Apakah Pengecekan Fakta Politik Dapat Menekan Hoax?


Sekoci

Kita hidup, kita diberitahu, kita pun percaya, lalu terlempar ke zaman purba di mana otoritas dan ilmu pengetahuan terkunci di dalam kotak pandora. Internet telah lama memupuk relativisme informasi modern, dan menciptakan semacam sinisme untuk orang yang mudah tertipu -“Informasi yang dapat menyenangkan hati mutlak kebenaran.”

Pengecekan fakta atau debunk adalah sebuah upaya sanggahan atau menghilangkan prasangka, atau membuktikan sebuah informasi adalah salah. Secara umum, pengecekan fakta berupa teks tulisan analisis sebuah informasi yang diterbitkan dan disebarluaskan di internet dan/atau media sosial.

Pemeriksaan fakta dapat dilakukan oleh individu, seperti pengguna media sosial atau penulis blog. Khusus debunk politik, pemeriksaan fakta menjadi bumerang ketika debunker tidak mampu jujur pada diri sendiri, masih terikat erat dengan ideologi politik. Akhirnya setiap debunk yang mereka sajikan condong berat sebelah. Mereka biasanya akan meyakinkan pemirsa bahwa dirinya adil dan netral dengan membuktikan dia tidak hanya membongkar hoax dari satu kubu. Namun, mereka tidak menyadari yang menentukan porsi adil bukan dari diri sendiri.

Apakah Anda berpikir semua pemeriksaan fakta politik akan menghasilkan hal positif? Upaya ini juga bisa berdampak negatif ketika setiap individu secara bebas menerbitkan tulisan debunk, kita tidak tahu kualitas objektif debunkers. Tidak dipungkiri politik saat ini layaknya agama baru yang menciptakan fanatisme (cinta buta). Apakah Anda dapat memastikan setiap pemeriksaan fakta politik tidak terafiliasi dengan fanatisme?

Serangkaian penelitian yang pernah dilakukan tentang dampak pengecekan fakta politik menunjukkan bahwa pengecekan fakta ini memang mampu memperbaiki kesalahan persepsi di antara masyarakat, serta mencegah politisi menyebarkan informasi yang salah. Namun, ketika afiliasi politik ikut terlibat dalam periksaan fakta, menciptakan tanda tanya besar hingga menjadi rumit. Umum diketahui, tidak ada objektivitas dalam politik, kepentingan akan menjadikan pemeriksaan fakta sebagai senjata untuk menyerang lawan atau sekedar memuaskan fanatisme.

Beberapa studi pemeriksaan fakta sebagian besar dilakukan di Amerika Serikat. Pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016 menjadi titik awal serangkaian studi ini. Pilpres AS 2016 adalah kiblat di mana berita palsu berada pada titik paling memprihatinkan. Banyak sumber daya ikut terlibat dan efeknya secara global menjadi siaga satu.

Satu studi tentang pemeriksa fakta PolitiFact, FactCheck.org, dan Pemeriksa Fakta Washington Post, menemukan bahwa hasil pemeriksaan fakta mereka bisa dipercaya. Namun, sebuah studi oleh Morgan Marietta, David C. Barker dan Todd Bowser menemukan “perbedaan besar dalam pertanyaan yang diajukan dengan jawaban yang disajikan.” Studi itu menyimpulkan bahwa ada batas dari “manfaat pemeriksaan fakta bagi masyarakat yang mencoba untuk memutuskan versi mana yang harus dipercaya.”

Dalam lingkungan politik kontemporer saat ini di mana klaim yang terpolarisasi banyak disengketakan, organisasi dan individu banyak melahirkan pemeriksaan fakta online. Mereka banyak mendapatkan pujian dan penghargaan, tetapi tidak sedikit mendapat vonis negatif karena metode yang mereka lakukan bias dan terjadi kesalahan.

Joseph E. Uscinski dan Ryden W. Butler (2013) berpendapat bahwa metode pengecekan fakta saat ini tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Mereka mengambil banyak sampel dari “sumber pengecekan fakta” ​​yang tidak melakukan pengecekan fakta secara teratur dan konsisten, mereka menciptakan efek seleksi sebagai media kritik, dengan demikian melemahkan posisi mereka sendiri.

Selain itu, tidak hanya argumen generalisasi berlebihan, mereka juga gagal menawarkan kuantifikasi empiris untuk mendukung beberapa kritik anekdotal mereka. Rejoinder ini menawarkan penelitian yang menunjukkan tingkat konsistensi yang tinggi dalam pengecekan fakta dan berpendapat bahwa selama hoax masih beredar terus menerus, pengecekan fakta memiliki peran penting untuk dimainkan di seluruh dunia.

