Bagaimana Komunikasi Informasi Menyebarkan Rumor dan Berita Palsu


Komunikasi informasi hampir tidak akan pernah mengikuti aturan dan teknik dasarnya yang tidak diketahui, komunikasi dapat memungkinkan mengirim informasi ke berbagai arah dengan mudah. Oleh karena itu, komunikasi informasi dapat memunculkan rumor, kesalahan informasi, framing hingga berita palsu.

Penyebaran desas-desus akan berdampak secara signifikan pada kehidupan masyarakat, mendistorsi fakta-fakta ilmiah dan mempengaruhi opini politik. Dengan teknologi produksi informasi yang kian berkembang pesat, laju penyebaran informasi keliru telah meningkat secara signifikan, membuat banyak orang menggambarkan masa kini sebagai ‘era pasca-kebenaran’ di mana internet dan media sosial dijejali kebohongan.

Sebuah penelitian tentang bagaimana rumor menyebar melalui penularan sosial dan biologis, atau melalui dinamika opini. Komunikasi sosial memainkan peran penting dalam ekologi manusia, dan penyebaran rumor tidak terkecuali. Rumor yang tersebar luas dapat membentuk opini publik di suatu negara hingga dapat mempengaruhi hasil pemilu.

Misalnya, strategi fear mongering dapat digunakan dalam komunikasi menjelang pemilu. Istilah fear mongering mungkin terdengar asing di telinga kita, tetapi strategi ini sangat nyata. Mungkin Anda tidak sadar selama kampanye presiden kerap menyantap hidangan fear mongering. Fear mongering adalah trik kampanye dengan menawarkan ketakutan untuk mempengaruhi opini publik.

Komunikasi fear mongering bertujuan untuk menakut-nakuti publik, targetnya adalah pihak lawan. Politisi atau pasukan cyber mencoba menciptakan opini tentang keburukan lawan, biasanya mereka mempengaruhi publik untuk tidak memilih salah satu kandidat. Dengan menjual ketakutan, masyarakat akan terpengaruh saat pemilihan.

Sekoci
Contoh fear mongering kampanye pilpres 2014

Strategi ini bukan hanya lazim dilakukan dalam politik, tetapi juga dalam iklan produk dan jasa. Salah satu contohnya dalam iklan asuransi yang menakut-nakuti betapa mengerikannya jika Anda mengalami kecelakaan, sakit atau meninggal, lalu mereka menawarkan polis asuransi untuk melindungi Anda.

Evolusi opini publik di ruang maya sangat berpengaruh pada penyebaran rumor dan pertukaran informasi karena informasi akan dibagikan oleh banyak orang. Sebuah informasi akan diterima atau ditolak oleh individu dengan mempertimbangkan pendapat yang ada dalam keyakinannya, dan mengabaikan pendapat dari luar titik pribadi. Keputusan mayoritas juga cukup berpengaruh, jika mayoritas meyakini kandidat A adalah yang terbaik maka akan mengikutinya.

Masalahnya, ruang mayoritas ini sangat sempit. Umumnya setiap individu akan bergaul dengan orang-orang yang pemikirannya sama. Ketika Anda menyukai kandidat A maka Anda akan memilih bergaul dengan komunitas pecinta kandidat A, pastinya setiap informasi yang Anda terima akan diamini oleh mayoritas. Fenomena ini menjadi tragedi di mana kebenaran informasi seolah hanya dimiliki sepihak, pihak lain dipastikan berada di pihak yang salah.

Tragedi itu akhirnya menciptakan kepercayaan probabilitas pada pendapat atau opini publik dari topologi jaringan politik, setiap informasi akan menjadi homogenitas. Ketika rumor menyebar, dalam keadaan panik, ditambah dengan rasa kecewa karena informasi tidak sesuai dengan yang diinginkan atau kognisi, dapat menyebabkan informasi yang dikomunikasikan terdistorsi. Maka tidak heran jika kesalahan akan muncul. Baik sengaja atau tidak, informasi yang ada menjadi terdistorsi, dan informasi baru terbentuk dan menyebar.

