Mengapa Seseorang Begitu Terobsesi Menciptakan Hoax?


Hari terus berganti dan teknologi kian berlari kencang meninggalkan peradaban kuno. Era internet dimulai di mana segala informasi bermarkas di sana. Sirkulasi besar rumor dan opini publik membanjiri ruang internet, memicu perang urat saraf.

Segala omong kosong dan rumor seperti mendapatkan tempat khusus bagi para konsumen hoax paling setia. Mereka mendapatkan hiburan tidak gratis, menggadaikan akal sehat demi kepuasan hati. Para penipu akhirnya semakin bersemangat menciptakan doktrin-doktrin sesat tanpa peduli moralitas.

Meskipun ada banyak definisi tentang apa itu tipuan atau hoax, agar mudah dipahami, saya menggunakan definisi Wikipedia tentang tipuan:

“Sebuah tipuan adalah kepalsuan yang sengaja dibuat untuk menyamar sebagai kebenaran. Hal ini dapat dibedakan melalui kesalahan dalam pengamatan atau penilaian, atau desas-desus, legenda urban, pseudosains, atau Hari April Mop.”

Psikolog Peter Hancock dalam bukunya Hoax Springs Eternal: The Psychology of Cognitive Deception, menyoroti enam langkah cara menjadi penipu yang sukses:

  • Identifikasi konstituensi – Seseorang atau sekelompok orang dengan alasan seperti fanatisme atau patriotisme, atau keserakahan, akan benar-benar peduli dengan tipuan yang Anda ciptakan.
  • Identifikasi khayalan tertentu yang akan membuat tipuan Anda menarik bagi fans Anda.
  • Buat tipuan yang menarik tetapi ‘kurang spesifik’, cenderung ambigu.
  • Persiapkan kreatifitas Anda.
  • Temukan setidaknya satu orang terkenal yang akan secara aktif mendukung tipuan Anda.
  • Buat semua orang peduli, baik secara positif maupun negatif. Ambiguitas mendorong minat dan perdebatan.

Enam langkah yang dipaparkan Hancock terbukti sangat efektif. Banyak artis media sosial menggunakan cara tersebut, maka tidak heran apapun yang mereka tulis di jejaring sosial akan diamini oleh pengikutnya, bahkan selalu viral ketika kelompok eksternal terpancing untuk meresponnya hingga terjadi perdebatan sengit.

Sejatinya hoaxers memanfaatkan psikologi manusia dengan cara mengeksploitasi ketidaktahuan untuk membujuk pengikutnya menanggalkan rasionalitas dan bahwa kebenaran hanya milik mereka.

Hoax atau tipuan menargetkan sifat manusia, seperti keluguan, naif, keserakahan, ketakutan dan kecemasan, dan penghormatan atau fanatisme, seperti guru atau orang yang dihormati, publik figur (artis atau calon presiden), kelompok sepemikiran, dan lainnya.

Apa yang memotivasi hoaxers? Jawaban dari pertanyaan ini cukup kompleks, tetapi secara umum hal ini terkait dengan keserakahan (meraup penghasilan uang atau dibayar untuk menciptakan hoax agar menjadi viral), dan secara personal mengejar ketenaran.

Hoax menjadi kebutuhan bagi hoaxers, produksi hoax membuat mereka bisa bertahan hidup. Ilmu psikologi telah mengabaikan ‘ketenaran’ sebagai motivasi utama perilaku manusia menciptakan hoax, itu dianggap terlalu dangkal, terlalu beragam secara budaya, terlalu sering berbaur dengan motif lain untuk dianggap serius.

Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kecil ilmuwan sosial telah mulai mempelajari ‘ketenaran’ dengan cara yang berbeda, mengklasifikasikan dengan tujuan lain, mengukur efek psikologisnya, dan mengkarakterisasinya.

Orang-orang dengan keinginan utama untuk dikenal secara luas oleh orang lain berbeda dari mereka yang mengingini kekayaan dan pengaruh. Perilaku mencari ketenaran tampaknya berakar pada keinginan untuk penerimaan sosial, jaminan eksistensi.

