Akar Krisis Venezuela, Negara Kaya Raya Menjadi Miskin


Sekoci

Venezuela, rumah bagi cadangan minyak terbesar di dunia, pernah menjadikannya sebagai negara kaya raya. Sejak ditemukannya ladang minyak raksasa pada 1920-an, negara ini mulai berbenah diri menuju kemakmuran. Minyak telah membawa Venezuela masuk ke dalam buaian keindahan, tetapi di balik itu tersimpan teror kebangkrutan yang memberikan pelajaran bagi negara-negara lain yang kaya akan sumber daya alamnya.

Pemerintahan yang buruk selama beberapa dekade telah mendorong negara yang dulunya merupakan salah satu negara paling makmur di Amerika Latin berbalik ke kehancuran ekonomi dan politik. Negara dengan kekayaan sumber daya yang besar menjadi pesona daya tarik bagi pemodal asing masuk untuk ikut menjamahnya. Hal itu berakibat negatif bagi ekonomi jika tidak dikelola dengan benar, menjadi ketergantungan pada eksport minyak.

Fenomena ini disebut preto-state, istilah formal yang digunakan untuk menggambarkan suatu negara dengan beberapa faktor yang saling terkait: Pendapatan pemerintah sangat bergantung pada ekspor minyak dan gas alam, kekuatan ekonomi dan politik sangat terkonsentrasi pada minoritas elit, lembaga-lembaga politik lemah dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, dan korupsi tersebar luas. Negara-negara yang sering digambarkan sebagai petrostate termasuk Aljazair, Kamerun, Chad, Ekuador, Indonesia, Iran, Libya, Meksiko, Nigeria, Oman, Qatar, Rusia, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Venezuela.

Pretostate dianggap rentan oleh para ekonom yang juga disebut Dutch disease (penyakit Belanda). Dinamakan penyakit Belanda karena tahun 1977 ditemukan cadangan gas yang besar di Belanda dan membuat ekonomi berubah menjadi berbasis sumber daya alam ketimbang membangun industri manufaktur. Struktur ekonomi yang mengandalkan SDA terbukti rapuh. Istilah ini mulai populer kembali di tahun 2013 lalu ketika harga minyak mentah mulai merosot tajam hingga akhir 2016. Beberapa Negara yang mengandalkan komoditas mentah seperti Brazil, Malaysia, Venezuela, Arab Saudi termasuk Indonesia terpukul hebat. Perekonomian kocar-kacir, devisa dan penerimaan Negara turun, kredit macet naik, sementara di sektor riil pengangguran membludak.

Negara yang mengidap penyakit Belanda punya beberapa gejala khas yakni, perencanaan anggaran yang buruk, perbankan dipacu untuk mendanai sektor komoditas seperti perkebunan, dan batu-bara, dan sektor industri tidak mendapat perhatian serius. Ekonomi Petrostate sangat rentan terhadap perubahan tak terduga dalam harga energi global dan pelarian modal. Kutukan sumber daya yang disebut juga mengambil jalan pintas oleh pemerintahan. Karena petrostate sangat bergantung pada pendapatan ekspor dan lebih sedikit pada pajak, seringkali ada ikatan yang lemah antara pemerintah dan warganya.

Mengapa sumber daya alam begitu sangat beracun? Mengapa begitu banyak orang hidup dalam kemiskinan sedangkan mereka yang di atas menikmati takhta kemewahan? Itu adalah pertanyaan jutaan orang Nigeria, Aljazair, Indonesia, Iran, Meksiko dan Venezuela, mereka bertanya pada diri sendiri selama beberapa dekade tanpa mendapatkan penjelasan yang meyakinkan.

Sekoci
Uang kertas menjadi sampah di jalanan Venezuela
Sejarah krisis Venezuela

Pada tahun 1922, ahli geologi dari perusahaan Royal Dutch Shell menemukan ladang minyak yang sangat besar di Venezuela. Sejak saat itu, laju produksi minyak melaju pesat hingga 100.000 barel perhari. Hanya dalam hitungan tahun, lebih dari seratus perusahaan asing ikut mengolah minyak Venezuela, didukung oleh Jenderal Juan Vicente Gomes. Saat itu Venezuela dalam kekuasaan kediktatoran militer. Produksi tahunan kian meledak, yang sebelumnya hanya satu juta  barel menjadi 137 juta barel, menjadikan Venezuela nomor dua setelah AS dalam total produksi minyak dunia pada 1929.

