Sapeurs Kongo: Rela Menahan Lapar Demi Bergaya Borjuis


Sapeurs Kongo

Di kota miskin di negara miskin dan di benua miskin, ada sekelompok orang dengan tujuan sama berpenampilan nyentrik dan mewah agar terlihat kaya. Atau, lebih tepatnya, untuk terlihat lebih baik dengan mewujudkan gaya keramahan juga elegan dari penampilan sartorial. Mereka biasa disebut Sapeurs atau Society of Tastemakers and Elegant People, orang-orang Kongo berpakaian elegan dan modis dengan selera fashion tinggi.

Mereka mengubah jalan-jalan di Brazzaville, ibu kota Kongo, menjadi ruang mode. Kebanyakan mereka berasal dari latar belakang kemiskinan, muncul sebagai konsumen fashion yang tidak biasa, bahkan sering kali mereka harus menghemat uang hingga tidak makan hanya untuk membeli barang-barang fashion yang mereka inginkan.

Sekoci
Sapeurs Kongo. RT
Sekoci
Kaum Sapeurs Kongo. Foto oleh Per-Anders Pettersson

Agar terlihat khas mereka membeli sepatu bermerek, pakaian dengan warna cerah, dan gaya necis, lebih menonjol dengan latar belakang kemiskinan di mana mereka tinggal. Gaya Sapeurs dimulai sebagai salah satu emulasi, usaha atau ambisi untuk menyamai bahkan melebihi dari yang lain, bagian dari gengsi dan harga diri. Mereka bergaya menelusuri jalan-jalan kumuh dan kotor dengan menggunakan sepatu dari kulit buaya dan pakaian rancangan desainer, walau hidup dalam kemiskinan.

Sejarah Sapeurs

Sebuah fenomena dari generasi ke generasi, orang Sapeur pertama kali muncul setelah kedatangan orang Eropa di Kongo pada tahun 1920-an, di mana para pelayan sering diberikan pakaian bagus oleh majikan mereka dengan maksud agar sang majikan dapat memamerkan kekayaan dengan kemampuan mereka memberikan tampilan berpakaian pelayannya secara baik.

“Pada awal abad ke-20, ketika Perancis tiba di Kongo, mitos keanggunan Paris lahir di antara kelompok pemuda etnis Bakongo,” kata fotografer Spanyol Hector Mediavilla, yang mulai mendokumentasikan Sapeur pada tahun 2003. Orang-orang Kongo yang bekerja untuk penjajah Perancis, atau yang hidup di Perancis, mulai mengadopsi gaya mode busana dan pengaruh aristokrat Perancis.

Misi Perancis adalah untuk membudayakan orang-orang Afrika yang dianggap tidak sopan dan telanjang. Mereka membawa pakaian bekas dari Eropa sebagai alat tawar-menawar untuk mendapatkan loyalitas para kepala suku. Pada akhir abad ke-19, pelayan rumah mereka adalah orang pertama yang dirangkul ke arah modernitas Eropa dengan diberi pakaian, bukan uang sebagai bayarannya. Elit Kongo tidak hanya mencakup pelayan rumah, tetapi juga mereka yang memegang posisi lebih rendah sebagai pegawai di kantor kolonial dan tempat-tempat lain.

Sekoci
Sapeurs style, 1900. Pinterest

Kembali ke Brazzaville masa kini, orang-orang Sapeurs harus mengeluarkan banyak uang untuk membeli pakaian bagus, sepasang sepatu kulit buaya, dan aksesoris bermerek lainnya. Pada awal 1980-an sebuah kampanye melarang Sape muncul di ruang publik, sekarang mereka dihormati dan menjadi kesayangan rezim. Mereka telah diangkat ke status yang lebih tinggi sebagai “warisan budaya” oleh Denis Sassou Nguesso (presiden Republik Kongo), memungkinkan mereka untuk berpartisipasi dalam acara-acara budaya publik seperti Pameran Mode dan Kerajinan Afrika.

Sapeurs kontemporer, atau Sapeurs generasi ketiga, telah melampaui ide modernisasi dan berevolusi melalui pakaian dan lebih ke arah ide untuk memerangi kemiskinan melalui pakaian, menutupi realitas ekonomi mereka dengan ilusi kekayaan, dan bertahan dari penderitaan yang mereka hadapi . Seperti subkultur lainnya, mereka memiliki hierarki dan benang merah yang diperkenalkan oleh generasi pertama Sapeurs, di mana status tertinggi yang diperoleh adalah Parisien, seseorang yang telah berhasil tiba di Paris dan kembali dengan modal budaya yang mereka aplikasikan di tempat tinggalnya.

