[Mitos Vs Fakta] Bunglon Berubah Warna Untuk Kamuflase?


Gambar: Shutterstock

Ketika kebanyakan orang berpikir tentang perubahan warna, pikiran mereka akan tertuju pada bunglon. Tetapi kemampuan berubah warna bukan hanya dimiliki bunglon, banyak spesies krustasea (udang), serangga, cumi-cumi, gurita, katak, kadal, dan ikan juga dapat berubah warna.

Pewarnaan pada hewan dihasilkan dari refleksi dan hamburan cahaya oleh sel dan jaringan, dan dari penyerapan cahaya oleh pigmen kimia di dalam sel-sel kulit mereka. Dalam sistem eksoterm, sel-sel yang mengandung pigmen disebut kromatofora dan sebagian besar bertanggung jawab untuk menghasilkan warna kulit dan mata.

Beberapa hewan berubah warna agar mereka dapat berbaur dengan lingkungan. Tetapi apakah bunglon berubah warna dengan cepat untuk kamuflase? Tidak, itu hanya mitos. Makhluk ini memiliki motivasi yang tak terduga untuk menunjukkan warna paling cemerlang.

Mitos ini banyak dipercaya secara luas dan diperkuat oleh film Disney’s Tangled yang dibintangi bunglon bernama Pascal. Mitos ini pertama kali muncul dalam karya seorang penulis Yunani kuno Antigonus dari Karystios, yang menulis kisah-kisah menghibur dan biografi populer sekitar 240 SM.

Aristoteles, yang merupakan tokoh terkenal yang jauh lebih menonjol dan telah hidup sebelum Antigone selama satu abad, menjelaskan dengan benar mengaitkan perubahan warna dengan rasa takut. Namun, kesalahan pemikiran Antigone tidak sepenuhnya pulih hingga hari ini.

Faktanya, kadal ini tidak berubah warna agar sesuai dengan lingkungannya. Sebaliknya, mereka berubah warna sebagai respon terhadap suasana hati, suhu, kesehatan, komunikasi, dan cahaya. Bunglon juga lebih banyak diam selama beberapa jam di suatu tempat. Hal ini membuat mereka lebih sedikit membutuhkan makanan.

Bunglon berubah warna saat dalam keadaan ketakutan atau ketika berhasil menang dalam pertarungan dengan bunglon lain. Terkadang mereka berubah warna karena variasi suhu dan cahaya. Pada suhu dingin, bunglon akan mengubah warnanya menjadi lebih gelap untuk memaksimalkan penyerapan panas pada tubuhnya.

Ketika bunglon berjemur di bawah sinar matahari di siang hari, ia akan berwarna lebih terang untuk meredam panas dari sinar matahari. Tetapi mereka paling sering berubah warna dipengaruhi kondisi mood mereka, yaitu saat marah, takut, sedih, galau atau jatuh cinta.

Di kulit bunglon ada banyak lapisan sel khusus yang masing-masing mengandung pigmen yang berbeda. Ketika keseimbangan antara lapisan-lapisan ini berubah, kulit membiaskan ke berbagai jenis cahaya, membuat bunglon terlihat seperti palet warna yang bergerak.

Kata bunglon dalam bahasa Inggris “Chameleon” berasal dari bahasa Yunani χαμαιλέων (khamailéōn) yang mengandung arti χαμαί (khamaí) “di tanah” dan λέων (léōn) “singa”. Spesies terkecil adalah Brookesia Micra atau sering disebut kadal kurcaci, panjangnya sekitar 10 milimeter. Sedangkan spesies terbesar adalah Calumma Parsonii, panjangnya sekitar 610 milimeter.

Brookesia Micra
Calumma Parsonii

Para ahli telah lama membantah tentang mitos ini. “Banyak orang percaya bahwa jika Anda meletakkan bunglon di papan catur, ia akan berkamuflase dengan mengambil pola atau warna yang sama, tetapi ini tentu saja tidak benar,” kata Michel Milinkovitch, ahli evolusi genetik di University of Geneva dan seorang ahli tentang warna kulit hewan.

Ia juga menjelaskan bahwa Sebagian besar bunglon tidak membutuhkan perubahan warna sama sekali. Dalam kondisi alami, warna tubuh mereka sudah sangat mirip dengan daun atau ranting.

“Ketika ada sedikit cahaya, sel-sel pigmen coklat hingga hitam yang disebut melanin membanjiri permukaan kulit dan menyebabkan bunglon tampak lebih gelap,” kata Devi Stuart-Fox, seorang ahli evolusi biologi di University of Melbourne, yang telah mempelajari warna bunglon selama lebih dari satu dekade.

Bunglon sangat teritorial. Ketika dua jantan bertemu satu sama lain, maka akan terjadi pertarungan sengit, dalam hal ini memamerkan warna. Pejantan yang lebih lemah seringkali warnanya akan lebih gelap, akan mengakui kekalahan dengan mematikan tampilannya terlebih dahulu, menunjukkan bahwa ia tidak ingin bertarung.

Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa beberapa bunglon jantan akan menggunakan warna untuk meniru betina, yang memungkinkan mereka dapat menyelinap dari jantan lain tanpa ancaman persaingan, seperti yang dilakukan oleh cumi-cumi.

Bunglon jantan juga akan menggunakan tampilan mereka untuk memikat betina. Tetapi tidak peduli seberapa menarik tampilan warnanya, beberapa bunglon betina tidak akan tertarik, sebaliknya mereka akan menggunakan warna untuk menarik para pejantan.

“Bunglon betina menggunakan warnanya tergantung kondisi, jika di reproduksinya sudah ada sperma dari pejantan lain, maka dia akan menjadi sangat gelap, dan sangat agresif,” jelas Milinkovitch.

Stuart-Fox menjelaskan bahwa bunglon adalah ektoterm, sehingga mereka tidak dapat menahan panas yang dihasilkan dari metabolisme mereka. Sebaliknya, mereka harus melakukan pemanasan menggunakan matahari.

Itu sebabnya kadal ini sering terlihat berjemur di atas batu atau ranting di pagi hari ketika suhu dingin, dengan warna lebih gelap untuk menyerap lebih banyak cahaya matahari.

Kesimpulan

Kepercayaan yang menyebar luas bahwa bunglon berubah warna mengikuti objek yang disinggahinya sebagai kamuflase hanyalah mitos. Faktanya, bunglon berubah warna tergantung lingkungan dan kondisi emosional mereka. Jika mereka berubah warna sesuai dengan warna yang disinggahi, itu tidak lain hanya kebetulan saja.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

kategori: Mitos

Artikel Terbaru

[Mitos Vs Fakta] Bunglon Berubah Warna Untuk Kamuflase?