Apa Itu Wisata Halal?


Rencana pemerintah menerapkan wisata halal menjadi polemik di masyarakat. Bahkan baru-baru ini jejaring sosial diramaikan dengan informasi penolakan wisata halal di Danau Toba. Apa sebenarnya ‘wisata halal’?

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menjelaskan bahwa Destinasi halal yang dimaksud adalah tujuan wisata yang lengkap dengan fasilitas halal, pariwisata ramah wisatawan muslim (moslem friendly tourism).

Contoh kriteria yang harus ada pada destinasi halal adalah mudah ditemukannya masjid, tempat wudhu, hotel memiliki petunjuk arah kiblat, jam shalat, kitab suci, dan lain sebagainya.

“Pariwisata sebagai sektor andalan yang harus didukung oleh semua sektor lain terutama yang terkait langsung dengan infrastruktur dan transportasi,” Presiden Joko Widodo.

Wisata Halal Dunia atau yang lebih dikenal dengan World Halal Tourism Award setiap tahunnya digelar, Indonesia selalu mendominasi. Wisata halal bertujuan meningkatkan pengunjung wisatawan asing, pasar wisata Muslim akan terus tumbuh dengan pesat.

CNBC Indonesia dalam laporannya, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan kalau turis di Lombok meningkat hingga 50% pada 2017 setelah diklaim sebagai destinasi halal Indonesia. Ya, Lombok pernah memenangkan dua penghargaan World Halal Travel Awards (WHTA) 2015 dalam kategori World Best Halal Tourism Destination dan World Best Halal Honeymoon Destination.

Untuk itu, Arief berharap wisata halal di Indonesia semakin berkembang. Ia pun mendorong dua provinsi lain seperti Aceh dan Sumatera Barat (Sumbar) untuk menjadi destinasi halal selanjutnya melihat kesuksesan yang diraih Lombok.

Arief menilai kalau kedua provinsi tersebut memiliki daya tarik wisata muslim yang bagus. Untuk menentukan destinasi halal memang perlu melihat tiga aspek mulai dari atraksi, akses, serta amenitas. Lombok, Sumbar, dan Aceh yang paling memenuhi ketiga kategori tersebut.

“Kita lihat dari tiga alat, atraksi, aksesibilitas, amenitas. Di bawah itu tentu kita lihat culture, religion. Atraksinya gimana apakah ada unsur keagamaan nggak, ditambah komitmen. Kalau sudah diklaim halal relatif aman karena semua ada aturannya. Jangan khawatir turis bakal lari, mereka tidak akan pergi, lihat saja Lombok yang meningkat pesat setelah dicap sebagai destinasi halal,” jelas Arief.

Indonesia kembali menorehkan prestasi di level internasional dengan diraihnya peringkat pertama sebagai destinasi wisata halal dunia versi GMTI (Global Muslim Travel Index) 2019, yang diumumkan oleh CrescentRating – Mastercard.

Selain Indonesia dan Malaysia, urutan ranking wisata halal dunia versi GMTI diraih oleh Turki di posisi ketiga (skor 75), Arab Saudi di posisi keempat (skor 72), serta Uni Emirat Arab di posisi kelima (skor 71). Negara lain yang masuk dalam top 10 wisata halal dunia lainnya antara lain Qatar (skor 68), Maroko (skor 67), Bahrain (skor 66), Oman (skor 66), dan Brunei Darussalam (skor 65).

Pengembangan pariwisata halal Indonesia merupakan salah satu program prioritas Kementerian Pariwisata yang sudah dikerjakan sejak lima tahun yang lalu. Data GMTI 2019 menunjukkan bahwa hingga tahun 2030, jumlah wisatawan muslim (wislim) diproyeksikan akan menembus angka 230 juta di seluruh dunia.

Wisata halal dikembangkan dengan melihat potensi besar di mana wisatawan muslim dunia sangat besar, menyumbang devisa mencapai lebih dari Rp 40 triliun pada 2018. Mengacu pada target capaian 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang harus diraih di tahun 2019, Kementerian Pariwisata menargetkan 25% atau setara 5 juta dari 20 juta wisman adalah wisatawan muslim.

Terkait dengan kontroversi wisata halal Danau Toba, konsep ini dinilai ada kesalahan secara terminologi atau peristilahan. “Saya melihatnya ada salah penggunaan terminologi di sini. Mungkin bukan wisata halal yang dimaksud, tetapi Muslim Friendly Tourism. Yaitu, wisatawan yang Muslim mudah mendapatkan makanan yang halal, mudah mendapatkan tempat salat, dan lain-lain,” ujar Ketua Tim Quick Win 5 Destinasi Super-Prioritas, Irfan Wahid kepada detikcom.

Adapun kawasan Danau Toba merupakan salah satu destinasi wisata prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Quick Win dibentuk untuk mengakselerasi pengembangan potensi berbagai destinasi tersebut. Irfan menyebut, penggunaan istilah yang tepat untuk konsep wisata di Danau Toba adalah Muslim Friendly Tourism.

“Jadi bukan Halal Tourism seperti di Sumatera Barat, Aceh ataupun NTB. Karena kan memang budaya dan local wisdomnya 3 daerah tersebut berbeda dengan Kawasan Toba. Sumbar, Aceh dan NTB jelas sekali mayoritasnya Muslim. Sementara kawasan Toba, mayoritasnya justru non-Muslim,” jelas Irfan.

“Hal lainnya juga, adanya ambiguitas yang terjadi saat ini adalah banyak yang salah paham dengan konsep halal tourism. Halal tourism artinya muslim friendly tourism, kita membuat wisatawan Muslim yang datang nyaman tanpa mengubah DNA dari destinasi wisata yang sudah ada seperti Danau Toba,” imbuh Irfan.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

kategori: Indonesia

Artikel Terbaru

Apa Itu Wisata Halal?