Sulitnya Mendapatkan Berita Akurat Tentang Korea Utara


Korea Utara
Para gadis Korea Utara menjadi pemandu sorak di Kejuaraan Atletik Asia 2005 di Incheon. AFP

Ruang internet banyak menyajikan informasi berita tentang Korea Utara, sebagian besar merupakan berita sensasional. Kisah tentang kekejaman Kim Jong Un kerap dihembuskan media untuk menggambarkan betapa hitamnya Korea Utara, terutama eksekusi mati para pejabat bahkan keluarga dengan cara tidak manusiawi.

Mungkin Anda pernah mendengar berita tentang paman Kim Jong Un dieksekusi mati dengan cara dimasukkan ke dalam kandang penuh anjing yang sedang kelaparan. Ada juga cerita Jenderal Korut yang tidak diketahui namanya dieksekusi mati dengan cara dimasukkan ke dalam tangki air berisi kumpulan ikan piranha.

Cerita tentang kekejakaman Kim Jong Un banyak menghiasai ruang berita dunia, sebagian besar sumber utamanya anonim. Sebelum Anda membaca berita tentang Korea Utara, Anda harus mengetahui bagaimana sirkulasi informasi di sana.

Kontributor New York Times Isaac Stone Fish menggambarkan negara itu sebagai “lubang hitam informasi”. Menurut Ralph Cossa, presiden Forum Pasifik dari Pusat Kajian Strategis dan Internasional, “Siapa pun yang memberi tahu Anda bahwa mereka tahu pasti tentang Korea Utara akan mencoba untuk menipu Anda atau mencoba untuk menipu diri sendiri”.

Analis Andrei Lankov membandingkan pelaporan Korea Utara dengan analogi tentang orang -orang buta dan seekor gajah, sulit mendapatkan informasi dengan mata tertutup. Jurnalis dan pakar media Korea Selatan menggambarkan ini sebagai “masalah sistemik”.

Pendapat mereka tentang citra hitam informasi di Korea Utara pastinya bukan tanpa alasan. Ada sejumlah alasan mengapa sulitnya mendapatkan informasi di Korea Utara. Akses media asing sangat dibatasi oleh pemerintah Korea Utara, dan sangat sedikit koresponden penuh waktu di negara ini.

Dengan tidak adanya reportase di tempat, sumber utama informasi tentang Korea Utara sebagian besar berasal dari kesaksian para pembelot, tetapi para pembelot tersebut tidak selalu dapat diandalkan karena beberapa alasan.

Secara keseluruhan, banyak informasi tentang Korea Utara disaring melalui Korea Selatan, mengingat konflik yang sudah berlangsung lama antara kedua negara hingga informasi yang diterima sangat rawan terdistorsi. Kesalahpahaman budaya Korea juga dapat menyebabkan pelaporan yang tidak akurat.

Dengan tidak adanya bukti kuat, beberapa outlet media mengakalinya dengan konten sensasional, menitik beratkan cerita pada rumor atau klise. Bahkan ada beberapa liputan media berdasarkan tipuan atau sindiran. Jangankan media, badan intelijen Amerika Serikat bahkan menggambarkan Korea Utara sebagai “kegagalan intelijen yang paling panjang dalam sejarah spionase AS”.

Berita tentang Korea Utara akan selalu dinantikan karena pastinya akan sangat menarik, tetapi banyak berita yang beredar di media global dengan pengecekan atau analisis fakta yang minimal. Bahkan ada sebuah pemikiran negatif di kalangan jurnalis bahwa tidak peduli tentang kebenaran Korea Utara yang penting ada berita dari negara itu.

Tania Branigan, seorang koresponden untuk The Guardian, mengatakan bahwa laporan berita dari media dunia tentang negara itu kualitasnya sangat buruk. Branigan memberikan beberapa alasannya. Pertama, karena cerita-cerita Korea Utara menarik banyak pembaca, editor, dan reporter, banyak yang memiliki hasrat “luar biasa” untuk memainkannya, bahkan kisah-kisah yang mencurigakan atau ambigu.

Kedua, wartawan memiliki sumber yang sangat terbatas di Korea Utara. Ketiga, relatif sedikit jurnalis yang berbicara bahasa Korea. Keempat, karena Korea Utara adalah masyarakat yang terisolasi, “cerita yang beredar mungkin sulit untuk dibantah. Jadi media dapat memainkan bagian yang tidak jelas bahkan jika mereka ditantang, sulit untuk membuktikan bahwa mereka salah.

Satu-satunya cara membantah laporan media tentang Korea Utara dengan menganalisis setiap klaim yang digarisbawahi dan sumber utamanya. Cara ini sebenarnya cukup sederhana, tetapi sering kali malas dilakukan dengan alasan tidak peduli atau tidak penting.

Seperti kabar paman Kim Jong Un dieksekusi mati dengan cara dimasukkan ke dalam kandang penuh anjing yang sedang kelaparan. Cerita ini awalnya dihembuskan oleh surat kabar Hongkong yang mendapatkan laporan dari “sumber yang tidak disebutkan namanya”.

