Riset Oxford: Buzzer di Indonesia Dibayar Untuk Alat Propaganda


ILUSTRASI BUZZER POLITIK OLEH BAMBANG NOER RAMADHAN/VICE

Media sosial dapat dianalogikan sebagai hutan belantara yang dapat menyesatkan dan penuh ancaman binatang buas. Masih banyak pengguna media sosial tidak sadar betapa berbahayanya ruang maya, otak mereka telah terkontaminasi opini publik yang menyesatkan.

Sebuah laporan dari Oxford Internet Institute, dengan judul The Global Disinformation Order: 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation, dengan menggunakan algoritma dan data mengungkap aktivitas ‘pasukan cyber’ global, biasanya dilakukan lembaga pemerintah dan partai politik, untuk memengaruhi opini publik di 70 negara.

Laporan itu meliputi manipulasi opini publik di media sosial yang terorganisir, politisi dan partai politik menggunakan media sosial sebagai alat propaganda, menekan kebebasan pers dan membungkam suara oposisi.

Laporan juga menemukan bahwa propaganda komputasi dan manipulasi media sosial telah berkembang biak secara besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir. Biasanya setiap hajatan politik akan lebih tumbuh subur.

Hasil penelitian itu juga menunjukkan bahwa penyebaran berita palsu dan narasi beracun telah menjadi dianggap ‘normal’ yang disfungsional bagi para aktor politik di seluruh dunia, berkat jangkauan global media sosial.

“Manipulasi opini publik di media sosial masih menjadi ancaman serius terhadap demokrasi, karena propaganda komputasi menjadi bagian yang meluas dari kehidupan sehari-hari. Instansi pemerintah dan partai politik di seluruh dunia menggunakan media sosial untuk menyebarkan disinformasi dan bentuk lain dari media yang dimanipulasi. Meskipun propaganda selalu menjadi bagian dari politik, cakupan luas dari kampanye ini menimbulkan keprihatinan serius terhadap demokrasi modern,” kata Profesor Philip Howard, Direktur Oxford Internet Institute, University of Oxford.

Para peneliti menemukan teknik-teknik yang dilakukan pemerintah dan partai politik untuk menyebarkan propaganda politik termasuk penggunaan bot untuk memperkuat narasi kebencian atau bentuk lain dari konten yang dimanipulasi, seperti pengambilan data secara ilegal atau penargetan mikro, dan menggunakan pasukan ‘troll’ untuk melawan atau merendahkan pembangkang politik atau jurnalis online.

Facebook telah lama menjadi sarang besar bagi hoax dan propaganda. Sebagian besar masalah global mengalir melalui corong platform Facebook. Hal ini mengingat bahwa platform ini memiliki pengguna terbesar di dunia, dengan 2,5 milyar pengguna (2019).

“Meskipun media sosial pernah digembar-gemborkan sebagai kekuatan untuk kebebasan dan demokrasi, media semakin mendapat pengawasan ketat karena perannya dalam memperkuat disinformasi, menghasut kekerasan, dan menurunkan kepercayaan pada media dan lembaga-lembaga demokrasi,” kata Samantha Bradshaw, penulis utama laporan dan Peneliti, Oxford Internet Institute, University of Oxford.

Metode penelitian yang dilakukan oleh Samantha dan Philip meliputi empat tahap, yakni analisis konten atas artikel yang melaporkan aktivitas buzzer, studi literatur atas arsip publik dan laporan ilmiah, menyusun studi kasus yang ada di sebuah negara, hingga konsultasi dengan para ahli.

Laporan itu mengungkap masalah terbesar di Indonesia adalah politik dan partisipan. Maka tidak heran mereka dengan fanatisme buta menggunakan media sosial layaknya medan perang di mana perselisihan menjadi menu utama setiap hari.

Riset Oxford mengungkapkan bahwa buzzers politik di Indonesia dibayar berkisar antara 1-5 juta untuk memanipulasi opini publik di media sosial. Laporan setebal 23 halaman itu disebutkan bahwa sejumlah pihak di Indonesia yang menggunakan buzzer adalah politisi, partai politik, dan kalangan swasta.

Hasil penelitian itu membeberkan setidaknya ada tiga tujuan yang dijadikan target para buzzer, yakni menyebarkan propaganda pro-pemerintah atau pro-partai, menyerang oposisi, hingga membentuk polarisasi. Riset itu tidak menyebutkan nama atau partai politik di Indonesia yang terlibat.

Laporan itu juga membeberkan bagaimana buzzers di Indonesia beraksi, mereka dijalankan oleh manusia dan bot secara langsung. Buzzers di Indonesia menggunakan disinformasi dan memanipulasi opini publik di media sosial untuk menyerang target dan menyesatkan pikiran netizen.

Facebook menjadi platform andalan buzzers, tetapi mereka juga memanfaatkan platform lain seperti Twitter, WahatsApp, dan Instagram. “Meskipun ada lebih banyak platform dari sebelumnya, Facebook tetap menjadi platform dominan untuk aktivitas pasukan siber,” tulis laporan penelitian itu.

Manipulasi opini publik di media sosial kian hari kian mengkhawatirkan, merusak tatanan demokrasi. Para buzzer bergerak melemparkan opininya untuk meracuni pikiran para pengikutnya, aktivitas doktrin selalu dilakukan setiap hari.

Dari pihak pemerintah Indonesia beberapa kali membantah bahwa pihaknya tidak pernah menggunakan buzzer. Netizen menggunakan istilah ‘buzzer istana’ kepada insfluencer pendukung pemerintah. Walaupun kerap membantah, para insfluencer pendukung pemerintah secara nampak jelas akun sosial medianya diisi kebencian dan manipulasi opini publik.

Dalam hal ini Sekoci Hoaxes telah lama mengkampanyekan “hilangkan kebencian dan cinta buta”. Akar dari fitnah dan hoax saat ini adalah kebencian dan cinta buta. Jadi sebenarnya cukup mudah jika pemerintah benar-benar berkomitmen dalam pemberantasan hoax, sapu bersih para buzzers dari pihak manapun dan ajakan perdamaian yang selama ini digaungkan bukan hanya sekedar retorika politik.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

Kategori: Facebook

Artikel Terbaru

Riset Oxford: Buzzer di Indonesia Dibayar Untuk Alat Propaganda