Coronavirus (COVID-19): Dampak Buruk dan Peran Media Sosial Selama Pandemi


Coronavirus sudah berbulan-bulan menjadi bintang utama internet di mana setiap hari kita selalu disajikan pelbagai informasi tentang wabah ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa pandemi coronavirus telah menciptakan krisis kesehatan global yang berdampak besar pada cara kita memandang dunia dan kehidupan kita sehari-hari.

Ini bukan hanya tentang informasi penyakit ini, tingkat penularan dan pola penularan, ada rasa yang mengancam hak hidup kita untuk mendapatkan kembali pelipur lara akan kedamaian, kebebasan dan kesejahteraan. Di tengah wabah coronavirus peran media sosial menjadi ujung tombak bagaimana pikiran kita akan menghadapi pandemi.

Selama pandemi flu 1918, yang diperkirakan oleh CDC menginfeksi sepertiga populasi dunia, orang-orang tidak memiliki akses komunikasi yang sekarang kita miliki di abad ke-21 untuk dengan cepat berbagi berita dan informasi. Media sosial menjadi alat komunikasi global bagi individu dan komunitas untuk tetap terhubung meski terpisah secara fisik.

Mari kita bayangkan apa yang akan terjadi seandainya sekarang kita hidup tanpa internet dan media sosial. Mungkin kita akan mengetahui telah terjadi wabah Covid-19 ketika seseorang mengetuk pintu lalu menyuruh kita untuk rajin mencuci tangan. Tetapi kita hidup di abad 21 di mana media sosial memudahkan individu, komunitas, dan lembaga pemerintah berbagi informasi dan berinteraksi dengan orang lain secara mudah dan cepat.

Namun, media sosial seperti belati bermata dua, bisa bermanfaat atau sebaliknya meracuni otak Anda. Semakin sering Anda mendapat informasi salah maka otak Anda akan tersesat. Contohnya seperti kasus di beberapa daerah yang menolak penguburan jenazah positif corona. Mereka dijejali informasi hitam tentang corona seolah itu adalah aib yang sangat hina.

Media massa juga sangat berperan. Mereka telah lama dikenal sebagai kekuatan kuat yang membentuk bagaimana kita mengenal dunia dan diri kita sendiri. Dampak besar media massa pada bagaimana kita memandang diri kita sendiri, baik sebagai individu maupun warga negara.

Apakah media masih relevan menyampaikan berita yang menyejekukkan, atau malah menyebarkan teror? Apakah media membawa kedamaian atau malah menciptakan kebisingan? Apakah media menyampaikan informasi yang akurat atau malah menyesatkan pikiran masyarakat? Apakah kita bisa mempercayai media sebagai alat mencerdaskan bangsa? Lantas, apakah media lebih patuh kepada kode etik jurnalistik atau alibi bisnis di mana uang adalah segalanya?

Pandemi coronavirus menciptakan masalah baru di mana media dapat memengaruhi dinamika dalam domain pribadi dan sosial. Pandemi coronavirus berefek pada ekenomi global, bukan hanya masyarakat dan negara yang terkena imbasnya, bisnis media pun pastinya terpengaruh. Sebuah paradigma lawas bahwa bisnis sangat membenci ketidakpastian. Dalam hal ini di mana ketidakpastian iklan meneror bisnis berita.

The New York Times pada bulan Maret mengumumkan perlambatan pemesanan iklan karena ‘ketidakpastian dan kecemasan’ yang disebabkan oleh coronavirus. Perusahaan ini memperkirakan penurunan 10 persen dalam pendapatan iklan digital pada kuartal ini. Fakta ini adalah kisah yang akrab bagi banyak penerbit.

Pada saat kita harus bergulat mendapatkan informasi tentang corona sebanyak mungkin, publik sangat rentan terhadap klaim palsu dan terkadang berbahaya, yang kemudian diteruskan ke orang lain. Miliaran orang bebas untuk secara terbuka membagikan pendapat mereka tentang COVID-19 di berbagai platform jejaring sosial.

Tidak ada platform yang sempurna, semua dikembalikan kepada diri masing-masing. Ketika Anda menjelajah media sosial hanya menggunakan hati (perasaan) maka Anda akan mudah tersesat. Penyebab utama seseorang masuk perangkap klaim palsu karena akalnya tidak digunakan, hanya mengandalkan hatinya – Kebenaran berdasarkan selera hati.

Jurnalisme clickbait juga ikut memperkeruh ekosistem informasi. Mereka tidak jarang meneror publik dengan judul berita bombastis untuk umpan klik, setiap klik adalah uang. Media menjadi rahmat sekaligus kutukan selama pandemi coronavirus.

Tedros Adhanom Ghebreyesus, direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mencatat bahwa langkah-langkah mendesak harus segera diambil untuk mengatasi “coronavirus infodemik“. Infodemik ini menyebarkan informasi tentang wabah dan meningkatkan kebingungan publik tentang siapa dan sumber informasi apa yang dipercaya. Hal ini menimbulkan ketakutan dan kepanikan karena rumor yang tidak terverifikasi dan klaim berlebihan.

Senjata utama untuk mengatasi semua masalah itu dengan mengkampanyekan literasi digital. Masalah klasik dari informasi bukan hanya hoax, tetapi teori konspirasi yang kian merajalela. Klaim dan tipuan medis yang tidak benar, dibesar-besarkan, dan meragukan adalah bentuk umum lainnya dari kesalahan informasi.

Masyarakat pasca-kebenaran adalah masyarakat di mana opini subyektif dan klaim yang tidak diverifikasi menyaingi fakta ilmiah dan biomedis yang valid dalam pengaruh publik. Kebutuhan bukti untuk mendukung argumen menjadi meremehkan, sementara pada saat yang sama, norma sosial tentang bagaimana dan mengapa orang harus bertanggung jawab atas apa yang mereka katakan menjadi dilemahkan.

Ketika Anda tidak lagi mampu membedakan kebenaran dan kesalahan informasi di media sosial, akhirnya Anda harus meninggalkan dunia maya untuk menyelamatkan diri. Mengurangi aktivitas media sosial dapat membantu menyegarkan otak Anda. Ketika otak Anda dijejali informasi tentang corona maka otak Anda akan semakin stres dan menimbulkan kepanikan berlebihan.

“Dan saya juga mencoba untuk mengatur konsentrasi di sini. Mengurangi membaca media, berita, sosial media agar kita bisa tetap fokus, konsentrasi bisa cukup istirahat dan tidur,” ucap Wali Kota Bogor, Bima Arya, setelah dirinya dinyatakan positif coronavirus.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

Kategori: Informasi

Artikel Terbaru