Efek kesesuaian juga dapat dianggap sebagai suatu proses di mana individu menyebarkan potongan-potongan informasi yang paling menonjol dalam ingatan mereka, itu artinya mereka secara tidak kritis mengulangi apa yang sebelumnya mereka ketahui. Selain itu, topologi jaringan sangat berperan dalam penerimaan rumor, karena individu tidak akan mudah percaya semua informasi bantahan yang mereka terima, tetapi lebih mempercayai orang lain berdasarkan posisi relatif dalam jejaring sosial.

Kesalahan informasi biasanya disebabkan oleh konflik karena panasnya perseteruan akan menciptakan rumor yang tidak benar terhadap pihak lawan, bagian dari strategi perang politik. Selain itu, overclaim atau membesar-besarkan informasi yang diperkuat fakta palsu untuk menarik minat pemilih kepada calon kandidat yang diusung.

Penularan sosial di jejaring sosial menjadi sarana paling efektif untuk mendistribusikan rumor dan berita palsu. Sumbu ini menciptakan distorsi informasi di mana kebenaran hanya dilihat dari perspektif pribadi. Informasi awal akan terdistorsi ketika menyebar dalam rantai jaringan, biasanya dimulai dengan hanya mengambil sebagian informasi atau menambahkan informasi agar lebih meyakinkan. Masalah lainnya adalah kurangnya literasi, hanya membaca tidak akan membuat Anda menjadi pintar, orang bodoh pun bisa membaca, intinya tentang memahami informasi.

Rumor adalah pesan yang tidak dikonfirmasi yang disampaikan dari satu orang ke orang lain hingga menyebar luas. Sebuah rumor akan menjadi benar atau salah tergantung bagaimana Anda mencari kebenarannya, umumnya akan dianggap benar ketika tidak pernah diverifikasi. Jika seseorang memiliki kemampuan kritis maka ia akan mencoba mengumpulkan poin-poin penting dari rumor yang ia terima dan menganalisis yang tidak relevan atau tidak rasional. Lalu ia akan mendeteksi seluruh isi pesan dan memutusnya, atau mengirimkan pesan rumor tanpa perubahan jika ia tidak menemukan informasi yang tidak relevan atau salah.

Tidak dipungkiri bahwa berita palsu akan selalu ada dan tumbuh subur di mana bias konfirmasi selalu mendominasi paradigma manusia. Bias konfirmasi adalah kecenderungan orang-orang untuk mencari dan menerima bukti-bukti yang mendukung pendapat dan keyakinannya serta akan mengabaikan bukti-bukti yang bertentangan dengan seleranya – kebenaran berdasarkan selera.

Keyakinan akan menghadirkan harapan, selanjutnya membentuk persepsi, kemudian akan menciptakan kesimpulan. Dengan demikian, kebenaran merupakan apa yang selalu kita harapkan dan menyimpulkan berdasarkan kesimpulan pribadi.

Kyle Hill pernah mengatakan: “Manusia cenderung hanya akan menerima informasi yang menguatkan apa yang diyakininya dan mengabaikan atau mendiskreditkan informasi yang bertentangan dengan seleranya. ‘Bias konfirmasi’ akan mengendap di atas mata seperti kacamata yang mendistorsi semua yang dilihatnya.”

Sejatinya kebenaran tidak bisa menyenangkan semua pihak, selalu ada pihak yang terganggu dan mencoba menggugatnya jika kebenaran yang hadir tidak sesuai dengan seleranya. Hal ini akan memicu kompetisi antagonis untuk mempertahankan pendapatnya. Langkah terbaik untuk menghindari bias konfirmasi dengan cara berdamai dengan diri sendiri dan selalu mengoreksi diri serta mengembangkan kemampuan kognitif.

Sekoci Hoaxes. Filter Ekosistem Informasi!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

kategori: Informasi

Artikel Terbaru

Bagaimana Komunikasi Informasi Menyebarkan Rumor dan Berita Palsu