Mengapa Orang Cerdas Bisa Menjadi Konsumen Hoax?


Pixabay

Saya kerap mendapatkan pertanyaan mengapa mereka dengan gelar pendidikan tinggi yang pastinya mereka adalah orang pintar dengan mudahnya percaya pada omong kosong (hoax). Apakah hanya orang bodoh yang bisa menjadi korban hoax? Sedangkan mereka berpendidikan tinggi tidak mungkin menjadi konsumen hoax? Apakah hoax terkait dengan tingkat kecerdasan? Apakah semua teori itu pernah hinggap dalam pikiran Anda?

Jika saya bertanya kepada setiap orang apakah dirinya merasa bahwa ia adalah orang yang selalu berpikir rasional maka semua orang akan menjawab “ya” dengan tegas tanpa keraguan. Apakah kebenaran hanya berdasarkan logika? Mengapa logika menjadi sangat penting bagi kehidupan manusia? Lantas mengapa begitu banyak ide-ide tidak rasional diamini banyak orang? Dan mengapa tidak sedikit orang-orang cerdas dengan mudahnya percaya hal-hal yang konyol?

Semua itu ada penyebab besar yang cukup rumit di mana otak manusia sebenarnya sangat kompleks dan sulit untuk dimengerti. Sejatinya struktur otak manusia masih misteri, para ilmuwan hingga saat ini belum mampu mendapatkan jawaban utuh bagaimana otak bekerja dan bagaimana otak mempengaruhi perilaku manusia.

Kecerdasan bukan jaminan seseorang akan selalu benar karena sejatinya tidak ada seorang pun manusia mengetahui segalanya. Kurangnya pengetahuan pada suatu subjek dapat mendorong kesalahan, yang seharusnya ia menjawab “tidak tahu” malah menjawab “saya tahu”, terdorong rasa gengsi tidak ingin dianggap bodoh.

Fenomena seperti itu umum terjadi di era internet di mana setiap orang dengan mudahnya memberikan argumen dan opini publik tanpa landasan pengetahuan. Kita kerap memilih pilihan berdasarkan emosional dan kemudian secara selektif mempertahankan keyakinan atau informasi apa pun yang kita anggap benar (bias konfirmasi).

Baca juga: Bias Konfirmasi: Kelemahan Yang Dapat Membunuh Akal Sehat

Rasa takut juga menjadi faktor utama di mana manusia akan tetap mempertahankan egonya. Sejatinya butuh keberanian besar untuk menghadapi kebenaran, hanya mereka yang berjiwa besar mampu menerima setiap kebenaran dari berbagai arah sudut pandang. Konsep kebenaran bukan hanya terikat dengan akal (kecerdasan), keterbukaan hati juga sangat menentukan apakah Anda layak untuk mendapatkan kebenaran.

Itulah mengapa mereka dengan gelar pendidikan tinggi masih saja sering terjebak oleh omong kosong (hoax). Mereka menutup hatinya untuk menerima kebenaran, lebih memilih memuaskan nafsu akal. Konsep kebenaran tidak pernah sederhana dan tidak instan hanya menggunakan logika. Salah satu masalah yang paling umum terjadi ketika ‘pembenaran’ dijadikan ‘kebenaran’, bagian dari konsep pertahanan persepsi.

Semua faktor itu menciptakan kesesatan berpikir dalam menentukan kebenaran. Dunia ini jika dieksplorasi lebih dalam memiliki banyak kejutan dan keajaiban yang sebelumnya tidak kita ketahui. Tetapi tidak semua orang mau melakukannya, kelemahan dan kemalasan menjadi alasan utama. Mereka akhirnya lebih memilih memenuhi kebutuhan akalnya dengan cara yang lebih mudah menggunakan mantra simsalabim maka kebenaran akan tiba-tiba muncul di dalam otaknya.

Saya jadi teringat dengan pesan yang dikatakan oleh Fonttenelle: “Pendidikan yang baik tidak menjamin pembentukan watak yang baik.” Sistem pendidikan kita saat ini lebih fokus mengasah kecerdasan akal, sedangkan pendidikan moral masih sering diabaikan. Berapa banyak orang yang sibuk mempertajam akalnya? Lalu berapa banyak orang yang sibuk memperbaiki moralnya?

Alasan lainnya adalah tidak mau mengambil risiko dan demi keamanan. Analoginya seperti kita sedang berada di dalam ruang yang gelap, jika kita mendengar suara keras lebih baik percaya bahwa ada bahaya besar sedang mengintai, percaya pada sesuatu yang mungkin tidak rasional dan tidak mau mengambil risiko, tidak ada waktu untuk berpikir dan mencari bukti.

