Apakah ‘Single Parent’ Hanya Berlaku Untuk Wanita?


Shutterstock

PERINGATAN: ARTIKEL INI KHUSUS DEWASA

Mengasuh dan membesarkan anak sendirian tanpa pendamping hidup sangatlah berat, hal ini lebih dikenal sebagai “single parent’ (orangtua tunggal). Ada hal menarik tentang single parent di mana setiap informasi ini hampir semua merujuk pada wanita (ibu tunggal), masyarakat lebih mengenal istilah ini ditujukan khusus untuk wanita.

Umumnya informasi tentang single parent mengulas tentang tips, motivasi, pengalaman, dan psikologi, semuanya tentang ibu tunggal. Hingga saat ini saya belum pernah menemukan informasi tentang single parent dari sisi pria (ayah tunggal). Secara makna yang sebenarnya, single parent berlaku untuk wanita dan pria.

Sebenarnya tidak salah jika single parent identik dengan wanita. Mengapa demikian? Apakah tidak ada pria yang menjadi single parent? Jawaban dari semua pertanyaan itu cukup sederhana, karena wanita lebih banyak menjadi ibu tunggal dibanding pria (ayah tunggal). Namun, jika dilihat dari alasannya, tidak sederhana dan cukup rumit.

Pernikahan tidak melulu tentang cinta, ada hal penting dan tabu untuk diungkapkan yaitu kebutuhan biologis (seks). Dalam hal kebutuhan, pria cenderung akan berpotensi besar menjadi candu. Itulah mengapa pria kesulitan ketika menjadi single parent, kebutuhan biologis mereka tidak terpenuhi.

Kebutuhan biologis? Ini adalah jawaban tabu namun nyata mengapa pria ingin cepat-cepat menikah lagi setelah ditinggal istrinya. Sekarang mari kita mencari tahu dari data ilmiah apakah jawaban itu benar. Berdasarkan serangkaian penelitian yang dijelaskan di WebMD, dorongan seks pria lebih kuat dibanding wanita.

Tidak hanya itu, pria bisa terangsang kapan saja, di mana saja, oleh siapa saja. Sedangkan wanita cukup sulit, sumber-sumber libido wanita lebih sulit untuk dijabarkan. Sudah umum diketahui bahwa wanita melibatkan emosinya untuk memutuskan dengan siapa dia akan berhubungan intim.

Selain itu, faktor sosial dan budaya juga berpengaruh. Edward O. Laumann, PhD, profesor bidang sosiologi University of Chicago dan penulis buku The Social Organization of Sexuality, menjelaskan: Hasrat seksual pada wanita sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan konteks.

Para peneliti menemukan pola dorongan seks pria dan wanita:

1. Pria lebih memikirkan seks
Mayoritas pria dewasa di bawah 60 tahun memikirkan seks setidaknya sekali dalam sehari. Hanya seperempat wanita yang berpikir tentang seks setiap harinya, mereka tidak setiap hari menginginkan seks. Seiring bertambahnya usia, fantasi tentang seks keduanya sama-sama berkurang, tetapi pria masih berfantasi dua kali lebih sering dibanding wanita.

2. Pria lebih aktif mencari seks
Hal ini karena pria lebih terdorong oleh hasrat seks yang lebih besar. Bagi pria, mereka tidak sungkan untuk meminta seks di awal hubungan dan tengah hubungan, bahkan setelah putus bertahun-tahun lalu.

Karena mendapatkan pasangan seks tidak semudah membuka pintu rumah, duapertiga pria mengaku melakukan masturbasi untuk pelampiasan hasrat seksnya. Sedangkan hanya 40 persen wanita melakukannya, itupun jarang dilakukan.

3. Libido wanita lebih rumit
Bukan rahasia lagi jika pria selalu mencari cara untuk membangkitkan gairah seksnya, maka tidak heran jika muncul istilah ‘pria hidung belang’. Uniknya, gairah seksual wanita justru sulit dibangkitkan, bahkan wanita sering tidak tahu cara membangkitkan gairahnya sendiri.

Para peneliti dari Universitas Northwestern Meredith Chivers dan kawan-kawan, pernah meneliti sekelompok pria dan wanita heteroseksual dan homoseksual, mereka diminta menonton film porno. Hasilnya mengungkapkan bahwa pria lebih spesifik menentukan dengan siapa ingin berhubungan intim, sebaliknya wanita lebih terbuka dan tidak spesifik.

4. Dorongan seks wanita sangat dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya
Dalam ulasannya, Baumeister menemukan bahwa sikap, praktik, dan hasrat seksual wanita lebih dipengaruhi oleh lingkungannya daripada pria. Sebagai contoh; wanita yang rajin beribadah cenderung lebih tertutup tentang seks. Sebaliknya, bagi pria tidak ada hubungannya sikap religius dan hasrat seksual mereka.

Mengapa dorongan seks wanita lebih lemah dan lebih mudah terpengaruh? Sebuah teori yang beredar mengatakan bahwa hal itu dipengaruhi oleh posisi pria yang dianggap lebih kuat dan pemimpin di masyarakat. Namun, Laumann lebih memilih menjelaskan dengan pendekatan secara genetik atau sosiobiologi.

