oleh media Hongkong. Ada sebuah kepercayaan yang beredar bahwa dupa yang banyak dibakar di Pulau Dewata menjadi kunci kekebalan, dupa berfungsi sebagai disinfektan.

Jika merunut pada sebuah jurnal ilmiah, ramuan dupa bisa menjadi disinfektan udara. Namun yang harus diketahui, sifat coronavirus tidak airborne atau mengudara, tetapi menyebar melalui tetesan. Jadi, dupa tidak ada pengaruhnya dengan kekebalan corona, secara di China juga banyak yang membakar dupa.

Minimnya kasus corona di Bali sebenarnya tidak aneh, kasus klasik yang umum terjadi di semua wilayah di dunia adalah masalah tes skrining. Yang harus Anda ketahui, data jumlah kasus corona di Indonesia bukan real. Jumlah kasus positif yang tidak terdata bisa jauh lebih banyak, secara kemampuan tes skrining masih terbatas.

Jumlah data pasien positif corona berdasarkan hasil tes skrining. Yang menjadi masalah, tidak semua orang yang positif sudah melakukan tes. Tidak dipungkiri bahwa tes corona di Indonesia masih terbilang minim, ditambah kualitas tes yang diragukan hingga tidak semua orang positif dapat terdeteksi.

Rapid test menjadi andalan untuk mendeteksi corona secara cepat. Tetapi test ini memiliki banyak kekurangan hingga dianggap tidak efektif. Banyak kasus rapid test dengan hasil “false negative” atau negatif semu. Contohnya wilayah DKI Jakarta yang beralih menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR) karena rapid test dinilai tidak efektif.

“Rapid (test) ini punya potensi kekeliruan yang cukup tinggi. Karena itu kita mendorong kapasitasnya ditingkatkan untuk tes PCR,” kata Anies dalam rapat virtual bersama Tim Pengawas DPR RI Penanggulangan Covid-19, Kamis (16/4). “Itulah sebabnya kita merasa lebih baik fokus kepada PCR daripada pakai rapid test. Jadi false negative yang kita amat khawatirkan. Jadi kita berharap peningkatan kapasitas ini memang bisa didorong lebih jauh,” tambahnya.

Ketika sebuah wilayah berdasarkan data minim kasus bahkan nol kasus corona, itu bukan jaminan bahwa di sana tidak ada lonjakan kasus positif. Mengingat tes skrining yang masih terbatas dan belum bisa menjangkau seluruh pelosok Indonesia, kemungkinan besar masih banyak mereka yang terinfeksi tidak terdeteksi.

Seperti saat Indonesia dengan jumawa melaporkan nol kasus corona. Ketika pasien positif pertama diumumkan, lonjakan kasus kian meningkat setiap harinya. Awalnya peningkatan kasus setiap hari bisa dihitung dengan jari, lalu naik hingga puluhan, kemudian hampir mendekati seratus, selanjutnya mencapai ratusan orang setiap hari diumumkan positif corona, hingga totalnya mencapai ribuan orang.

“Berdasarkan hasil diskusi dengan rekan dokter di sana (Bali), masalahnya adalah skrining dan belum banyak orang dari luar yang masuk ke Bali. Masalah lainnya yang menjadi perhatian kita adalah angka kegagalan PCR. Maksudnya bukan berarti PCR tidak berfungsi, tetapi kalau di lab ada namanya tahapan pre analitik, analitik dan post analitik. Masalah yang paling berpengaruh ada di pre analitik dan analitiknya,” kata dokter Ronny kepada Sekoci Hoaxes (17/04).

“Pre analitik maksudnya itu cara pengambilan sampel, lokasi pengambilan dari tubuh, transportasi, alat dan lainnya. Yang paling bagus adalah cairan bronkoalveolar lavage, tetapi dulu saja susah mengambilnya apalagi sekarang” tambahnya.

Jadi, minimnya kasus corona di Bali kemungkinan besar masalahnya pada tes skrining yang masih terbatas dan banyak kendala. Contohnya di DKI Jakarta, total sebanyak 40.712 orang telah menjalani rapid test (15/04), sedangkan jumlah penduduk Jakarta ada 10 juta orang.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Kategori: Indonesia

ARTIKEL TERBARU

Mengapa Kasus Positif COVID-19 di Bali Sedikit, Benarkah Ada Kekebalan Misterius?