Waspada Mythomania, Ketika Berbohong Dijadikan Hobi


Mythomania atau juga disebut bohong patologis adalah perilaku kronis di mana seseorang terbiasa berbohong secara kompulsif. Sejatinya setiap manusia pastinya pernah berbohong, tetapi mungkin hanya sesekali atau saat dibutuhkan saja. Bagaimana jika berbohong dijadikan hobi?

Kasus mythomania bukan sekedar isapan jempol dan sudah diakui oleh ilmu psikologi selama lebih dari satu abad, belum ada definisi universal yang jelas tentang kondisi ini. Beberapa kebohongan patalogis disebabkan oleh gangguan mental, penderitanya akan berbohong tanpa alasan yang jelas.

Dalam sarkasme, mythomania kerap ditargetkan kepada politikus. Dunia politik diindentikan dengan singgasana kebohongan di mana berbohong menjadi menu rutin untuk mempertahankan jabatan dan eksistensi. Maka tidak heran jika politik ibarat dunia hitam tempat melampiaskan nafsu duniawi.

“Politik adalah seni mencari masalah, menemukannya di mana-mana, mendiagnosisnya secara salah, dan menerapkan solusi yang salah.”
– Groucho Marx

Penipuan atau manipulasi yang disengaja (kebohongan) adalah tindakan kognitif yang kompleks, dengan implikasi hukum, moral, politik dan ekonomi. Walaupun ada sejumlah alasan mengapa seseorang berbohong (untuk melampiaskan perasaan atau menghindari situasi sulit), kebohongan patologis biasanya merupakan gejala dari masalah yang lebih besar.

Tentang kebohongan

Tidak ada seorang pun yang menikmati kebohongan, kecuali Anda mengalami gangguan mental hingga memilih kebohongan yang lebih nyaman. Sejatinya kebenaran tidak bisa menyenangkan semua orang. Itulah mengapa ada orang yang lebih memilih kebohongan dibanding kebenaran yang dapat membuat sakit hati.

“Perlahan-lahan saya menyadari bahwa orang-orang akan lebih mudah menelan kebohongan daripada kebenaran, seolah-olah rasa kebohongan itu membuat nyaman hingga menjadi kebiasaan.”
– Martha Gellhorn

Psikolog Bella de Paulo menemukan bahwa rata-rata setiap orang mengatakan 1,5 kebenaran sehari. Dan menurut penelitian tahun 2002 dari University of Massachusetts, 60 persen orang dewasa tidak dapat melakukan percakapan sepuluh menit tanpa mengatakan setidaknya satu kebohongan. Para peneliti juga menemukan bahwa dua orang akan mengatakan tiga kebohongan dalam waktu sepuluh menit setelah saling bertemu.

Munculnya jejaring sosial kian memperparah kebiasaan berbohong. Facebook dan Twitter telah melipatgandakan peluang untuk berbohong, dan membuatnya lebih mudah bagi kebohongan untuk menyebar. Saat ini, kebohongan menyebar dengan cepat di seluruh dunia saat kebenaran masih tertidur lelap. Pengguna jejaring sosial seperti berlomba-lomba mendapatkan kebenaran ilusi, bahkan mereka tidak segan menciptakan kebohongan sebagai pembenaran.

Kebohongan yang paling sering diucapkan manusia adalah “aku baik-baik saja” untuk menutupi kesedihan atau rasa sakit. Kita juga sering berbohong dalam pujian, “Anda terlihat cantik!” Sementara di dalam hati menggerutu “ih amit-amit”. Dalam kondisi sangat membutuhkan juga dapat mendorong kita berbohong, seperti saat meminjam uang: “Anda sungguh orang yang baik hati!” Rayuan gombal agar diberikan hutang.

Sejarah mythomania

Mytomania pertama kali diidentifikasi pada tahun 1891 oleh psikiater asal Jerman Anton Delbrueck. Saat itu ia menyebutnya pseudologia fantastica sebagai gambaran sekelompok pasien yang kerap bercerita bohong disertai khayalan dalam cerita mereka.