Pada saat Gomes meninggal pada 1935, ketergantungan produksi minyak semakin kuat, menyumbang 90% dari nilai ekspor. Setelah itu hanya ada 3 perusahaan asing, Royal Dutch Shell, Gulf, dan Standart Oil, yang menguasai 98% pasar minyak Venezuela. Pengganti Gomes berusaha mereformasi sektor minyak dengan menyalurkan laba ke kas negara. Undang-undang pertama dibuat pada 1943, mengharuskan perusahaan asing menyetorkan setengah dari keuntungannya kepada negara (Venezuela). Hanya dalam 5 tahun pendapatan pemerintah meningkat enam kali lipat.

Pada tahun 1958, setelah runtuhnya kediktatoran militer, Venezuela mulai memilih pemimpin melalui sistem pemerintahan demokratis. Pada tahun 1973, embargo OPEC selama 5 bulan terhadap negara-negara yang mendukung Israel dalam perang Yom Kippur menyebabkan meningkatnya harga minyak empat kali lipat dan menjadikan Venezuela sebagai negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di Amerika Latin. Lebih dari 2 tahun Venezuela mendapat rezeki nomplok menambah $10 miliar ke kas negara. Namun, rezeki nomplok itu memberi jalan para koruptor kian merajalela. Perkiraan sebanyak $100 miliar telah dikorup antara tahun 1972 hingga 1997.

Eksploitasi minyak secara besar-besaran sejak awal ditemukan, akhirnya cadangan minyak mulai menipis. Kediktatoran telah membuat produksi minyak Venezuela menjadi tidak wajar, hanya mengejar keuntungan pribadi dengan memproduksi minyak dengan jumlah besar tanpa mempedulikan cadangan minyak di masa depan. Pada tahun 1980-an, harga minyak global mulai anjlok, ekonomi Venezuela berkontraksi dan melonjaknya inflasi. Dengan kondisi itu presiden Andres Perez menambah hutang luar negeri untuk membeli kilang asing, seperti Citgo di AS.

Pada tahun 1992, Hugo Chavez, perwira tinggi militer, melakukan kudeta, tetapi aksinya gagal. Namun, aksinya melambungkan namanya hingga mendapatkan popularitas tinggi di negaranya. Akhirnya Chavez terpilih menjadi presiden Venezuela pada 1998, berjanji menggunakan produksi minyak untuk mensejahterakan rakyatnya. Pada tahun 2005, Chavez menyediakan minyak bersubsidi ke beberapa negara. Selama kepemimpinannya hingga 2013, cadangan minyak bumi kian berkurang dan utang pemerintah membengkak dua kali lipat.

Chavez memanfaatkan popularitasnya di antara kelas pekerja untuk memperluas kekuasaan kepresidenan dan menggerakkan pemerintahan menuju otoritarianisme, ia mengakhiri masa jabatan dengan menurunkan kekuasaannya kepada orang yang ia pilih, mendobrak sistem demokrasi. Ia secara efektif mengambil kendali Mahkamah Agung, mengekang pers dan menutup outlet berita independen, dan menasionalisasi ratusan bisnis swasta dan aset milik asing. Reformasi Chaves membuka jalan bagi Maduro untuk membangun kediktatoran selama bertahun-tahun setelah kematian Chavez.

Nicolas Maduro melanjutkan kediktatoran selama kepemimpinannya. Maduro adalah orang kepercayaan Chavez, sebelumnya ia hanya seorang supir bus yang berjasa mengamankan Chavez sekeluar penjara pada 1994 karena kudeta yang gagal. Maduro sering menyebut dirinya sebagai anak Chavez selama kampanye, “saya adalah putra Chavez.” Karir politiknya dimulai menjadi anggota DPR tahun 1998. Maduro menjadi Menteri Luar Negeri saat presiden masih dijabat Rafael Caldera pada 2006, sebelum akhirnya merangkap jabatan sebagai wapres sejak 13 Oktober 2012. Ia akhirnya menjadi Presiden ke-65 Venezuela pada tahun 2013.

Pada pertengahan 2014, harga minyak dunia anjlok, ekonomi Venezuela terjun bebas hingga terjadi kerusuhan. Maduro tetap berusaha mempertahankan takhtanya dengan berbagai cara, termasuk larangan demontrasi, memenjarakan lawan politik, dan membubarkan DPR. Pada 2018, Modura kembali terpilih menjadi presiden Venezuela, dengan cara tidak demokratis. Selanjutnya ekonomi Venezuela kian terpuruk hingga nilai mata uang mereka sangat rendah.

