Mendedah Uyghur Xinjiang: Mengapa Negara-negara Timur Tengah Bungkam?


Ketika negara-negara non-Muslim lantang menyuarakan pembelaan atas Muslim Uyghur di Xinjiang, negara Timur Tengah malah memilih mendukung Tiongkok. Kabar ini lantas menjadi perbincangan hangat, bahkan selalu dijadikan senjata oleh China bahwa mayoritas negara Islam mendukung mereka dan masalah Xinjiang adalah urusan dalam negeri Tiongkok.

Apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa negara mayoritas Muslim memilih bungkam? Masalah ini mungkin terlihat sederhana, tetapi ada hal rumit yang membutuhkan kejernihan pikiran dalam menelaahnya.

Pada bulan Juli, dua koalisi menandatangani pernyataan tertulis di Dewan Hak Asasi Manusia PBB terkait masalah Uyghur Xinjiang. Satu kubu menentang kebijakan China di Xinjiang, kubu lainnya mendukung China. Kubu yang menentang China ada 20 negara, menyerukan Beijing untuk menghentikan aksi penahanan massal, pengawasan, dan pembatasan terhadap warga Uyghur dan minoritas lainnya di provinsi tersebut.

Kubu kedua mendapat dukungan 37 negara, mereka mendukung Tiongkok dan mengapresiasi prestasi Beijing dalam hal Hak Asasi Manusia. Pihak Tiongkok akhirnya berbangga hati karena mayoritas mendukung mereka. Tetapi ada hal menarik di mana perbedaan geografis kedua kubu sangat mencolok.

Kubu pertama didominasi negara-negara Eropa. Sedangkan kubu kedua sebagian besar dari negara-negara Afrika dan Timur Tengah, di antaranya Aljazair, Bahrain, Mesir, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Sudan, Suriah, dan Uni Emirat Arab.

Kontra China (orange). Pro China (biru). Graphic: Jason Kwok, CNN

Haisam Hassanein menulis ‘Analisis Kebijakan’ di website Washington Institute, mendedah geopolitik Timur Tengah. Alasan mengapa negara-negara Arab mendukung China tidak lain terkait dengan kebijakan sosial politik dan ekonomi.

Enam negara Teluk menandatangani surat pro-China. Pada Agustus, Qatar menarik diri dari koalisi. Tidak jelas alasan mengapa Qatar menarik diri mendukung China, tetapi  Ali al-Mansouri, perwakilan tetap Qatar untuk PBB, menjelaskan bahwa langkah itu diambil untuk mempertahankan sikap netral mereka.

Mungkin alasan itu hanya sekedar basa-basi, ada hal lain yang lebih penting dan lebih luas. Alasan sederhana mengapa Negara-negara Timur Tengah mendukung China, karena mereka juga menerapkan pemerintahan otoriter dan tidak mau asing ikut campur dengan masalah dalam negeri mereka.

Contohnya seperti Mesir, mereka telah lama ditekan dunia internasional untuk memperbaiki kondisi ribuan tahanan politiknya. Jadi, mengkritik penahanan massal Tiongkok sama saja membuka borok diri sendiri. Inilah sebabnya mengapa Mesir membiarkan pemerintah China menginterogasi Uyghur di Kairo, dan memuji Beijing karena menahan ratusan ribu dari mereka di Xinjiang.

Negara-negara Arab menyadari bahwa China terlalu besar untuk ditentang. Mungkin dalam pandangan mereka membela Uyghur tidak layak dengan risiko besar yang harus dihadapi. Tidak dipungkiri bahwa China memiliki begitu banyak pengaruh global sehingga negara-negara Arab memilih jalan aman demi stabilitas pemerintahannya.

Negara-negara yang sangat ketergantungan dengan China pastinya memilih bungkam atau membela, Uyghur Xinjiang hanya minoritas dan keselamatan negaranya lebih penting. Abad 21 di mana penjajahan ekonomi sudah menjadi praktek lumrah. Berbicara kerjasama antar negara, pilihan paling realistis saat ini antara Amerika Serikat atau Tiongkok, kedua negara tersebut menguasai perekonomian dunia.

Mengapa Amerika Serikat tidak ikut menandatangani pernyataan sikap di Dewan Hak Asasi Manusia PBB, sedangkan mereka paling lantang menentang China? AS telah mengundurkan diri dari Dewan HAM PBB tahun lalu, jadi mereka tidak punya hak menandatangani.

Alasan China terlalu perkasa untuk ditantang negara-negara Teluk cukup masuk akal. Tidak seperti kasus kekerasan militer Myanmar terhadap Muslim Rohingya, negara-negara mayoritas Muslim bersama-sama dengan lantang mengutuk Myanmar. Negara-negara OKI mengambil peran aktif mengutuk Myanmar di Dewan HAM PBB pada 2017.

Myanmar tentunya tidak memiliki kekuatan global untuk ditakuti, tidak seperti China. Padahal di tahun 2015, OKI yang beranggotakan 57 negara Muslim menyatakan kekuatirannya tentang Uyghur “apakah mereka bisa merayakan Ramadhan”.

Solidaritas OKI untuk Palestina dan Rohingya sangat besar, tetapi untuk Uyghur mereka bungkam. “Tiongkok telah berhasil memenangkan dukungan negara-negara ini karena mereka membutuhkan investasi Tiongkok,” kata Sophie Richardison, direktur China di Human Rights Watch.

Pada Februari, Arab Saudi menyatakan “penghormatan” terhadap pemimpin Tiongkok Xi Jinping sebelum menandatangani kontrak komersial besar. Sedangkan Mesir, menginginkan Beijing untuk membiayai insfratruktur mereka.

Untuk waktu lama Turki menjadi negara mayoritas Muslim yang paling keras mengkritik tindakan China di Xinjiang. Ankara tidak segan mengutuk penahanan orang Uyghur di kamp konsentrasi. Namun, pemerintahan Recep Erdogan memilih memutar balik, lebih fokus pada kerjasama ekonomi dengan Beijing. Erdogan menjadi lembut terhadap China, walaupun terkadang melontarkan kritikan halus.

Erdogan juga memilih jalan aman dengan tidak menandatangani surat pernyataan di Dewan HAM PBB. “Ada banyak simpati untuk Uygur di Turki, tetapi kenyataannya Erdogan membutuhkan China sebagai sekutu karena alasan ekonomi dan untuk menangkal tekanan diplomatik Barat pada masalah-masalah seperti Suriah,” kata Remi Castets, ilmuwan politik dari Universitas Bordeaux-Montaigne, ia mengkhususkan diri di China.

Bagaimana dengan negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, Indonesia? Presiden Jokowi hingga saat ini memilih diam tidak mengeluarkan pernyataan pro atau kontra terhadap China atas Xinjiang. Seperti halnya dengan negara-negara pro-China, Indonesia juga sangat membutuhkan investasi China.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
1
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

Kategori: International

Artikel Terbaru

Mendedah Uyghur Xinjiang: Mengapa Negara-negara Timur Tengah Bungkam?