Siswi Jepang Dilarang Menggunakan Celana Dalam, Benarkah?


Hari ini saya berjalan menelusuri ruang internet yang begitu luas, tiba-tiba jemari ini sontak terdiam ketika melihat sebuah informasi yang mengatakan bahwa siswi di Jepang wajib menggunakan rok mini dan dilarang mengenakan celana dalam. Peraturan macam apa ini?

Informasi tersebut membuat saya penasaran dan seperti biasa jemari kian gesit bercumbu dengan keyboard komputer untuk mencari kebenarannya. Sebuah referensi yang cukup menarik menyapa netra mengulas tentang sejarah dan budaya celana dalam di Jepang.

Mari kita mulai dengan informasi mesin penjual otomatis di Jepang yang mengeluarkan celana dalam konon banyak dimanfaatkan siswi Jepang, yang dijual ternyata celana dalam bekas. JT Quigley menulis di techniasia.com mencoba mencari tahu dengan mengunjungi Tokyo, ia bertanya kepada tiga pria asing: “Apakah kamu pernah mendengar tentang mesin penjual otomatis celana dalam bekas?”

Ketiga pria tersebut bereaksi dengan tertawa kecil, salah satunya menunjuk ke arah toko seks dan berkata: “Ada satu di atas sana, di lantai enam.” Pria tersebut lalu terdiam sambil berpikir dan menambahkan, “Tapi aku tidak tahu apakah itu benar-benar digunakan atau tidak.”

Sebuah foto mesin penjual otomatis celana dalam wanita beredar di internet, di sana tertulis harga ¥ 500. Ada yang unik berupa keterangan tulisan “スーパーUSED加工”. Arti kalimat ini adalah celana dalam diproduksi agar terlihat bekas. Hal ini mirip celana jeans yang dijual di mall dengan kondisi sobek seperti bekas yang saat ini sedang ngetren.

Keterangan dari tulisan itu sangat jelas bahwa celana dalam yang dijual bukan bekas, tetapi terlihat seperti bekas. Apa yang sebenarnya terjadi mencerminkan sebuah mitos lama dalam budaya Jepang di mana celana dalam bekas banyak dijual. Mesin penjual otomatis itu untuk meyakinkan orang non-Jepang bahwa mitos tersebut benar, nyatanya itu hanya tipuan.

Dongeng tentang mesin penjual otomatis celana dalam bekas merupakan legenda urban. Singkatnya, mesin penjual itu asli, tetapi sejak tahun 1993 sebagian besar dibuat secara ilegal. Mesin penjual itu masih bisa ditemukan di beberapa tempat di Jepang, biasanya bagian dari toko seks atau fetish club.

Berbicara tentang pakaian dalam yang digunakan wanita muda di Jepang saat ini, jika merunut pada sejarah maka akan kembali pada kisah Perang Dunia II. Wanita muda jepang sebenarnya tidak mengenal celana dalam yang saat ini beredar, mereka mulai menggunakannya pasca PD II.

Yang perlu dicatat, sebelum PD II sebagian besar wanita Jepang menggunakan pakaian tradisional Kimono dengan koshimaki di bagian bawahnya. Koshimaki adalah potongan kain panjang yang dililitkan di pinggang yang berfungsi sebagai alternatif sederhana dari apa yang sekarang kita anggap pakaian dalam.

Kimono, pakaian tradisional wanita Jepang.
Koshimaki (kimono underskirt). Gambar: JANM

Namun, pada tahun 1939, banyak wanita Jepang beralih dari kimono ke monpe, yaitu celana longgar yang tidak mungkin menggunakan koshimaki saat memakainya. Tak punya alternatif lain, wanita Jepang mulai menggunakan pakaian dalam gaya Barat dengan monpe mereka.

Pasca PD II banyak wanita Jepang beralih menggunakan monpe. Pinterest

Kemudian Jepang terlibat Perang Dunia II dan kalah, menjerumuskan negara ini dalam keterpurukan ekonomi. Dengan sekejap hanya ada satu tipe wanita Jepang yang mampu membeli celana dalam gaya Barat ini, mereka adalah wanita penghibur yang menawarkan jasanya kepada tentara pendudukan Amerika.

Saat itu celana dalam dan parfum sama mahalnya, akibatnya kedua benda ini selalu diidentikan dengan pekerja seks. Waktu terus berjalan dan celana dalam gaya Barat ini menjadi lebih murah dan lebih diterima secara sosial sampai setiap wanita Jepang banyak memakainya.

