Ilusi Kebenaran: Inilah Penyebab Kegaduhan Media Sosial


Ilustrasi

Ilusi adalah sesuatu yang hanya dalam angan-angan, khayalan, atau tidak nyata. Ilusi kebenaran adalah suatu mekanisme di mana seseorang percaya bahwa sesuatu itu benar padahal sebenarnya tidak. Faktanya, mereka tidak hanya mempercayainya, mereka juga mempertahankannya sebagai benar. Selain itu, mereka juga menutup diri terhadap kemungkinan bahwa itu akan menjadi salah.

Sejatinya kita memiliki titik buta yang tidak disadari, apapun yang melewati area ini tak terlihat. Pikiran kita berkonspirasi untuk mengisi ruang titik buta yang kosong dengan kebenaran yang tercipta oleh ilusi. Efek ilusi kebenaran terjadi karena adanya masalah dalam pemrosesan realitas.

Sebagai manusia, kita memiliki kecenderungan untuk mempercayai bahwa hal-hal yang akrab di pikiran adalah benar. Masalah ini terkait dengan memori implisit – mengingat sesuatu dalam keadaan tidak sadar, tidak melibatkan memori eksplisit (ingatan secara sadar).

Contoh memori implisit seperti Anda mengikat tali sepatu. Awalnya Anda belajar cara melakukannya, lalu setelah terbiasa maka otak Anda akan melakukannya secara otomatis tanpa Anda sadari. Itu artinya sesuatu yang diulang-ulang akan tersimpan dalam memori otak Anda.

Itulah mengapa ilusi kebenaran terjadi ketika otak Anda lebih mempercayai informasi yang telah tersimpan di dalam memori otak, informasi baru akan dianggap asing hingga diabaikan. Sebagai contoh, jika Anda selalu mendapatkan informasi tentang keindahan bunga mawar secara terus menerus, maka otak Anda akan berpikir bahwa mawar adalah bunga terindah dan bunga lain tidak boleh lebih indah.

Ilusi kebenaran memiliki banyak efek problematis. Seperti pepatah Nazi, “Ulangi kebohongan cukup sering dan orang akhirnya akan mempercayainya.”  Itu merupakan bagian dari teknik propaganda. Informasi yang diulang-ulang akan menjadi benar, bahkan jika itu salah. Kebanyakan orang tidak cukup tertarik atau memiliki kemampuan untuk memverifikasi apakah sesuatu itu benar atau tidak.

Sederhananya, efek ilusi kebenaran adalah jalan pintas yang diambil pikiran untuk menghindari upaya otak Anda bekerja keras (malas berpikir). Jika kita melakukan semua yang kita pikirkan dan lakukan untuk dianalisis, otak kita akan kelelahan dalam waktu kurang dari satu jam.

Mengapa harus bangun di pagi hari daripada siang hari? Apakah sarapan di pagi hari ada aturannya atau sesuai selera? Mengapa setelah makan harus minum? Mana yang lebih penting makan atau minum? Kenapa malam hari kita harus tidur?

Semua pertanyaan itu pastinya mudah untuk dijawab, tetapi apakah Anda pernah menganalisis untuk mencari kebenarannya? Itulah sebabnya kenapa otak Anda lebih cenderung membantu sesuai apa yang telah Anda ketahui, otak Anda tidak perlu repot menganalisis lebih dalam. Ini adalah strategi untuk membantu Anda hidup lebih nyaman.

Aspek penting dari efek ilusi kebenaran adalah bahwa tidak peduli sekuat apa pun kebenaran hadir, ia tidak akan bisa meruntuhkan keyakinan yang tersimpan dalam memori otak. Itu artinya bahwa Anda tidak perlu melakukan proses berpikir dalam menentukan benar atau salah.

Singkatnya, efek ilusi kebenaran membuat Anda mempercayai informasi yang salah sebagai suatu kebenaran, setelah adanya proses repetisi atau pengulangan. Fenomena ini pertama kali ditemukan dari penelitian yang dilakukan oleh psikolog Dr. Lynn Hasher, David Goldstein dan Thomas Toppino dari Universitas Temple.

Efek ilusi kebenaran akan timbul karena suatu informasi yang salah dianggap benar akibat proses pengulangan yang meningkatkan level validitasnya. Penelitian-penelitian lanjutan setelahnya mengungkapkan lebih banyak dan lebih luas lagi tentang efek ilusi kebenaran ini.

“Untuk masalah kesalahan informasi dalam efek ilusi kebenaran, peran pendidikan hanya sebagian saja. Kita juga tetap harus mendesak orang-orang untuk berhati-hati dalam membandingkan informasi baru dengan apa yang sudah mereka ketahui sebelumnya,” kata para peneliti yang dipimpin oleh Nadia Brashier dari Universitas Harvard.

“Kebenaran selalu merupakan sesuatu yang diceritakan, bukan sesuatu yang diketahui. Jika tidak ada yang berbicara atau menulis, tidak akan ada kebenaran tentang apa pun.”
– Susan Sontag

Itulah mengapa orang intelektual dengan pendidikan tinggi bisa menjadi konsumen hoax. Konsep kebenaran tidak pernah sederhana dan tidak instan hanya menggunakan logika. Pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang terhindar dari ilusi kebenaran. Sangat sulit bagi siapapun menerima kebenaran bahwa mereka salah. Bahkan lebih sulit bagi orang cerdas karena mereka terbiasa dengan kebenaran sehingga menjadi bagian dari identitas mereka.

“Pendidikan yang baik tidak menjamin pembentukan watak yang baik.”
– Fonttenelle

Baca juga: Mengapa Orang Cerdas Bisa Menjadi Konsumen Hoax?

Ilusi kebenaran tidak lepas dari buruknya kemampuan kognitif. Lebih dari selusin penelitian telah dilakukan terkait dengan bagaimana otak manusia memproses dalam pengambilan keputusan. Singkatnya, penelitian psikologi telah menunjukkan bahwa setiap proses yang meningkatkan keakraban dengan informasi palsu, melalui paparan berulang-ulang, dapat meningkatkan persepsi kita bahwa informasi itu benar.

Itulah mengapa jejaring sosial selalu dibuat gaduh oleh ulah dari kedua kubu dengan fanatisme buta. Masing-masing kubu hanya mau menerima informasi dari kelompoknya, tak hentinya otaknya dijejali kebencian kepada lawan dan cinta buta kepada kelompoknya. Efek ilusi kebenaran kronis merusak otak mereka sepanjang waktu.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

Kategori: Informasi

Artikel Terbaru

Ilusi Kebenaran: Inilah Penyebab Kegaduhan Media Sosial