Perasaan dan naluri berada di satu sisi dan logika serta berpikir ilmiah berada di sisi lain, mereka adalah dua kekuatan besar yang menentukan sejarah kehidupan kita. Tidak ada yang bisa menjalani kehidupan yang kreatif dan menyenangkan tanpa salah satunya. Manusia memiliki kelebihan gairah dan emosi, sehingga lebih sedikit menggunakan rasionalitas dan ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk membuat pilihan yang lebih baik.

Orang cerdas memiliki kemungkinan untuk membuat kesalahan bodoh, terutama dalam situasi yang membutuhkan akal sehat. Orang cerdas lebih rentan pada kesalahan konyol karena titik buta dalam cara mereka menggunakan logika. Titik buta ini ada karena orang cerdas cenderung terlalu percaya diri dalam kemampuan penalaran mereka. Artinya, mereka sudah terbiasa menjadi benar dan memiliki jawaban cepat sehingga mereka bahkan tidak menyadari kesalahan ketika mereka memaparkan jawaban tanpa berpikir lebih dalam.

Menjadi sebuah tragedi ketika orang-orang cerdas merasa tahu segalanya dan tidak menyadari kesalahan mereka. Mungkin kita akan menjadi cerdas ketika mampu mengetahui setiap kesalahan orang lain, tetapi kita sangat bodoh untuk mengenali kesalahan kita sendiri. Orang cerdas sering gagal mengenali kapan mereka membutuhkan bantuan, dan ketika mereka mengenalinya, mereka cenderung percaya bahwa tidak ada orang lain yang mampu membantu menyelesaikannya.

Itulah mengapa mereka dengan pendidikan tinggi bisa menjadi konsumen hoax, mereka terlalu percaya diri dengan kemampuan otaknya. Sangat sulit bagi siapapun menerima kebenaran bahwa mereka salah. Bahkan lebih sulit bagi orang cerdas karena mereka terbiasa dengan kebenaran sehingga menjadi bagian dari identitas mereka.

Pada umumnya orang cerdas dalam lingkup IQ atau kecerdasan intelektual, tidak sebanding dengan kecerdasan emosional (EQ). Orang cerdas hanya memiliki IQ tinggi, sedangkan EQ mereka rata-rata sama seperti orang lainnya. Tetapi ketika orang cerdas tidak memiliki EQ, itu jelas sebuah tragedi, mereka memandang dunia sebagai meritokrasi.

Ketika semuanya menjadi sangat mudah bagi Anda, maka kerja keras akan dilihat sebagai hal yang negatif (Anda tidak membutuhkannya). Orang cerdas terbiasa menemukan jawaban dengan mudah dan cepat, tetapi ketika mereka dalam kondisi kesulitan, untuk mempertahankan citra diri akhirnya mereka memilih jalan pintas dengan menciptakan asumsi dalam jawaban yang mereka buat.

Akhirnya orang cerdas cenderung mencoba mempertahankan nilai dengan menegaskan posisi mereka di mata orang lain. Jadi, kecerdasan IQ bukan jaminan seseorang akan terhindar dari kesalahan (hoax). Jika Anda memiliki IQ di bawah rata-rata tidak perlu lagi bersedih hati, masih ada kesempatan mengasah EQ untuk lepas dari kebodohan.

Mungkin Anda berpikir bahwa artikel ini adalah serangan untuk tidak perlu mengejar pendidikan tinggi atau tidak menjadi pintar, bukan itu esensinya. Saya percaya dunia ini masih membutuhkan orang-orang cerdas, dan menjadi cerdas adalah pilihan. Dengan menjadi cerdas Anda dapat menghasilkan lebih banyak uang, mengumpulkan lebih banyak kekayaan, mudah mendapatkan pasangan yang cantik/tampan.

Kecerdasan akal memang sangat penting, tetapi kecerdasan hati jangan pernah diabaikan. Berapa banyak orang cerdas di negeri ini? Lalu berapa banyak orang bijak di negeri ini? Ya, mudah untuk menemukan orang cerdas di negeri ini, tetapi sulit untuk mencari orang bijak. Ilmu tanpa moralitas akan membinasakan, tetapi dengan moralitas maka ilmu akan mudah dicari hingga menjadi manfaat.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
1
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

kategori: Informasi

Artikel Terbaru

Mengapa Orang Cerdas Bisa Menjadi Konsumen Hoax?