Selanjutnya media arus utama dunia beramai-ramai mewartakannya, mereka yang masih peduli kualitas jurnalistik dalam laporannya menggunakan kata “diduga”. Hampir mustahil melakukan pengecekan fakta dari cerita itu dengan turun langsung ke Korea Utara. Bahkan seandainya cerita itu salah, sulit untuk menyingkirkan klaim itu jika Anda sedang berada di Korea Utara.

Cerita lainnya mengabarkan bahwa Kim Jong-un mengeksekusi mati Jenderal Korut menggunakan piranha. Semua sumber laporan media Indonesia mengarah kepada media Inggris Daily Star. Lantas darimana mereka mendapatkan cerita itu? Daily Star menulis sumber anonim, jikapun sumber tidak mau disebutkan identitasnya seharusnya keterangan itu dicantumkan, tetapi mereka hanya menulis “sumber”.

Dikarenakan minimnya informasi, Daily Star melengkapi ceritanya dengan menambahkan asumsi dari para pengamat yang dikaitkan dengan film James Bond 1977 The Spy Who Loved Me. Laporan tersebut hanya sebatas itu, nama Jenderal, waktu eksekusi dan kronologis kejadian semuanya tidak jelas.

Baca juga: Benarkah Kim Jong-un Mengeksekusi Mati Jenderal Korut Menggunakan Piranha?

Mungkin Anda berpikir tidak mungkin semua warta tentang negara itu sulit diverifikasi kebenarannya. Ya, ada beberapa berita tentang Korea Utara cukup mudah diverifikasi kebenarannya. Contohnya kabar tentang para pria di Korea Utara diwajibkan untuk memotong rambutnya dengan gaya yang sama seperti pemimpin mereka, Kim Jong Un.

Berita itu berawal dari Radio Free Asia, diikuti dengan sejumlah situs berita arus utama dunia lainnya, termasuk media Indonesia. Cukup mudah untuk mencari tahu kebenaran dari cerita itu. Sejumlah pengamat dan pekerja yang sempat singgah di Korea Utara pada saat informasi tersebut muncul memberikan konfirmasi bahwa tidak terjadi perubahan tren potongan rambut di Korea Utara.

Baca juga: Rumor Pria Korut Diwajibkan Mengikuti Gaya Rambut Kim Jong Un

Bagi jurnalistik, Korea Utara adalah misteri yang selalu membuat penasaran, tidak jarang tangan-tangan jahil mencoba menulis cerita yang dilebih-lebihkan, setengah kebenaran, terdistorsi, hingga fiktif. Situasi berbeda untuk media Rusia China, dan Kuba di Korea Utara.

Tahun 2019, hanya ada lima koresponden asing yang ditempatkan secara permanen di Korea Utara, dari kantor berita Rusia TASS, Harian Rakyat China, China Central Television , Xinhua, dan Prensa Latina dari Kuba. Untuk media asing dunia lainnya ketika mengunjungi negara itu kerap mengalami masalah serius.

Sumber alternatif biasanya diambil dari para pembelot Korea Utara, seringkali pembelot dikutip secara anonim untuk melindungi identitas mereka, pastinya sangat sulit untuk memverifikasi informasi mereka. Selain itu, banyak pembelot mengeluh kepada Komisi Hak Asasi Manusia Nasional Korea bahwa wartawan telah melanggar hak mereka untuk privasi.

Felix Abt, seorang pengusaha Swiss yang tinggal di Democratic People’s Republic of (North) Korea (DPRK), dalam bukunya menulis bahwa para pembelot pada dasarnya bias. Dia mengatakan bahwa 70 persen pembelot di Korea Selatan menganggur, dan menjual cerita sensasional adalah cara bagi mereka untuk mencari nafkah. Dia mengkritik jurnalis dan akademisi karena tidak skeptis tentang klaim paling aneh yang dibuat oleh pembelot.

Abt menulis buku berjudul A Capitalist in North Korea: My Seven Years in the Hermit Kingdom, kisahnya menggabungkan tiga narasi terpisah. Abt juga berpendapat bahwa Korea Utara secara umum tidak seburuk yang sering digambarkan. Dalam bukunya ia mengkritik Barbara Demick, Andrei Lankov, Melanie Kirkpatrick dan lainnya bahwa kondisi di Korea Utara telah berubah dengan cepat.

Tetapi cerita yang ditulis Abt hanya berdasarkan pendapat pribadi, terkesan sebagai pembelaan karena kepentingannya untuk keamanan bisnis di Korea Utara. Meskipun demikian, buku ini layak dibaca karena ia menangkap dengan cukup baik proses bertahap dan tidak terencana dari apa yang disebut “reformasi dari bawah”.

Singkat kata, cerita dari media dunia tentang Korea Utara sangat rawan dilebih-lebihkan (sensasional), terdistorsi, dan rumor yang tidak berdasar. Banyak cerita berasal dari Korea Selatan dan pembelot Korea Utara. Menimbang Korsel adalah musuh utama Korut, informasi yang diterima rawan dimanipulasi demi kepentingan politik. Keterangan dari para pembelot juga hampir mustahil diverifikasi kebenarannya.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

More From: Informasi

DON'T MISS

Sulitnya Mendapatkan Berita Akurat Tentang Korea Utara