10 Kesalahpahaman Sejarah Yang Mungkin Anda Percaya


Sejarah adalah kisah campuran fakta, berlebihan, terkadang kebohongan yang dianggap nyata, dan pada umumnya cerita yang diulang-ulang sampai semua orang mempercayainya. Anda mungkin tidak terlalu menyukai sejarah, masa lalu terlalu kelam untuk diketahui.

Namun, setiap hembusan napas kita hari ini akan menjadi sejarah di masa depan. Sejarah banyak diidentikan dengan mitos dan kepalsuan, paradigma stereotif yang digaungkan cerita film membuat kusut sejarah yang sebenarnya. Film-film yang beredar mengaburkan sejarah demi kepentingan hiburan, seperti kisah para budak dipaksa bertarung menjadi gladiator sampai mati.

Berikut 10 kesalahan sejarah yang banyak dipercaya:

10. Piramida Giza dibangun para budak
Sekoci
Foto oleh B. Anthony Stewart, Koleksi gambar NAT GEO

Mitos pembangunan Piramida Giza oleh para budak berawal dari sejarawan Yunani kuno Herodotus yang mengambarkan pembangunan Piramida sebagai praktek perbudakan, lalu menyebar secara global dipromosikan oleh film-film. Para arkeolog mengungkap beberapa fakta bahwa budak tidak membangun Piramida.

Hal itu dibuktikan dengan beberapa temuan kuburan para pekerja di sekitar Piramida. Para pekerja kemungkinan sebagian besar adalah orang miskin, mereka butuh makan dan upah. Para arkeolog menemukan kuburan para pekerja di sekitar Piramida, bahkan di dalam Piramida, tidak mungkin para budak dimakamkan secara terhormat.

Bukti lainnya terlihat dari struktur bangunan Piramida yang hampir mustahil dilakukan oleh budak tanpa keterampilan, membutuhkan kecermatan dan ketepatan tinggi dalam membentuk dan menyusun batu. Pembangunan Piramida besar yang dianggap sebagai keajaiban arsitektur dunia kemungkinan besar mempekerjakan orang-orang terampil yang terorganisir dalam kelompok sistem hierarki dengan sumber daya yang besar, dan pastinya didukung oleh otoritas pusat yang kuat, dengan ditemukannya situs oleh para arkeolog.

9. Indonesia dijajah Belanda selama 3,5 abad

Banyak pernyataan dan catatan dalam buku sejarah yang mengatakan bahwa Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun lamanya. Jika menilik dari sejarah pertama kali Belanda menginjakkan kaki di Indonesia pada tahun 1596, pernyataan itu bisa dianggap benar. Namun, awal kedatangan mereka bukan untuk menjajah, tetapi berdagang.

Belanda melihat potensi besar yang dimiliki Indonesia, salah satunya mereka bisa mendapatkan sesuatu yang jarang atau bahkan tidak diketahui pasar Belanda, seperti rempah-rempah yang dianggap sangat menguntungkan bagi pengusaha Belanda. Demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar, pada tahun 1602 diputuskan pada kerjasama antara kamar dagang dengan berdirinya East India Company atau lebih dikenal sebagai VOC.

Secara de facto dan de jure, nama Indonesia sebelum tahun 1945 tidak ada karena tidak resmi, menggunakan nama Hindia Belanda. Sebelumnya wilayah Indonesia dikenal sebagai Nusantara yang artinya diantara pulau-pulau, mencakup berbagai bangsa dan kerajaan seperti Sunda, Bali, Gowa, Padjajaran, Melayu, Andalas, Pagaruyung, Mataram, Banten dan lainnya.

Angka 350 tahun berawal dari perkataan seorang Gubernur Hindia Belanda bernama Bonifacius Cornelis de Jonge (1931-1936). Pada pertengan tahun 1930-an, Gubernur Jenderal de Jonge memberikan keterangan pers bahwa impian Hindia belanda untuk merdeka masih jauh dari kenyataan: “Kita sudah berada di Hindia selama 300 tahun, kita pasti harus bisa berada di sini selama 300 tahun lagi,” ucapnya. Jika dihitung awal kedatangan Belanda tahun 1596, ucapan de Jonge memang benar, dan tahun 1945 Indonesia merdeka, usia Belanda di Indonesia 350 tahun.

