Menggugat Hoax: Fakta Itu Banyak, Tetapi Kebenarannya Hanya Ada Satu


Hoax

Bongkahan kata telah lama tersimpan di dalam kotak pandora menanti untuk dirangkai. Sebuah pertanyaan hadir ketika pengecekan fakta begitu masif bergentayangan tanpa pengawasan, sebuah ironi baru yang tak pernah disadari.

Setiap orang pastinya pernah berbohong karena hal itu sangat mudah dilakukan, meskipun kita tahu seharusnya kita tidak boleh melakukannya. Tetapi apakah setiap kebohongan dapat diidentifikasi? Lantas, adakah kepastian bahwa kita tidak mungkin masuk perangkap kebohongan?

Dengan menjamurnya pengecekan fakta membuat Anda harus lebih berhati-hati, bantahan palsu akan membuat Anda tersandung. Alih-alih menyampaikan kebenaran, tidak sedikit pengecekan fakta tanpa objektivitas malah menciptakan hoax baru.

Sejatinya bantahan bukan kebenaran, dan warta bukan fakta. Rabindranath Tagore pernah memberikan wejangan: “Fakta itu banyak, tetapi kebenarannya hanya ada satu.” Itu artinya setiap orang dapat dengan mudah mencari fakta, tetapi mendapatkan ‘kebenaran sejati’ tidaklah mudah.

Saat ini di mana budaya bias konfirmasi begitu kuat, setiap orang bebas menentukan kebenarannya sendiri (kebenaran berdasarkan selera). Sejatinya kebenaran tidak bisa menyenangkan semua orang. “Sifat kebohongan adalah untuk menyenangkan hati, sedangkan kebenaran tidak pernah mempedulikan perasaan siapapun,” nasihat Katherine Dunn.

Apa yang diingat oleh seseorang bergantung pada bagaimana cara mereka berbohong, menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Applied Research and Memory Cognition. Dalam penelitian mereka, Vieira dan Lane (2013) membandingkan dua jenis kebohongan, (1) penolakan singkat dan (2) deskripsi salah.

Para peneliti di Lousiana State University menemukan bahwa kebohongan umumnya jatuh ke dalam ruang deskripsi yang salah, atau bantahan palsu. Bantahan palsu dengan deskripsi, seseorang sebenarnya sedang mengarang detail dan cerita untuk kebohongan.

Jenis ini ketika kebohongannya terbongkar maka secara konsisten akan menciptakan kebohongan baru secara terus menerus sampai tidak ada lagi ruang untuk berbohong. Sejatinya kebohongan membutuhkan kosistensi untuk menutupi kebohongan lainnya.

Ketika isu politik menjadi primadona, mereka yang terhubung dengan jaringan politik dapat dengan mudah membuat bantahan. Mirisnya, bantahan dari mereka tidak jarang dijadikan kebenaran oleh pengecekan fakta.

Ketika seseorang membuat bantahan palsu untuk menyelamatkan dirinya dari tuduhan, kebohongan akan lebih mudah diingat karena dibutuhkan lebih banyak kekuatan otak untuk membuat detail yang salah, menurut para peneliti.

Di sisi lain, bantahan palsu melibatkan kebohongan dengan mengatakan sesuatu tidak terjadi, sebenarnya itu terjadi. Kebohongan semacam ini sangat sederhana dan tidak membutuhkan skenario otak untuk mengarang cerita, cukup membantah dengan mengatakan “itu tidak benar”.

Konsep penolakan berakar pada psikoanalisis. Penolakan telah lama dianggap cukup efektif dalam memblokir kebenaran yang tidak diinginkan. Penolakan biasanya digunakan untuk menghindari rasa sakit hati, bagian dari fanatisme dan kepercayaan.

Fenomena ini nyata, tetapi tidak pernah disadari oleh mereka yang membutuhkannya. Mereka merasa nyaman dengan kebenaran ilusi yang melibatkan keyakinan dan ingatan.

Surat kabar London The Sunday Times telah mendefinisikan bantahan palsu sebagai “pernyataan yang direkam, biasanya dibuat oleh seorang politisi, yang menolak berita dari seorang jurnalis”. Penolakan, dalam bahasa sederhana adalah pernyataan atau tuduhan bahwa “itu tidak benar”.

Hal itu merupakan bagian dari mekanisme pertahanan psikologis untuk menghindari tuduhan, ketika seseorang dihadapkan pada fakta yang membuatnya tidak nyaman. Teori penolakan pertama kali diteliti secara serius oleh Anna Freud.

Dia mengklasifikasikan penolakan sebagai mekanisme pikiran yang tidak dewasa karena bertentangan dengan kemampuan untuk belajar menerima kenyataan. Dalam hal penolakan fakta, seseorang akan menghindari fakta dengan memanfaatkan kebohongan.

Seseorang yang menyangkal kebenaran biasanya menggunakan kebohongan untuk menghindari fakta yang mereka pikir mungkin menyakitkan bagi diri mereka sendiri atau orang lain. Biasanya mereka akan mencari atau menciptakan fakta sendiri untuk membantahnya.

Penolakan melibatkan pikiran, tindakan, dan perilaku yang meningkatkan kepercayaan diri bahwa tidak ada yang perlu diubah dari apa yang diyakini. Ini mungkin menjadi konsep yang sulit bagi banyak orang untuk mengidentifikasi diri mereka sendiri, merupakan penghalang utama untuk mengubah perilaku yang menyakitkan.

Tentu saja, pada akhirnya cara terbaik untuk menghindari kebohongan dan penolakan palsu adalah dengan tidak mengatakan sama sekali. Jangan biarkan rasa nyaman dari penolakan palsu membuai paradigma Anda hingga mengorbankan akal sehat.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
1
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

kategori: Informasi

Artikel Terbaru

Menggugat Hoax: Fakta Itu Banyak, Tetapi Kebenarannya Hanya Ada Satu