Sapeurs berkumpul di klub Sape untuk memvalidasi satu sama lain, mereka memamerkan pengetahuan dan pakaian bermerek mereka. Tujuan akhir bagi seorang Sapeur adalah untuk dikagumi, dihormati, bukan Paris yang mereka perjuangkan tetapi kemampuan untuk saling pamer ketika mereka kembali ke Brazzaville atau Kinshasa melalui penampilan mewah.

Kemiskinan yang melanda Kongo disebabkan oleh perang dan politik. Keberadaan kelompok Sapeurs saat ini dianggap sebagai perlawanan ekonomi, saat mereka menggunakan pakaian borjouis untuk melupakan segala kesulitan ekonomi yang mereka hadapi. Para Sapeurs menolak pandangan bahwa mereka meniru Perancis, karena mereka berpakaian sebagai diri sendiri bahkan lebih baik. Orang Sapeur mengangkat diri mereka ke status yang setara, menunjukkan bahwa kemiskinan tidak akan menghalangi mereka dan bahwa mereka adalah tuan bagi mereka sendiri.

Sapeuses

Fenomena Sapeurs menjadi daya tarik bagi para peneliti untuk mempelajari penyimpangan mereka, fenomena ini telah didokumentasikan dengan cukup baik, terutama di seluruh literatur ilmiah Perancis. Di sisi lain, kaum perempuan Kongo mendapat narasi unik gender karena kurangnya minat menjadi Sapeuses, menunjukkan fakta bahwa gerakan Sape dianggap sebagai gerakan laki-laki.

Secara historis, ketika pria Kongo mulai berpakaian setelan mode Eropa, para wanita masih mengenakan pakaian tradisional karena mereka tidak memiliki pekerjaan yang sama dengan pria. Saat ini tidak sedikit wanita Kongo menjadi Sapeus, pakaian mereka sama mewahnya dengan Sapeurs.

Orang-orang Sapeus tidak hanya menentang citra kemiskinan, tetapi mereka juga menentang paradigma bahwa itu adalah dunia laki-laki, yang menunjukkan bahwa mereka dapat melakukan pekerjaan yang lebih baik daripada rekan-rekan pria mereka. Dengan kekerasan seksual yang merajalela terhadap perempuan di Kongo, mereka merasa memiliki kontrol yang diproyeksikan sebagai bantuan kecil dan cara untuk membuat identitas tentang tubuh mereka.

Sekoci
Edith, 47 tahun, telah menjadi Sapeus selama 36 tahun. Dia seorang ibu rumah tangga dengan empat anak. Tariq Zaidi / Al Jazzera.
Michelle, 32 tahun, telah menjadi Sapeus selama enam tahun. Ia memiliki satu anak dan bekerja di Kementerian Pertanian. Tariq Zaidi / Al Jazzera.

Ketika para wanita mulai masuk dalam lingkaran subkultur yang sebelumnya arus utama didominasi oleh pria. Wanita yang mendobrak budaya ini masih dianggap sangat stigmatisasi, beberapa wanita menjelaskan bahwa mereka kerap berhadapan dengan homofobia atau transphobia karena mereka dipandang sebagai pengganggu, yang hanya ingin menjadi seperti laki-laki. Kaum Sapeus menjadi minoritas, tetapi ada kemungkinan lebih banyak yang akan bergabung dengan gerakan ini ketika demonstrasi untuk meningkatkan hak-hak perempuan di Kongo.

Mungkin Anda berpikir apa yang mereka lakukan adalah kegilaan dan tidak rasional, lebih mementingkan mendandani kulit luar dibanding mengisi perut. Pandangan negatif kepada mereka sudah terjadi sejak awal, para pembantu rumah tangga menggunakan koneksi mereka di Prancis untuk membeli pakaian, walaupun harus kelaparan mereka akan tetap mengenakan pakaian mahal begitu upah bulanan mereka cair. Namun, apa yang mereka lakukan tidak bisa digugat menggunakan rasionalitas, kepuasan hati menjadi alasan utama mereka.

 

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!

 

Referensi:

The Surprising Sartorial Culture Of Congolese ‘Sapeurs’National Public Radio

Meet the Sapeuses of BrazzavilleAl Jazzera

Sapeurs and SapeusesGrinnel College

Congo Dandies: ‘I could buy a piece of land, but bought a pair of shoes’RT

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

kategori: Informasi

Artikel Terbaru

Sapeurs Kongo: Rela Menahan Lapar Demi Bergaya Borjuis