Eksperimen Mengungkap Sisi Gelap Manusia!


Sifat manusia terkadang akan berubah tergantung situasi dan kondisi. Anda mungkin pernah menyaksikan perilaku seseorang yang di luar akal sehat, tetapi mereka merasa dirinya adalah manusia. Sebelum menghakimi orang lain, mari kita mengenali sisi gelap diri sendiri. Biasanya kita percaya bahwa kita memiliki sifat yang stabil dan konsisten dari waktu ke waktu, dan cukup percaya diri bahwa di masa depan kita akan tetap sama seperti hari ini.

Tetapi bisakah kita tetap konsisten untuk berperilaku baik jika berada di dalam tekanan yang ekstrem, atau berada dalam kondisi memiliki kuasa untuk bebas melakukan apapun? Faktanya sangat sedikit manusia yang benar-benar dapat mengendalikan bagaimana kita akan bertindak di bawah tekanan ekstrem dan memiliki kebebasan penuh. Berikut beberapa eksperimen psikologi pembuktian sisi gelap manusia.

Cut Piece
Yoko Ono bersama suaminya, John Lennon (Photo by Susan Wood/Getty Images)

Yoko Ono adalah artis seni asal Jepang, ia juga istri kedua bintang The Beatles John Lennon. Ia pernah melakukan karya seni pertunjukan Cut Piece pada tahun 1964. Ia duduk sendirian di atas panggung, mengenakan setelan pakaian terbaiknya, dengan gunting di depannya. Para penonton telah diinstruksikan bahwa mereka dapat bergiliran mendekatinya dan menggunakan gunting untuk mencabik-cabik pakaiannya.

Beberapa orang mendekat dengan ragu-ragu, mulai memotong bagian kecil dari lengan bajunya atau ujung roknya. Yang lain datang menyusul dengan berani, mengambil bagian depan blusnya atau talinya. Ono tetap tidak bergerak dan tanpa ekspresi, sampai batas waktu yang ia tentukan sendiri hingga pertunjukan berakhir.

Dalam merefleksikan pengalaman itu, Ono berkata: “Ketika saya melakukan Cut Piece, Saya menjadi kesurupan, dan karenanya saya tidak merasa terlalu takut.… Kami biasanya memberikan sesuatu dengan tujuan … tetapi saya ingin melihat apa yang akan mereka ambil…. Ada keheningan panjang antara satu orang yang datang dan orang-orang berikutnya. Dan saya katakan itu musik yang fantastis dan indah, Anda tahu? Ba-ba-ba-ba, potong! Ba-ba-ba-ba, potong! Sebenarnya itu puisi yang indah.”

Karya ini pertama kali dilakukan di Tokyo pada tahun 1964, dan dilakukan setidaknya empat kali lagi di Jepang, London dan Amerika Serikat. Pertunjukan ini dimaksudkan untuk membawa penonton ke dalam karya itu sendiri dan membuat artis dan penonton berinteraksi pada tingkat yang lebih intim. Pertunjukan Ono merupakan “jeritan dalam diam“, di saat manusia tersakiti namun tidak berdaya.

Ryhthm 0

Ryhthm 0 awalnya adalah proyek seni sama seperti apa yang dilakukan Yoko Ono, tetapi berubah drastis menjadi penemuan psikologi paling mengerikan. Pada 1974, seorang seniman pertunjukan dari Yugoslavia melakukan eksperimen paling kontroversi, berbahaya, dan mengerikan dalam sejarah seni. Ia adalah Marina Abramovic. Tubuhnya dijadikan objek menjelajahi batas fisik dan mental dirinya, ia telah menahan rasa sakit, kelelahan, dan bahaya dalam upaya transformasi emosional dan spiritual.

Eksperimen ini melibatkan Marina yang sendirian diam berdiri, sementara penonton diundang untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan kepadanya selama 6 jam. Para penonton disediakan 72 barang yang ditempatkan di atas meja, seperti bunga mawar, parfum, gunting, pisau bedah, paku, batang logam, dan pistol yang diisi dengan satu peluru.

Inti dari pertunjukan ini yaitu Marina diam mematung selama 6 jam. Ia mengizinkan seluruh penonton bebas sesuka hati melakukan apapun pada dirinya, ia tidak akan protes dan ataupun bergerak. Para penonton bebas menggunakan 72 barang yang berada di atas meja, tubuh Marina menjadi objek.

Barang-barang yang menjadi alat untuk para penonton melakukan apapun kepada Marina.

Pada awalnya, para penonton bersikap lembut hanya bermain-main dengan Marina. Ada yang menaruh mawar di tangannya, ada yang menciumnya, ada juga yang menyuapi kue. Lalu, ketika para penonton merasa yakin bahwa Marina benar-benar diam tidak bergerak, mereka mulai memperlihatkan sisi gelapnya.