Studi-studi pemeriksaan fakta telah memperjelas bahwa upaya debunk sering menghasilkan perubahan perilaku secara umum, masyarakat akan lebih berhati-hati menjaga jarinya untuk tidak sembarangan membuat deskripsi dan berbagi informasi. Masyarakat juga tidak sepenuhnya terpengaruh oleh pemeriksaan fakta politik, apalagi koreksi yang cenderung menyerang dengan kebencian yang dapat memecah belah.

Pemeriksaan fakta politik juga dianggap sebagai pengalihan fakta-fakta. Ketika serangkaian informasi yang saling terkait terbukti sebagai fakta, tetapi hanya ada satu atau sebagian kecil diperiksa dan terbukti hoax, maka sebagian besar fakta seperti dianggap gugur (karena nila setitik, rusak susu sebelangga).

Sebuah studi tahun 2015 menemukan bukti pengecekan fakta sebagai “efek bumerang”, mengoreksi informasi palsu malah membuat partisan individu lebih kuat memegang teguh fanatismenya. Studi ini diadaptasi dari situs Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) yang secara signifikan membongkar mitos tentang vaksin. Debunk yang mereka lakukan malah berefek negatif, mengurangi niat masyarakat untuk melakukan vaksinasi dengan tingkat yang memprihatinkan.

Sebuah studi tahun 2016 menemukan sedikit bukti untuk “efek bumerang”: “Pada umumnya, masyarakat terkonsentrasi pada informasi faktual (kejadian nyata yang tidak terikat waktu, bisa terjadi di masa lalu atau masa sekarang), bahkan ketika informasi tersebut menantang fanatisme partisan dan ideologis mereka. Dalam studi itu, kaum konservatif (kolot) disajikan informasi faktual tentang tidak adanya Senjata Pemusnah Massal di Irak, mereka malah menjadi lebih yakin bahwa senjata semacam itu ada dan telah ditemukan.

Studi lain dilakukan kepada pendukung Donald Trump selama kampanye pilpres 2016, untuk mengetahui apakah mereka lebih mempercayai pemeriksaan fakta atau klaim menyesatkan dari kandidat yang mereka dukung. Ketika responden membaca berita pidato Trump yang menyampaikan data FBI yang menunjukan bahwa kejahatan menurun secara dramatis dan kosisten dari waktu ke waktu, mereka yang hanya terfokus pada pidato Trump terjadi kesalahpahaman dibanding dengan mereka yang melihat versi artikel pemerikasaan fakta yang mengoreksi.

Studi itu menemukan bahwa pesan yang disampaikan Trump dapat meningkatkan keyakinan faktual responden, tetapi tidak memiliki efek terukur pada sikap terhadap Trump. Hasilnya menunjukkan bahwa pemeriksaan fakta dapat mengurangi kesalahan persepsi, tetapi seringkali berefek minimal pada evaluasi kandidat atau pemilihan suara.

Saat ini konten pemeriksaan fakta menjamur dilakukan oleh individu, organisasi, dan jurnalisme. Apakah pemeriksaan fakta politik dengan sumber daya yang cukup besar dapat menekan peredaran hoax? Tidak, hoax malah semakin menjamur karena bagian dari kebutuhan politik (menaikan elektabilitas).

Saya pribadi telah berkecimpung dalam debunked sebelum pilpres 2014. Saat itu sebagian besar hoax berasal dari kejadian yang sedang viral dan hoax daur ulang, hoax politik masih minim. Setelah pilpres 2014, iklim politik kian memanas, dimulai dengan kasus pakaian ihram terbalik yang digunakan oleh presiden Jokowi. Debunk yang dilakukan oleh afiliasi politik mencoba mengaburkan fakta dengan memutarbalikan kebenaran (gambar asli dikatakan palsu dan gambar palsu diklaim asli).

Hari terus beganti dan hoax kian subur. Menjamurnya pemeriksaan fakta politik di Indonesia yang sekarang Anda kenal sebenarnya belum lama lahir, mulai masif sekitar akhir tahun 2016. Fenomena pemeriksaan fakta disebabkan iklim politik yang kian memprihatinkan, bagian dari strategi politik di media sosial, mulai dari penyebaran disinformasi hingga serangan terorganisir terhadap lawan. Sebagian besar serangan tidak diketahui oleh publik, tidak terlihat invasif. Masalah ini harus dihadapi oleh masyarakat setiap negara di seluruh dunia, sering kali tidak pernah disadari.

Akun bots menghasilkan dukungan ilusi kepada kandidat, mendorong dukungan aktual dengan memicu opini publik. Aktor politik menggunakan media sosial untuk melancarkan aksinya dengan memanipulasi opini publik, dengan mengerahkan pasukan cyber yang dibayar untuk melancarkan serangan kepada lawan politik. Melalui kombinasi pasukan cyber, kader partai, pendanaan publik, kontrak pribadi dan relawan, dan mengerahkan akun bots palsu menciptakan ribuan post spam setiap harinya.

