Trauma Diperkosa, Gadis Muda Belanda Diizinkan Bunuh Diri Secara Legal?


Klaim: Trauma diperkosa, Gadis muda asal Belanda telah disuntik mati secara legal hari Minggu lalu.

Noa Pothoven, seorang gadis berusia 17 tahunn asal Arnhem, Belanda, telah di-eutanasia atau disuntik mati secara legal hari Minggu lalu. Suntik mati itu permohonan dirinya setelah merasa tak bisa terus hidup akibat trauma diperkosa ketika masih kecil.

Jasad Noa telah ditidurkan di rumahnya. Sehari sebelum disuntik mati secara legal, Noa mengatakan dalam sebuah posting di media sosial bahwa dia “bernafas tetapi tidak lagi hidup”.

Selengkapnya: Sindonews.com


Disinformasi


Analisis

Kisah tentang seorang remaja dan penulis Belanda bernama Noa Pothoven menjadi viral di seluruh dunia ketika pers mengabarkan bahwa ia menjalani eutanasia atau suntik mati legal dengan bantuan dari klinik khusus.

Noa Pothoven lahir pada tahun 2001 di kota Arnhem di Belanda. Dalam bukunya, “Winnen of Leren” (menang atau belajar), ia menulis bahwa pada usia 14 ia diperkosa oleh dua pria, tetapi karena malu dan takut ia tidak pernah menceritakan kepada keluarganya. Peristiwa itu menyebabkan sindrom stres pasca-trauma, depresi berat dan anoreksia yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Noa Pothoven

Noa pernah mencoba pergi ke sejumlah klinik dan psikolog untuk mengatasi masalahnya, tetapi nampaknya tidak ada yang mampu membantunya hingga ia ingin mengakhiri hidupnya. Keinginan Noa itulah yang menjadi pemicu kabar bahwa Noa disuntik mati secara legal, secara Belanda melegalkan praktik euthanasia.

Dokter-dokter di Belanda diperbolehkan membantu pasiennya penderita penyakit parah yang memilih untuk mengakhiri hidupnya. Tetapi mekanismenya tidak sederhana, dokter harus melihat sisi lain sebagai alasan kuat bahwa pasien lebih layak untuk tetap hidup.

Belanda mengizinkan euthanasia atau bunuh diri yang dibantu dokter dalam beberapa keadaan, tetapi itu tidak terjadi dalam kasus Noa. Undang-undang euthanasia disahkan pada tahun 2001 dan mulai diberlakukan pada 2002 di Belanda, menyatakan bahwa eutanasia atau bunuh diri yang dibantu oleh dokter tidak ilegal ketika dibuat berdasarkan kriteria tertentu.

Kriteria tersebut meliputi keinginan pasien, tingkat ketidaknyamanan fisik dan psikologis yang dideritanya, apakah ia telah mendapat informasi yang memadai dari dokter yang menangani yang menyatakan tidak adanya pilihan lain untuk mengatasi kondisinya.

Enam bulan sebelumnya Noa pernah mendatangi klinik Levenseindekliniek (end of life clinic) tanpa sepengetahuan orang tuanya dan bertanya apakah dia memenuhi syarat untuk melakukan bunuh diri atau euthanasia.

Pihak klinik menjawab “Tidak”. Noa terlalu muda dan otaknya belum berkembang sepenuhnya.

Mereka pikir aku terlalu muda untuk mati. Mereka menyarankan saya harus menyelesaikan perawatan trauma dan otak saya hingga dewasa. Itu berlangsung sampai Anda berusia 21 tahun. Saya merasa hancur, karena saya tidak bisa menunggu selama itu.

Berikut pernyataan resmi dari klinik Levenseindekliniek yang telah kami terjemahkan:

End-of-Life Clinic dihubungi dari seluruh dunia untuk bereaksi terhadap kematian Noa Pothoven yang berusia tujuh belas tahun. Namun, karena aturan privasi, kami tidak dapat membuat pernyataan tentang hal ini.

Untuk mengakhiri pelaporan yang salah (khususnya di media asing) tentang kematiannya, kami merujuk pada pernyataan yang dibuat oleh teman-teman Noa siang ini: Noa Pothoven tidak meninggal karena euthanasia. Untuk menghentikan penderitaannya, dia berhenti makan dan minum.

Sumber penderitaan Noa adalah pelecehan seksual, dia diperkosa ketika  berusia 11 dan 14 tahun, dan dia menderita gangguan psikologis yang parah termasuk depresi dan anoreksia.

Keinginan bunuh diri Noa sangat besar, setelah pengajuan euthanasia ditolak, ia memilih berhenti makan dan minum untuk mengatasi penderitaannya. Dalam bukunya ia menulis hari-hari terakhirnya dihabiskan di ranjang rumah sakit di rumah keluarganya dan mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang dicintai, menurut laporan berita Belanda.

Noa juga di postingan terakhirnya yang menyedihkan di Instagram mengumumkan bahwa ia telah berhenti makan dan minum untuk sementara waktu. Itu adalah keputusan yang telah dipertimbangkan dengan baik dan yakin, ia menulis kepada para pengikutnya.

Setelah bertahun-tahun berjuang tanpa henti, sekarang selesai. Setelah banyak konsultasi dan penilaian, diputuskan bahwa saya akan membebaskan diri karena penderitaan saya tidak tertahankan. Sudah selesai. Saya benar-benar belum hidup begitu lama, saya bertahan, dan bahkan tidak. Saya bernafas tetapi tidak hidup.

Tidak jelas mengapa cerita ini dilaporkan secara keliru oleh pers, sedangkan surat kabar Belanda melaporkannya secara akurat. Keinginan kematian Noa lebih kuat dari keinginannya untuk bertahan hidup.

Orangtua selalu mendampinginya dan berharap Noa akan melihat ‘titik terang lagi’, mungkin ‘jatuh cinta’ atau belajar untuk menemukan bahwa ‘hidup itu layak dijalani’. Noa sebenarnya sama sekali tidak menginginkan kematian, dia merindukan kedamaian hidup.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

kategori: Disinformasi

Artikel Terbaru

Trauma Diperkosa, Gadis Muda Belanda Diizinkan Bunuh Diri Secara Legal?