Namun, pada tingkat yang lebih dalam dan lebih gelap, sejarah celana dalam wanita pasca perang tetap kelam. Sejarah kelam celana dalam wanita Jepang terkorelasi dengan musuh besar mereka saat PD II yaitu Amerika, dan tentunya stigma negatif pekerja seks.

Sebenarnya Jepang tidak terobsesi dengan celana dalam wanita, setidaknya hingga tahun 1930-an. Pada tahun 1932, setelah toko serba ada Shirokiya yang terkenal terbakar, menewaskan delapan wanita dan enam pria dalam kejadian itu, banyak outlet berita asing menulis bahwa para wanita itu tewas karena mereka tidak mengenakan pakaian dalam di bawah kimono mereka.

Dan daripada membiarkan warga yang berada di bawah melihat bagian sensitifnya, mereka memilih diam di dalam menunggu untuk diselamatkan hingga akhirnya tewas. Mereka memilih untuk mati secara terhormat daripada bagian tubuh sensitifnya menjadi tontonan banyak orang. Itulah yang konon membantu mempopulerkan pakaian dalam gaya Barat di Jepang.

Pakaian Kimono modern tidak lagi menggunakan koshimaki. Sebuah pertanyaan muncul apakah tidak ada alternatif pakaian dalam tradisional selain celana dalam gaya Barat. Sebenarnya saat ini wanita Jepang memiliki celana dalam tradisional yang terinspirasi dari celana tradisional pria Jepang yaitu fundoshi, semacam kain celemek.

Fundoshi wanita tradisional.
Fundoshi wanita modern

Lalu bagaimana dengan informasi siswi di Jepang dilarang menggunakan celana dalam? Secara umum tidak ada peraturan tentang itu. Sekolah-sekolah di Jepang tidak melarang siswinya menggunakan celana dalam, tetapi ada beberapa sekolah menengah pertama di Tokyo yang mengatur warna pakaian dalam yang harus digunakan seluruh siswanya (putra dan putri).

Pakaian dalam warna putih dipilih untuk alasan kebersihan. Tidak boleh menggunakan pakaian dalam selain warna putih. Aturan ini tentunya menjadi kontroversi dan mendapat banyak kecaman karena dalam konteks sosial dianggap berlebihan. Bahkan beberapa sekolah menerapkan aturan guru diizinkan memeriksa pakaian dalam wanita yang warnanya tidak sesuai.

Anggota dewan dari fraksi Partai Komunis Jepang Kira Yoshiko melaporkan bahwa praktik tersebut banyak ditemukan di beberapa sekolah. Pihak sekolah memaksa siswanya mengenakan pakaian dalam dengan warna yang sudah tentukan pihak sekolah, bahkan guru pria diperbolehkan melakukan pemeriksaan bra dan celana dalam siswa perempuan.

“Bukankah ini pelecehan seksual dan melanggar hak asasi manusia?” kata Kira. Menteri Pendidikan Hayashi Yoshimasa ikut prihatin dan berkomentar; “Perilaku seperti itu merusak harga diri siswa dan dengan demikian dapat merusak mental mereka.” Aturan tentang warna celana dalam saja mendapat banyak kecaman, lalu apakah menurut Anda larangan menggunakan celana dalam akan dibiarkan?

Informasi larangan siswi Jepang menggunakan celana dalam kebanyakan menampilkan gambar para siswi melepaskan celana dalamnya. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, para siswi melepaskan celana dalamnya adalah bagian dari inpeksi warna pakaian dalam yang dilakukan oleh pihak sekolah.

Semua informasi yang beredar di internet tentang larangan siswi Jepang menggunakan celana dalam tidak jelas alasannya. Setiap peraturan pastinya harus ada alasannya, aturan dibuat bukan secara sembarangan. Untuk membuktikan bahwa siswi di Jepang tidak dilarang menggunakan celana dalam, berikut video tiga siswi Jepang memberikan trik membenarkan celana dalam yang sedikit melorot di tempat umum, kondisi seperti ini dalam istilah Jepang disebut Pantsu Kuikomu (PK).

Kesimpulan

Informasi tentang siswi di Jepang dilarang menggunakan celana dalam tidak terbukti dan sumber utamanya tidak jelas. Secara umum, tidak ada larangan siswi Jepang menggunakan celana dalam. Kemungkinan besar informasi tersebut adalah disinformasi dari peraturan larangan menggunakan celana dalam dengan warna selain yang ditentukan pihak sekolah.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
3
Angry
confused confused
1
confused
fail fail
1
fail
fun fun
2
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

kategori: Disinformasi

Artikel Terbaru

Siswi Jepang Dilarang Menggunakan Celana Dalam, Benarkah?