Apakah Orang Gila Secara Jasmani Tidak Pernah Sakit?


Orang dengan gangguan jiwa atau masyarakat biasa menyebutnya orang gila, cara hidup mereka jorok berkeliaran di pinggiran jalan. Sebuah misteri yang telah lama mengusik pikiran banyak orang mengapa orang gila terlihat selalu sehat, padahal mereka sering makan sembarangan makanan yang tidak layak konsumsi.

Tubuhnya dekil dan kusam karena tidak pernah mandi, mudah terpapar kuman dan polusi jalanan, pakaian minim dalam kondisi hujan maupun panas, dan tidur di mana saja tanpa alas. Jika kita hidup seperti mereka pastinya akan menjadi penghuni rumah sakit dengan infus yang menggantung.

Gangguan mental biasanya didefinisikan oleh kombinasi bagaimana seseorang berperilaku, merasakan, memahami, atau berpikir, yang berbeda dari kehidupan normal masyarakat. Gangguan mental dan perilaku banyak diderita orang-orang dari semua wilayah, negara, dan masyarakat. Ini terkait dengan fungsi otak atau sistem saraf.

Lantas benarkah orang gila tidak pernah sakit jasmani? Banyak teori bertebaran menjelaskan alasan orang gila selalu sehat, seperti imunitas manusia yang mengikuti lingkungannya, mereka tidak pernah stress atau tidak banyak pikiran (kekuatan pikiran), dan otak mereka tidak merespon penyakit.

Tubuh manusia memiliki keunikan dapat berubah mengikuti lingkungan, sistem imunitas dapat menyesuaikan lingkungan. Teori ini cukup masuk akal, tetapi dalam kasus ini tidak berlaku. “Bisa saja. Tetapi bukan secara ekstrem bahwa mereka kebal. Tetapi mereka tidak bisa mengutarakan apa keluhannya,” jelas dokter Ronny kepada Sekoci (16/01).

“Jadi salah satu penyakit adalah appendisitis (radang usus buntu), karena nyeri sementara pada ODGM tidak bisa mengutarakannya hingga tiba-tiba sudah parah baru ketahuan terkena appendisitis,” tambahnya.

Teori bahwa orang gila tidak pernah stress dan tidak ada beban pikiran. Jika mengacu pada salah satu cara hidup sehat maka teori itu bisa diterima, secara penyakit akan mudah hinggap jika pikiran kita terlalu banyak beban. Tetapi teori itu juga tidak berlaku dalam kasus ini.

“Kan mereka itu ada kelainan mental. Itu sudah termasuk sakit dan sakit jiwa ada jenis kejar atau paranoid alias selalu ketakutan,” bantah dr Ronny. “Bukan tidak ada pikiran tetapi jenis pikir, alur, cara, dan arus mereka berbeda dengan kita. Jadi kekompleksannya beda, bukan tidak ada pikiran.”

Salah satu ciri gangguan kejiwaan adalah kecemasan atau ketakutan yang berlebihan. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia menunjukkan bahwa gangguan neuropsikiatri memiliki prevalensi titik agregat sekitar 10% untuk orang dewasa.

Sebuah survei menunjukkan bahwa gangguan kecemasan adalah yang paling umum di semua gangguan mental, sedangkan gangguan substansi dan gangguan kontrol impuls secara konsisten kurang lazim.

Teori lainnya mengatakan bahwa sebenarnya otak mereka tidak merespon penyakit hingga tidak merasakan sakit. Bagi orang normal saat tubuh merasakan adanya penyakit, otak akan merespon dan memberitahu bahwa tubuh kita sedang bermasalah. Lagi-lagi teori ini tidak berlaku dalam kasus ini.

“Bukannya tidak merespon tetapi tidak ada hendaya untuk mengungkapkan yang terjadi pada diri, sosial, dan lingkungannya. Karena hendaya itu berasal dari diri sendiri, sosial, dan lingkungan,” jelas dr Ronny.

“Hendaya pribadi misalnya tidak mau mandi atau mandi terlalu sering, pokoknya sesuatu yang tidak normal. Hendaya sosial jadi mereka tidak bisa bersosialisi. Hendaya lingkungan artinya mereka tidak merespon terhadap lingkungan, contohnya cuaca dingin mereka malah buka baju. Bukannya mereka tidak tahu arti dingin, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan saat udara dingin,” tambahnya.

Gangguan disosiatif dialami oleh mereka dengan masalah kejiwaan parah, mereka tidak ingat diri sendiri dan lingkungan. Mereka juga mengalami gangguan kognitif atau gangguan di dalam pikiran yang menyebabkan fungsi otak bermasalah.

Selama ini masyarakat mengenal konsep sakit jasmani seperti tubuh lemah tidak berdaya, susah makan, demam tinggi, dirawat di rumah sakit, dan harus minum obat. Lantas apakah orang gila tidak mengalami semua itu berarti mereka sehat?

Banyak yang berpikir bahwa orang gila tidak ada yang dilarikan ke RS karena sakit jasmani. Yang harus diketahui, banyak kasus orang gila dilarikan ke UGD, tentunya bukan karena sakit mental atau kecelakaan.

Dokter Ronny memberikan informasi bahwa di RSJ Amino Gondohutomo ada UGD dan ruang operasi khusus, yang masuk ke situ kebanyakan mengalami radang usus buntu. Mereka (pasien gangguan jiwa) tidak bisa bilang karena mereka tidak tahu caranya, semuanya diketahui oleh perawat atau dokter bangsal.

Kesimpulan

Orang dengan gangguan kejiwaan atau biasa disebut orang gila terlihat selalu sehat adalah kamuflase karena keterbatasan fungsi otak hingga mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Jenis pikir, alur, cara, dan arus mereka berbeda dengan kita. Faktor hendaya sangat mempengaruhi perilaku mereka, yang sebenarnya sedang sakit jasmani tetapi seolah merasa sehat.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!


What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

Kategori: Mitos

Artikel Terbaru

Apakah Orang Gila Secara Jasmani Tidak Pernah Sakit?