Saat ini pabrikasi hoax berawal dari rumor atau desas desus yang beredar di jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Hingga taraf tertentu, definisi tentang apa yang disebut rumor dapat menjadi samar-samar tergantung substansi rumor itu sendiri.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rumor didefinisikan sebagai gunjingan, dapat berkembang dari mulut ke mulut. Urban Dictionary mengartikan ‘rumor’ sebagai cerita yang tersebar di antara sejumlah orang yang belum dikonfirmasi atau mungkin palsu.

Rumor menyajikan representasi yang meyakinkan, meskipun terdistorsi, berasal dari kecemasan manusia yang sangat dalam. Transmisi informasi melalui rumor menunjukkan ketidakpercayaan mendasar terhadap sumber-sumber resmi.

Individu menyebarkan rumor karena berbagai alasan, seperti menemukan cerita yang lucu, percaya rumor itu benar dan ingin mendapatkan pengakuan. Tipuan internet menghadirkan sentuhan baru pada masalah klasik menjadikan rumor sebagai alat persaingan tidak sehat, terutama saat momentum politik.

Motivasi hoaxers terkadang tidak jelas, kemungkinan hanya sebagai kepuasaan tersendiri. Misalnya, jika ada kejadian besar biasanya hoaxers akan ikut menyebarkan informasi sesat. Pecinta teori konspirasi selalu terlibat dalam kejadian besar topik utama media dunia.

Teori konspirasi sejatinya tidak dapat diverifikasi, melangkah rumit dengan cara menyampaikan teori-teori penyebab serangkaian peristiwa hingga mengaburkan fakta sebenarnya. Penganut teori ini mempercayai argumen mereka bahwa segala sesuatu harus berpikir kritis dan tidak boleh mempercayai hanya berdasarkan fakta-fakta yang beredar.

Teori konspirasi secara sederhana merupakan bentuk pengetahuan populer yang berhubungan antara pengetahuan yang sah dengan tidak sah. Mereka menciptakan teori berdasarkan asumsi pribadi. Sejatinya pecinta teori konspirasi menciptakan teori untuk menumpahkan semua yang ada dipikirannya, secara sadar mereka tahu bahwa teorinya hanya asumsi.

Tujuan utama para pecinta teori konspirasi sebenarnya demi kepuasan, merasa bahagia ketika segala pemikirannya dapat tersalurkan. Sayangnya ketika teori yang mereka ciptakan tersebar luas (outlet berita online ikut mengulasnya), masyarakat yang tidak mengetahui akan menganggapnya sebagai berita sah.

Dapat disimpulkan bahwa motivasi hoaxers adalah keserakahan (terkait dengan finansial), ketenaran, dan kepuasan hati. Motivasi ‘keserakahan’ biasanya dijalankan secara profesional dan terorganisir melibatkan tim, kelompok partisan atau blogger nakal (mencari keuntungan dari penghasilan iklan).

Sedangkan ‘ketenaran’ dan kepuasan hati’ terkait dengan penyimpangan psikologis. Mereka melakukannya ketika mendapatkan moment dan kesempatan. Kebiasaan menciptakan hoax berpotensi menjadi candu hingga mentalnya terganggu.

Copyyright komik: Godham Eko Saputro

Penyebab lain seseorang menciptakan hoax adalah kebencian akibat fanatisme kronis. Penyebab ini biasanya tidak disadari hoaxers karena paradigma mereka telah terdistorsi.

Kebencian menjadi masalah besar yang akan memicu hoax bermunculan secara masif. Serangan hoax dilancarkan kepada target yang dibenci, mereka dengan kebencian yang sama dengan senang hati menyebarkannya.

Saat ini hoax politik menjadi primadona di internet dan jejaring sosial. Semua itu bersumber dari kebencian yang mendarah daging hingga tidak bisa membedakan antara fakta dan asumsi.

Maka dari itu cara paling jitu meredam hoax saat ini adalah menghilangkan kebencian yang berakar dari fanatisme. Semua itu dimulai dengan cara berdamai dengan diri sendiri dan bahwasannya kebencian akan membelenggu kedamaian.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

kategori: HOAX

Artikel Terbaru

Mengapa Seseorang Begitu Terobsesi Menciptakan Hoax?