Istilah “Mythomania” berasal dari dua akar kuno, mythos dari Yunani (myth atau mitos) dan mania dari bahasa Latin (kegilaan yang emosional atau kesenangan tak terkendali). Istilah ini digunakan pertama kali pada awal abad ke-20, didahului oleh kata yang terkait “mythomaniac” yang muncul sekitar pertengahan abad ke-19.

“Mythomaniac” awalnya merujuk pada seseorang yang terobsesi atau bergairah tentang hal yang berbau mitos, tetapi akhirnya digunakan untuk individu yang terpengaruh dan menciptakan kebohongan hingga menjadi “mythomania”. Penggunaan istilah mythyomania diketahui pertama kali sekitar tahun 1909, dengan arti yang sama seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Apakah kebohongan patologis gejala atau penyakit?

Kebohongan patologis atau pathological lying (PL) adalah topik kontroversial. Sampai saat ini belum ada konsensus dalam komunitas psikiater mengenai definisinya, meskipun ada kesepakatan umum tentang elemen intinya. PL ditandai oleh sejarah panjang (mungkin seumur hidup) dari kebohongan yang sering dan berulang yang tidak ada motif psikologis atau manfaatnya.

Sementara kebohongan biasa dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat atau untuk menghindari hukuman, sedangkan kebohongan patologis sering tampak tanpa tujuan pasti. Perilaku ini sulit dipahami, tetapi PL telah diakui dan ditulis dalam literatur psikologi selama lebih dari satu abad.

Perbedaan kebohongan patologis dan kebohongan biasa

Kebohongan patologis berbeda dengan kebohongan putih atau kebohongan biasa (kebohongan kecil). Kebohongan putih sering kita lakukan dan ini jenis kebohongan paling umum, terkadang kebohongan lebih berguna dibanding berkata jujur karena ini tidak berbahaya.

Contoh kebohongan putih misalnya, seorang pedagang pakaian berkata “pakaian itu terlihat indah di badan Anda!” Apa yang dikatakannya tidak lebih hanya pujian palsu agar Anda membeli jualannya.

Sedangkan mythomania tidak bisa membedakan antara kebohongan dan kebenaran, mereka bahkan mempercayai kebohongan yang mereka ciptakan sendiri. Sebuah studi 2016 tentang apa yang terjadi pada otak ketika Anda berbohong menemukan bahwa semakin banyak kebohongan yang diceritakan seseorang maka semakin mudah dan sering Anda menciptakan kebohongan.

Dari semua jenis kebohongan patologis, mythomania merupakan perilaku yang dianggap paling parah, karena jenis ini menggabungkan fakta dan fantasi. Itu artinya penderita mythomania tidak dapat membedakan antara kebenaran dan kepalsuan, si pembohong percaya pada kebohongannya sendiri.

Pembohong patologis selalu memikat

Seorang pembohong yang patologis adalah seorang pendongeng yang sangat terlatih. Mereka sangat memahami bagaimana cara memikat pendengarnya dengan menceritakan kisah yang rumit dan fantastis hingga membuat lebih bersemangat.

Pembohong patologis cenderung berbohong dengan cara bercerita. Mereka merasa lebih tahu tentang semua kisah yang ada di dunia. Selain itu, mereka juga menciptakan kisah sendiri layaknya buku dongeng. Itulah mengapa perilaku ini sulit dipahami karena mereka tidak ada alasan jelas mengapa berdusta.

Ciri-ciri mythomania

Pendusta patologis, di sisi lain sering kurang empati, mereka kerap lebih dingin dan lebih perhitungan. Ahli saraf melakukan penelitian pada otak pembohong patologis dan menemukan bahwa mereka mengalami kesulitan bertahan dalam pekerjaan jangka panjang.

Kebiasaan mendapatkan keuntungan secara singkat dari kebohongan mereka yang konstan hingga membuat mereka hidup berkelana, terus-menerus berganti tempat kerja dan hubungan sosial.