Venezuela’s Crude Oil Production Versus Global Prices, 1994–2018

 

Indikator Suram akar krisis Venezuela

 

  • Ketergantungan minyak. Penjualan minyak menyumbang 98 persen dari pendapatan ekspor dan sebanyak 50 persen dari produk domestik bruto (PDB).
  • Produksi menurun. Output minyak telah menurun selama beberapa dekade, mencapai titik terendah pada 2018.
  • Spiral ekonomi. Pada 2018, PDB menyusut dua digit selama tiga tahun berturut-turut.
  • Lonjakan hutang. Venezuela tidak mampu membayar miliaran dolar dalam pembayaran hutang sejak gagal bayar pada akhir 2017.
  • Hiperinflasi. Inflasi tahunan mencapai dari 1.000.000 persen, di tahun 2019 diprediksi mencapai 10.000.000 persen.
  • Tumbuhnya otokrasi. Bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya dipegang oleh satu orang atau penguasa tunggal. Presiden Nicolas Maduro telah melanggar prinsip demokrasi untuk mempertahankan kekuasaan.

 

Sekoci
Uang yang harus dibayar untuk membeli satu gulungan tisu

Pada Agustus 2018, untuk mengatasi hyperinflasi, Maduro mengeluarkan mata uang baru “bolivar yang berdaulat” menggantikan bolivar lama dan merevolusi nilainya, memotong lima angka nol. Satu bolivar berdaulat bernilai 100.000 bolivar lama. Ide Maduro adalah untuk melabuhkan bolivar yang berdaulat baru ke Petro, mata uang virtual yang ditautkan dengan cadangan minyak Venezuela. Namun kebijakannya semakin memperparah, warga kesulitan menyesuaikan mata uang baru, toko-toko terpaksa tutup dan para pekerja memilih tinggal di rumah.

Sekoci
Dompet dan tas dibuat menggunakan uang kertas Bolivar

Kondisi semakin diperparah oleh bencana gempa bumi berkekuatan 7,3 magnitudo yang mengguncang wilayah pesisir utara dirasakan hingga ke Kolombia bahkan Trinidad pada 21 Agustus 2108. Walaupun laporan tidak ada korban jiwa, banyak warga meninggalkan rumahnya.

Fakta krisis Venezuela
  • Ketidakstabilan ekonomi dan politik selama bertahun-tahun di Venezuela telah menyebabkan eksodus terbesar di Amerika Latin dalam beberapa tahun terakhir, kata organisasi migrasi PBB.
  • Sekitar 3,4 juta rakyat Venezuela telah meninggalkan negara itu untuk mencari makanan, pekerjaan, dan kehidupan yang lebih baik sejak 2014.
  • Malnutrisi anak telah mencapai tingkat krisis di Venezuela, Unicef melaporkan.
  • Karena sistem kesehatan Venezuela menjadi sangat buruk, penyakit seperti campak, difteri, dan malaria, yang sebelumnya pernah diberantas, sekarang menyebar, dan bahkan melebihi batas-batas nasional ketika migrasi Venezuela.
  • Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, bahkan melebihi Arab Saudi. Membuka industri minyaknya untuk investasi asing, menyebabkan eksploitasi besar hingga menguras cadangan minyak.
  • Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi tingkat inflasi Venezuela akan mencapai 10 juta persen pada tahun 2019.
Solusi memperbaiki kondisi Venezuela
  • Menggelar pemilihan presiden baru dengan sistem demokratis dalam waktu dekat, harus diawasi oleh organisasi independen internasional.
  • Membentuk komisi ahli independen dengan waktu terbatas, menyertakan perwakilan dari pihak pemerintah dan oposisi.
  • Maduro harus berhenti bermusuhan dengan AS, dengan itu Trump dapat mencabut sanksi yang pertama kali dikeluarkan oleh Barack Obama kepada Venezuela.
  • Maduro harus menekan egonya dengan menerima bantuan dari organisasi internasional, selama ini Maduro selalu menolak.
  • Jika semua solusi di atas gagal, solusi terakhir dengan menggunakan skenario militer untuk memberikan kesempatan pihak oposisi mengambil alih kepemimpinan Venezuela.
Bagaimana cara kita membantu rakyat Venezuela?
  • Berikan dana bantuan kepada World Vision untuk memenuhi kebutuhan pokok warga Venezuela.
  • Jika tidak bisa membantu dengan uang, Anda bisa membantu dengan cara memberikan doa agar rakyat Venezuela tetap bersabar dan lekas lepas dari kesulitan yang sedang melanda negaranya.

 

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
1
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

kategori: Informasi

Artikel Terbaru

Akar Krisis Venezuela, Negara Kaya Raya Menjadi Miskin