Kasus Pertama di Dunia Anjing Mati Karena Coronavirus, Benarkah?


Anjing pomeranian di Hongkong kembali ke rumah setelah karantina.

Klaim: Seekor anjing di Hongkong positif Coronavirus akhirnya mati setelah dua hari keluar dari karantina.

Anjing pertama di dunia yang terinfeksi virus corona mati setelah dua hari dinyatakan sembuh dan kembali ke rumah pemiliknya.

Anjing ras pomeranian berusia 17 itu tertular Covid-19 pada Februari 2020, dan telah menjalani karantina.
Seorang Juru Bicara Dinas Pertanian, Perikanan dan Konservasi (AFCD) Hong Kong mendapatkan informasi dari pemiliknya bahwa anjing peliharaannya mati pada 16 Maret.

“Pemilik tidak [mengizinkan] otopsi untuk memeriksa penyebab kematian [anjingnya],” mengutip South China Morning Post, Rabu (18/3/2020)

Anjing tersebut positif namun kondisi virus coronanya lemah, setelah melalui serangkai tes. Namun, dalam dua tes yang dilakukan pada 12 dan 13 Maret, hewan peliharaan itu dinyatakan negatif dan diizinkan pulang.

Sumber: Okezone.com


Tidak Terbukti


Analisis

Sebuah laporan terkini mengatakan bahwa seekor anjing ras pomeranian di Hongkong mati setelah terinfeksi Coronavirus. Laporan tersebut berasal dari South China Morning Post (SCMP), pada 18 Maret.

Dalam laporannya, SCMP menulis bahwa anjing pomeranian berusia 17 tahun dilaporkan mati oleh pemiliknya, sebelumnya anjing tersebut dikarantina. Laporan tersebut dari Dinas Pertanian, Perikanan dan Konservasi (AFCD) Hong Kong. Tetapi dalam laporan asli tidak menyebutkan anjing itu mati karena Coronavirus.

Meskipun pemiliknya tidak mengizinkan otopsi untuk memeriksa penyebab kematian, publikasi SCMP tidak dengan cara apa pun menyiratkan bahwa anjing itu mati karena coronavirus. Sebelum kembali ke rumah, anjing itu telah menjalani dua tes dengan hasil negatif coronavirus.

Dalam hal ini SCMP memainkan judul clickbait hingga diikuti media lainnya. Judul menggunakan kalimat “Anjing pertama yang ditemukan dengan coronavirus telah mati …”, tetapi dalam isi berita “Anjing itu telah berulang kali dites selama karantina. Sebanyak lima tes dilakukan dan semuanya dengan hasil positif lemah.

The dog had repeatedly been tested during its quarantine. A total of five tests from its nasal and oral samples all returned “weak positive” results for the virus.

It was not until the two tests – carried out on March 12 and 13 – proved the dog’s samples were negative that the department allowed it to leave the centre and return home.

Otoritas yang sama (AFCD) menjelaskan bahwa pengujian serology hasilnya negatif tidak menunjukkan bahwa anjing itu terinfeksi virus. “Diketahui dalam beberapa kasus infeksi manusia tanpa gejala atau ringan dengan jenis coronavirus lain bahwa antibodi mungkin tidak selalu berkembang, kata AFCD kepada SCMP.

Serology tests, which look for antibodies in the blood, were carried out on the dog from March 3 and came back negative on March 12, meaning no antibodies specific to the coronavirus were found in its system.

At the time, an AFCD statement said the negative serological test result did not suggest the dog had not been infected with the virus.

“It is known in some asymptomatic or mild cases of human infections with other types of coronavirus that antibodies may not always develop,” it said.

Kasus hewan peliharaan terinfeksi Coronavirus bertentangan dengan fakta ilmiah. Oganisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa hingga saat ini, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa hewan peliharaan seperti anjing atau kucing dapat terinfeksi virus corona baru (Covid-19).

“Penyebaran virus dari manusia ke hewan atau sebaliknya sebenarnya bisa saja terjadi. Banyak penyakit infeksi yang membagi pejamunya antara peliharaan dan manusia. Tetapi memang untuk COVID-19 hingga saat ini belum ada bukti hewan bisa terjangkit virus,” kata dokter Ronny kepada Sekoci Hoaxes (19/3).

“Saya sih setuju sampai saat ini belum ada anjing yang kena COVID-19. Kalaupun ada (positif lemah dan anjing tidak ada gejala) artinya bisa dibilang anjing kemungkinan bisa menjadi perantara. Jadi tidak bisa dibilang tidak mungkin anjing tidak terkena, tetapi dibilang belum ada bukti.”

“Segala kemungkinan bisa terjadi, tetapi belum ada bukti. Apakah menularkan (menyebabkan penyakit) atau sebagai vektor. Karena corona virus juga awalnya dari hewan. Covid-19 soalnya virus baru, mekanisme infeksinya pun belum diketahui banyak, semua hanya dicurigai. Maksudnya reseptor sel tempat menempelnya virus juga belum pasti, karena virus tidak akan bisa masuk ke sel tanpa ada reseptor di dinding sel. Tubuh kita memiliki banyak jenis virus sekarang ini, tetapi kita tetap sehat selain karena imun juga virus itu tidak mampu masuk karena memang tidak ada pintu masuknya,” tambahnya.

Yang harus dicatat, anjing pomeranian tersebut berusia 17 tahun. Itu artinya anjing tersebut sudah lansia, penyebab kematian bisa karena faktor usia. “Usia anjing pomeranian 17 tahun harusnya lansia, soalnya usia 7 tahun saja itu sudah masuk tua,” kata pecinta anjing, Naomi Debrina kepada Sekoci Hoaxes (19/03).

Kesimpulan

Kabar bahwa seekor anjing pomeranian berusia 17 tahun di Hongkong mati karena coronavirus, TIDAK terbukti. Hingga saat ini belum ada bukti bahwa hewan peliharaan seperti anjing dan kucing dapat terinfeksi virus corona baru. Namun, bukan berarti “tidak mungkin terjadi”. Belum ada bukti itu artinya bisa saja terjadi jika ada bukti terbaru.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Kategori: Kesehatan

ARTIKEL TERBARU

Kasus Pertama di Dunia Anjing Mati Karena Coronavirus, Benarkah?