Mengapa Manusia Kerap Menghindari Kebenaran Tentang Diri Sendiri?


Pengetahuan bisa menjadi sebuah kekuatan besar, tetapi ketika tiba pada pengetahuan tentang diri sendiri, ketidaktahuan bisa menciptakan kebahagian. Setiap orang mampu mengidentifikasi hoax yang berasal dari objek luar pikirannya, tetapi tidak semua orang mampu mengidentifikasi hoax dari objek dalam titik pribadi.

Setiap manusia akan marah jika dibohongi oleh orang lain, tetapi apakah Anda berani mengakui seberapa sering membohongi orang lain, atau apakah Anda akan mengklaim tidak pernah berbohong? Mengapa kita marah saat dibohongi? Mengapa kita tidak mempermasalahkan ketika berbohong? Apakah Anda tahu kebohongan terbesar adalah kemunafikan (membohongi diri sendiri)?

Kita hidup dalam dunia penuh kebohongan, menemukan pembohong itu tidak mudah. Masalahnya bukan apa yang dikatakan oleh pembohong, tetapi apa tujuannya berbohong. Terkadang sangat realistis ketika kita mencoba menghindari kebenaran yang mungkin tidak menyenangkan.

Dalam sebuah makalah Review of General Psychology, Sweeny et al. (2010) menguraikan tiga alasan utama mengapa orang menghindari kebenaran:

1. Menyebabkan perubahan keyakinan: Banyak bukti menunjukkan seseorang cenderung mencari informasi yang menegaskan keyakinan mereka daripada bantahannya.
2. Menyebabkan mengambil tindakan yang tidak diinginkan: Seperti ketika dokter memberitahu Anda tentang gejala penyakit serius dan harus menjalani tes yang menyakitkan. Mungkin lebih baik Anda tidak mengetahuinya dan tidak perlu melakukan cek kesehatan.
3. Menyebabkan emosi yang tidak menyenangkan

Ketiga alasan itu adalah contoh umum dalam kehidupan. Kebanyakan orang memilih hidup nyaman dan tidak mau mengambil risiko dengan tidak mengetahui kebenaran yang ada pada diri sendiri. Apa yang kebanyakan orang tidak mengerti adalah bahwa salah satu hal terindah dalam hidup adalah ketidakpastian yang hadir setiap hari.

Hidup adalah serangkaian permainan, pastikan Anda menemukan hal yang layak untuk dimainkan. Jika Anda benar-benar marah kepada seseorang karena membohongi Anda, renungkan kembali sebenarnya apa yang membuat Anda marah, dan kemudian pikirkan bagaimana Anda sendiri mungkin telah melakukan hal serupa di masa lalu.

Menghindari kebenaran tentang diri sendiri memang terkadang cukup masuk akal untuk kualitas hidup lebih baik. Misalnya, sebuah fakta bahwa semakin tua usia Anda maka semakin tinggi risiko fibrilasi atrium (stroke, gagal jantung, dan komplikasi lainnya terkait dengan organ jantung). Apakah itu informasi yang berguna atau hal yang tidak perlu diketahui? Jika tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk mencegahnya, mungkin informasi tersebut hanya akan memperburuk kualitas hidup Anda saat ini.

Lain kasus, menghindari menemukan kebenaran akan berakibat fatal. Misalnya Anda menolak memeriksa tahi lalat aneh dan akhirnya waktu terus berjalan ternyata tahi lalat semakin membesar dan terdeteksi tumor, akhirnya Anda terlambat mengobati kanker.

Kuncinya adalah mengetahui informasi mana yang harus dihindari dan mana yang harus dicari. Tetapi kita tidak dapat mengetahui hal ini tanpa mengetahui apa informasinya. Tetapi begitu Anda telah mempelajari informasi itu, Anda tidak dapat melepaskannya, itu yang menjadi masalah.

Pastinya solusi terbaik adalah Anda harus berbesar hati untuk menerima setiap kebenaran yang ada pada diri Anda sendiri, walaupun kebenaran itu sangat menyakitkan. Jika ada yang tidak beres dengan tubuh Anda, segera periksa ke dokter, apapun hasilnya harus diterima dengan lapang dada, walaupun itu penyakit mematikan, setidaknya Anda mempunyai waktu lebih banyak untuk menyembuhkan sebelum terlambat.

Dibutuhkan keberanian untuk menghadapi kebenaran karena kebenaran datang membawa segala macam kecemasan, kekecewaan, dan tanggung jawab. Kebenaran bisa menyakitkan, sebaliknya bisa juga menyenangkan. Sejatinya hidup ini adalah tantangan, Anda harus membiasakan diri lepas dari zona nyaman.

Menunjukan kepada diri sendiri apa yang ingin dilihat bukanlah kebenaran, itu adalah ketakutan dan manipulasi. Ketika Anda berkomentar, suka dan berbagi postingan argumen atau opini publik di media sosial, itu adalah dorongan ego untuk memuaskan nafsu apa yang Anda yakini. Hal itu hanya sebagai pertahanan persepsi untuk menghindari kebenaran, menutupi rasa sakit yang akan diderita jika kebenaran tiba-tiba hadir.

Kebanyakan pengguna media sosial lebih memilih bergumul dengan kelompok yang sama dengan ideologinya, sebisa mungkin menghindari kelompok yang menentangnya. Hal itu pastinya memicu bias konfirmasi di mana kebenaran mutlak hanya berasal dari diri sendiri, kelompok lawan akan selalu salah.

Ketika Anda menuntut kesempurnaan kepada orang lain, itulah ego terbesar manusia. Motivasi yang menyakitkan pastinya sulit untuk diterima dan lebih baik hidup tanpa motivasi. Itulah mengapa kita kesulitan menemukan kebenaran pada diri sendiri.

Mengapa manusia sulit menemukan kesalahan diri sendiri, tidak seperti dia menemukan kesalahan orang lain? Karena manusia terlalu mencintai dirinya sendiri, dan seorang ‘pecinta’ akan sangat sulit untuk melihat kesalahan orang yang dicintainya.

Mulai sekarang berhentilah membiarkan konformitas sosial dan mengikuti penilaian orang lain karena tekanan kelompok yang dirasakan yang dapat melemahkan dan menghancurkan Anda. Sejatinya Anda bukan robot sosial yang selalu diarahkan. “Orang bijak akan menciptakan keputusannya sendiri, sedangkan orang bodoh akan mengikuti opini publik,” nasehat Grantland Rice.

Berhentilah berpura-pura dan mulai bertanya kepada diri sendiri. Jadilah salah satu dari sedikit orang-orang pemberani untuk mengakui kesalahan Anda dan kemudian mengambil tindakan untuk menginspirasi perubahan dalam diri sendiri dan menjadikan dunia tempat yang lebih baik.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

kategori: Informasi

Artikel Terbaru

Mengapa Manusia Kerap Menghindari Kebenaran Tentang Diri Sendiri?