Seseorang mulai mempermainkan tubuh Marina, yang lain ikut mengeksploitasi Marina. Ada yang menyentuhnya di bagian yang sensitif, hingga pakaiannya dipotong menggunakan pisau cukur. Pada jam ketiga, Marina hampir tanpa pakaian. Pisau mulai menyentuh kulit Marina, ada juga yang menggoreskan tulisan ke tubuhnya. Yang lebih parah, seseorang menggoreskan pisau dekat leher Marina dan menghisap darahnya.

Penderitaan Marina tidak berhenti sampai di situ. Seseorang bahkan menempatkan pistol di tangan Marina yang mengarah ke lehernya sendiri (seperti adegan bunuh diri). Mata Marina berkaca-kaca menahan penderitaan, tetapi ia tetap tidak bergerak. Lalu bagian tubuh atas Marina polos tanpa pakaian, pelecehan seksual mulai terjadi.

Marina bersaksi bahwa ia tidak diperkosa karena kebanyakan penonton bersama pasangannya. Ia dibawa setengah telanjang, didudukan di atas meja, dan ada yang menancapkan pisau ke meja dekat dengan kakinya. Seseorang memotret kejadian saat kekerasan dan pelecehan terjadi, lalu menempatkannya di tangan Marina (Marina berpose memegang foto-foto dirinya dalam penderitaan).

Penderitaan Marina mulai mereda ketika seorang wanita memeluknya, dan beberapa orang yang takut mulai menolong dan akhirnya bergerak mengobati luka-luka di tubuh Marina. Tetapi tidak semua orang peduli, ada yang berusaha menghalangi orang-orang yang membantu Marina, dan yang lainnya melakukan kekerasan lebih parah. Banyak yang menikmati momen itu selagi bisa.

Kejutan terjadi ketika waktu habis. Marina mulai bergerak, tentu saja para penonton yang melakukan kekerasan dan pelecehan melarikan diri ketakutan. Marina yang mulai bergerak mengalami trauma berat, sulit rasanya mengembalikan dirinya sebagai manusia setelah menjadi objek diam selama 6 jam.

Eksperimen Marina memperlihatkan sisi gelap manusia ketika dalam kondisi diberikan kuasa dan kebebasan melakukan apapun tanpa hukuman, apalagi jika target adalah sesama manusia, terutama wanita. Betapa kejinya manusia jika dalam kondisi seperti itu. “Itu benar-benar horor selama enam jam,” ucap Marina dalam sebuah wawancara.

Pertunjukan Yoko Ono dan Marina Abramovic mengajarkan kita bahwa sejatinya setiap manusia memiliki dua sisi, hitam dan putih. Manusia biasanya selalu menyembunyikan sisi hitam dan lebih menonjolkan sisi putih. Sisi hitam yang selalu tersembunyi akan keluar jika ada rangsangan, apakah Anda akan membiarkannya keluar atau menahannya tetap tersembunyi.

Anda tidak menganggap diri Anda jahat, bukan? Tentu saja tidak! Tidak ada yang tahu. Namun, dunia ini penuh dengan kekerasan dan penderitaan. Kita sering mendengar berita tentang seseorang melakukan kejahatan keji, tetapi sebelumnya ia adalah orang yang baik. Semua masalah itu berakar pada emosi dan nafsu manusia.

Kita tahu betul betapa buruknya emosi dan nafsu ketika tak terkendali, tetapi kita merasa yakin bahwa kita tidak mungkin berbuat jahat. Tapi apa yang membuat kita begitu yakin? Ini pertanyaan yang tidak perlu dijawab, tetapi seberapa berbedanya kita dengan mereka yang berbuat jahat? Anda jangan lupa, kita semua adalah manusia yang memiliki sisi gelap.

Pada akhirnya yang harus dilakukan yaitu kenali sisi gelap Anda, mulai mempertanyakan apakah sisi gelap kita. Apakah kita pendendam, pembenci, serakah, ambisi kekuasaan, sombong, sulit memaafkan, egois, pelit, keras kepala, pendusta, tempramental, munafik, zalim, bodoh, mudah tertipu, mudah tersinggung, atau psikopat?

Jika Anda sudah bisa mengenali sisi gelap Anda, maka langkah selanjutnya harus meredamnya dan jangan biarkan sisi gelap menguasai Anda. Yang harus diketahui, sisi gelap kita mewujudkan naluri pencarian akan fantasi kesenangan, selanjutnya akan menghancurkan kita.

“Kejahatan adalah sumber kecerdasan moral dalam arti bahwa kita perlu belajar dari bayangan kita, dari sisi gelap kita, agar menjadi baik.”
– John Bradshaw

“Kita semua perlu melihat sisi gelap kodrat kita, di situlah energinya, gairah. Orang-orang takut akan hal itu karena itu adalah bagian dari diri kita yang sedang kita sangkal.”
– Sue Grafton

“Semakin kita menyangkal bahwa kita memiliki sisi gelap, semakin besar kekuatan buruk mengendalikan kita.”
– Sheryl Lee

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Kategori: Informasi

ARTIKEL TERBARU

Eksperimen Mengungkap Sisi Gelap Manusia!