Sejatinya kebohongan membutuhkan konsistensi untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Beberapa bukti dari studi 2017 mengungkapkan bahwa masalah yang terjadi pada sistem saraf pusat dapat mempengaruhi seseorang menjadi pembohong patologis.

Gangguan kepribadian seperti anti-sosial umumnya menjadi pemicu, sementara yang lainnya tidak jelas pemicunya. Tetapi para ahli percaya bahwa perilaku ini kemungkinan besar disebabkan oleh kebiasaan hingga menjadi terbiasa berbohong, kebiasaan yang selalu diulang-ulang akan terus dilakukan tanpa alasan.

Cara menangani pembohong patologis

Ketika seseorang berbohong kepada kita, kepercayaan kita pada mereka akan rusak. Jika Anda berpikir bahwa Anda sedang berurusan dengan pembohong yang patologis, Anda harus menangani situasi tersebut dan jangan langsung meninggalkannya.

Jika Anda bersedia membantu pembohong patologis, buat dia sadar bahwa Anda tahu kebenaran yang diceritakannya. Namun, sebelum Anda melakukannya, pertimbangkan potensi yang dapat menimbulkan perasaan sakit hati ketika Anda memberitahu keprihatinan Anda.

Selanjutnya, diskusikan masalah dengan tenang di ruang pribadi yang nyaman, cobalah untuk membantu mereka memahami apa yang terjadi pada dirinya dan dorong mereka untuk mencari bantuan kepada psikiater.

Jika Anda sudah berusaha melakukan hal di atas tetapi tidak ada pengaruhnya, Anda mungkin harus meninggalkannya dan jangan pernah lagi berhubungan. Kebohongan bisa sangat menyakitkan dan pembohong yang patologis harus menyadari bahwa perubahan diperlukan agar mereka tidak diasingkan oleh teman dan keluarganya.

Cara mengenali kebohongan patologis

Mengidentifikasi kebohongan patologis mungkin tidaklah mudah. Lagipula, mereka yang melakukannya mungkin tidak menyadari perilakunya, biasanya merasa tidak bisa mengendalikan kebohongan itu.

Untuk mengetahui apakah Anda menderita kebohongan patologis, Anda dapat bertanya pada diri sendiri dengan pertanyaan sederhana: “Apakah saya merasakan penyesalan setelah berbohong!” Jika jawabannya “tidak”, maka Anda berpotensi mengalami gangguan mythomania.

Untuk lebih memastikannya Anda harus mendatangi psikiater agar dapat membantu mengenali dan mengatasi perilaku ini. Jika Anda berhadapan dengan pendusta patologis, pahami kondisi mereka. Berempati dan bantu mereka serta pahami tentang apa yang menyebabkan mereka berbohong sambil mengambil sikap mendukungnya.

Berikut adalah beberapa ciri yang dapat membantu Anda mengenali kebohongan yang patologis:

  • Mereka sering berbicara tentang pengalaman dan prestasi diri sendiri atau keluarganya yang tampil sangat heroik.
  • Mereka juga kerap menjadi korban dalam banyak kisah mereka dengan tujuan mencari simpati dari pendengarnya.
  • Cerita mereka cenderung rumit dan terkesan sangat sempurna.
  • Jika Anda bertanya, mereka memberikan jawaban rumit dan cepat, alhasil jawaban akan menyimpang dari pertanyaan.
  • Biasanya mereka akan menceritakan kisah yang sama dengan versi yang berbeda, mereka tidak mungkin bisa mengingat secara utuh cerita yang dibuat.

Semakin banyak seseorang berbicara tentang diri sendiri maka akan semakin banyak pula ia akan berdusta. Ketika seseorang berbicara tentang diri sendiri maka ia sedang menyanjung dirinya sendiri, itulah saatnya ia akan banyak berbohong agar dirinya terlihat sempurna di mata orang lain.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

kategori: Informasi

Artikel Terbaru

Waspada Mythomania, Ketika Berbohong Dijadikan Hobi