Pria lebih intens berhubungan seks untuk meneruskan materi genetik mereka. Sedangkan wanita akan lebih berhati-hati dan tidak mengumbar dengan alasan mereka yang akan menanggung beban dari hubungan seks yaitu hamil dan merawat bayi. Itulah mengapa wanita lebih peka dan lebih selektif terhadap kualitas hubungan. Itu juga menjadi alasan mengapa wanita lebih memilih pria mapan dan dewasa yang bisa bertanggung jawab dalam merawat anak.

5. Lemahnya libido wanita sulit diatasi
Dorongan seks pria tidak terlalu bertele-tele alias langsung pada intinya, itu karena hormon seksual pada otaknya dirancang demikian. Beda dengan wanita, mereka lebih kontekstual, lebih subjektif, dan lebih berlapis pada kisi emosi. Bagi pria, seks lebih sederhana dan lebih mudah, tetapi bagi wanita harus ada intro seperti berbicara dulu, makan romantis dulu, menjalin hubungan cinta dulu, lalu setelah merasa nyaman baru berhubungan seks.

6. Intensitas orgasme wanita dan pria berbeda
Untuk pria, rata-rata mereka membutuhkan waktu 4 menit dari awal masuk hingga ejakulasi. Sedangkan wanita membutuhkan waktu lebih lama sekitar 10-11 menit untuk mencapai orgasme. Fakta lainnya mengungkapkan tidak semua hubungan seks mencapai orgasme, 75% pria mengatakan mereka selalu mengalami orgasme, sedangkan wanita hanya 26%.

Dari data hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa kebutuhan seks pria lebih besar dan sulit dikontrol dibanding wanita. Jadi, mengapa pria ingin lebih cepat menikah lagi dengan alasan kebutuhan biologis bisa diterima secara ilmiah. Karena dorongan seks wanita lebih mudah diredam dan terkontrol, mereka dapat bertahan lama menjadi single parent, bahkan hingga akhir hayatnya tidak menikah lagi.

Berbicara tentang menikah, ada dua fase di mana cinta menjadi alasan utama dan kemudian tidak lagi menjadi prioritas. Saat kita menikah pertama kali umumnya mencari pasangan berdasarkan cinta. Namun, ketika lepas dari pernikahan dan menikah kedua kalinya, cinta tidak lagi berada paling depan.

Seperti penjelasan di atas, pria menikah lagi terdesak oleh kebutuhan biologis. Ketika bersama istri biasanya kebutuhan seks terpenuhi kapan saja, tiba-tiba tanpa istri mereka kebingungan memenuhi kebutuhan biologisnya. Bagi pria, seks adalah candu yang harus terpenuhi. Mungkin Anda berpikir ada juga pria yang tidak menikah lagi dalam waktu yang lama.

Karakter dan kemampuan setiap manusia pastinya berbeda-beda. Pria yang bertahan lama menjadi single parent pastinya butuh perjuangan lebih besar dalam mengendalikan kebutuhan biologisnya, salah satu caranya dengan berpuasa (dalam ajaran islam, puasa adalah cara meredam nafsu seksual). Ketika usia lebih dari 60 tahun, meredam kebutuhan biologis akan lebih mudah karena dorongan seksualnya semakin menurun.

Hal lainnya mengungkapkan bahwa pria dan wanita dewasa menikah lagi memiliki alasan yang berbeda. Secara umum, pria terdesak oleh kebutuhan biologis, sedangkan wanita karena faktor kebutuhan ekonomi (meringankan beban biaya hidup keluarga). Menjadi ibu tunggal sangat berat secara ekonomi, terutama memenuhi kebutuhan anak saat mengenyam bangku sekolah.

Ada sebuah hal menarik tentang hukum perkosaan di Inggris. Ketika seorang pria melakukan penetrasi seks dengan seorang wanita tanpa persetujuan, itu adalah pemerkosaan. Tetapi jika seorang wanita memaksa seorang pria melakukan penetrasi seks dengannya tanpa persetujuan, itu bukan pemerkosaan di bawah hukum Inggris.

Hukum yang cukup aneh? Hal itu dikarenakan objek yang menikmati, didefinisikan sebagai penetrasi penis. Tetapi pelaku wanita dapat didakwa dengan pelanggaran lain seperti menyebabkan seseorang melakukan aktivitas seksual tanpa persetujuan, paksaan atau serangan seksual, atau serangan melalui penetrasi.

Yang harus dicatat, jika pria ereksi, mereka tidak harus dalam kondisi menginginkan seks. “Ereksi adalah murni respon fisiologi terhadap stimulus,” jelas peneliti seksual Dr Weare. “Pria dapat memperoleh dan mempertahankan ereksi bahkan ketika dalam kondisi cemas, marah, ketakutan, dan lainnya.”

Kesimpulan

Istilah ‘single parent’ berlaku untuk pria dan wanita. Istilah ini selalu diidentikan dengan wanita (ibu tunggal) karena mereka cenderung lebih lama bertahan hidup tanpa pendamping. Sedangkan pria (ayah tunggal) lebih terdorong untuk menikah lagi, ini bukan karena pria tidak setia, tetapi desakan kebutuhan biologis yang harus terpenuhi.

Bagi pria, seks adalah candu. Berdasarkan hasil penelitian, dorongan seksual pria lebih besar dibanding wanita. Mayoritas pria usia di bawah 60 tahun memikirkan seks setidaknya sekali dalam sehari.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

kategori: Informasi

Artikel Terbaru

Apakah 'Single Parent' Hanya Berlaku Untuk Wanita?