Hukum tidak resmi di media sosial berlaku konsensus siapa saja yang memiliki sumber daya besar akan dengan mudah mengendalikan massa. Anda dapat menilai sendiri apakah hoax politik saat ini semakin menurun atau kian meningkat semenjak pemeriksaan fakta mulai gencar dilakukan secara masif dan terorganisir. Ketika masyarakat banyak disajikan edukasi dan bahaya hoax, lantas bagaimana dengan elit politik? Apakah hanya masyarakat yang menjadi tersangka, sedangkan politisi bak malaikat dengan segala kesuciannya?

Hari ini, keberanian dari kebohongan besar mempertahankan kekuatannya, bahkan jika ada perlawanan, genderang perang siap ditabuh. Mereka menguasai dunia paranoid kehidupan bawah sadar, menjalankan tipu daya dan manipulasi, di mana kebenaran mutlak milik mereka. Kebohongan strategis telah memainkan peran penting bagian dalam pertempuran yang sedang berkecamuk antara demokrasi dan musuh-musuhnya, iblis pun menjadi sekutu terindah.

Kebenaran terlihat kerdil ketika ia bersekutu dengan sudut pandang asumsi, berpesta pora di dalam paradigma, mengeksploitasi pola pikir. Teriak lantang tak lagi didengar, diam kian ditindas! Teatrikal para peran antagonis dimainkan, dengan cara licik memaksa masyarakat mengutuk akal sehat mereka sendiri sampai mati, dengan cara yang begitu meyakinkan bahwa jurnalisme menulisnya sebagai kebenaran.

Pengecekan fakta politik sering dianggap sebagai opini jurnalisme. Pada September 2016, sebuah survei online AS Rasmussen Reports menemukan bahwa “hanya 29% dari semua pemilih di AS melakukan pengecekan fakta yang dilakukan media. Enam puluh dua persen (62%) lebih percaya bahwa outlet berita mainstream condong mengecek fakta untuk membantu kandidat yang mereka dukung.

Situs media sosial, khusus Facebook, menjadi platform yang paling kuat untuk menyebarkan berita palsu dan opini publik untuk membunuh karakter lawan. Perang adalah politik dengan pertumpahan darah, sedangkan politik adalah perang tanpa pertumpahan darah. Dalam perang kita akan dibunuh satu kali, sedangkan dalam politik akan dibunuh berkali-kali.

Para peneliti mengungkap peningkatan jumlah pengecekan fakta politik di AS sangat signifikan, lebih dari 50% antara tahun 2002 hingga 2008. Dari 2008 hingga 2012, meningkat pesat hingga 300%. Apakah peningkatan besar pemeriksaan fakta cukup berpengaruh dalam menekan hoax? Hasil studi efek pengecekan fakta pernah dirilis, diawasi oleh American Press Institute (API), dan didukung oleh Hewlett Foundation, bersama dengan Democracy Fund dan Rita Allen Foundation.

Hasilnya mengungkapkan perbedaan pandangan ketertarikan kepada pemeriksa fakta tergantung pada afiliasi partai politik. Salah satu risiko yang melekat dalam tulisan pengecekan fakta adalah bahwa “mengekspos klaim palsu dalam upaya untuk membantah mereka” dapat menyebabkan situasi di mana pembaca akan lebih mengingat informasi salah daripada mereka mengingat koreksi yang disajikan.

Tanpa disadari upaya pengecekan fakta politik mengandung efek bumerang. Setiap partisan dengan alasan fanatisme hanya akan menerima pengecekan fakta untuk menguatkan keyakinannya. Maka tidak heran jika kedua kubu saling melemparkan tuduhan “kalian rajanya hoax.” Padahal mereka adalah konsumen hoax paling setia, tetapi tidak sadar karena sedang mabuk politik.

Walau bagaimanapun pengecekan fakta adalah upaya yang harus dilestarikan untuk menekan kesalahan informasi, walaupun secara signifikan belum mampu menekan hoax, kecuali perkasus. Upaya yang lebih serius harus dilakukan oleh pemerintah dengan memberantas akar permasalahannya, bukan hanya sekedar retorika politik. Hukum sebab akibat berlaku, hoax adalah akibat, sedangkan akarnya (penyebab) adalah kegaduhan politik.

Sejatinya hoax bersifat fluktuasi mengikuti kondisi yang sedang terjadi. Pengecekan fakta hanya menyelesaikan masalah ketika sudah terjadi (hoax sudah beredar). Pencegahan dari akarnya adalah kunci utama yang paling efektif dalam menekan hoax, seperti memberantas pasukan cyber dari kedua pihak dan menghentikan kegaduhan politik dengan saling bergandengan tangan hingga tercipta harmonisasi sosial.

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!

What's Your Reaction?

hate hate
1
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
1
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

kategori: Informasi

Artikel Terbaru

Apakah Pengecekan Fakta Politik Dapat Menekan Hoax?