Namun seperti yang sudah dijelaskan di atas, awal kedatangan Belanda untuk berdagang, bahkan terikat kesepakatan dengan Kerajaan Banten dan diwajibkan mempersembahkan upeti kepada Sultan Banten. Bahkan berdirinya VOC tidak serta merta niatan penguasaan ekonomi dan politik Belanda di wilayah Nusantara berjalan mulus. Berbagai perlawanan banyak terjadi di beberapa wilayah ketika Belanda berniat menganeksasi wilayah kerajaan-kerajaan yang ada saat itu. Banyak perang terjadi di beberapa kerajaan Nusantara sebagai perlawanan atas niatan Belanda menguasai beberapa wilayah Nusantara.

8. Gladiator adalah budak yang dipaksa bertarung sampai mati

Cerita film banyak menayangkan kisah para budak gladiator dipaksa bertarung sampai mati untuk menghibur penonton. Tetapi jika kita melihat lebih dekat pada fakta-fakta sejarah, kita akan menemukan bahwa kehidupan mereka tidak begitu tragis, tidak seperti yang diceritakan dalam film. Pada awalnya, para petarung benar-benar dipilih dari budak lokal, orang-orang yang ditaklukkan, dan para tahanan.

Tetapi ketika pertarungan gladiator semakin populer, orang-orang mulai bebas berdatangan ke sekolah-sekolah gladiator. Sebagian besar dari mereka adalah mantan prajurit yang ingin memenangkan uang. Selanjutnya, bahkan orang-orang dari kalangan bangsawan tertarik menjadi gladiator. Mereka melakukannya agar menjadi terkenal dan tidak ada yang memaksa mereka untuk bertarung sampai mati.

Para tahanan Roma yang dijadikan budak dilatih di sekolah gladiator, mereka petarung berharga, gladiator adalah bisnis besar. Jadi, mereka bertarung bukan untuk saling membunuh, mereka terlalu berharga jika harus mati. Tidak sedikit gladiator tewas dalam pertarungan, mereka adalah petarung tidak terlatih. Tujuan gladiator tampil di arena pertarung untuk menghibur penonton, bukan saling membunuh, seperti halnya ajang Tarung Bebas atau MMA yang kita kenal saat ini.

7. Kemampuan Ninja bisa menghilang hingga mengendalikan unsur-unsur alam

Ninja nyata tidak ada hubungannya dengan aksi kepahlawanan berpakaian hitam dengan topeng seperti yang sering kita lihat di film. Ninja bertugas sebagai agen rahasia, menyamar, penyusup, tentara gerilya dan pembunuh bayaran di Jepang pada abad pertengahan. Mereka menguasai ilmu beladiri untuk berperang dan membunuh.

Metode terselubung mereka dalam berperang tidak teratur hingga dianggap tidak terhormat, tidak seperti Samurai. Ninja terlihat lebih menonjol dalam legenda dan cerita rakyat, di mana mereka dikaitkan dengan kemampuan legendaris seperti tembus pandang , berjalan di atas air dan mengendalikan unsur-unsur alam. Menciptakan mitos tentang persepsi mereka dalam budaya populer lebih didasarkan pada legenda dan cerita rakyat.

Kisah tentang Ninja yang kita ketahui saat ini kebanyakan berasal dari legenda cerita rakyat, catatan sejarah Ninja masih langka. Sebagian besar Ninja direkrut dari kalangan kelas bawah, asal-usul mereka tidak diketahui dan mereka bekerja secara rahasia, itulah mengapa sedikit minat sastra menulis tentang mereka. Ditambah lagi kisah sejarah epos perang yang lebih terfokus pada aristokrat Samurai, kisahnya dianggap lebih menarik dibanding kisah Ninja yang sangat rahasia dan stratanya lebih rendah.

Sejarawan Stephen Turnbull mengungkap sejarah Ninja, ia menerbitkan buku berjudul Ninja: Unmasking The Myth. Tulisannya dianggap kontroversi karena mengungkap sisi negatif seorang Ninja, terutama para Ninjutsu modern (seni beladiri para Ninja) yang merasa diserang oleh tulisan Turnbull.

6. Helm bertanduk Viking

Ketika berbicara tentang Viking pasti yang paling dikenal adalah ‘helm tanduk’, kostum yang selama ini menjadi ciri khas mereka. Gambar dari helm bertanduk Viking berawal dari tahun 1800-an, ketika seniman Swedia Gustav Malmström menampilkan desain kostum Viking menggunakan helm bertanduk, karyanya dipentaskan dalam opera “Der Cincin des Nibelungen” pada 1870-an.

Kostum Viking karya Malmstrom kemungkinan terinspirasi dari penemuan helm bertanduk kuno pada abad ke-19, namun kemudian diketahui bahwa helm bertanduk kuno tersebut berasal dari sejarah yang lebih tua dari kehidupan Viking. Satu-satunya temuan helm Viking yang otentik pernah ditemukan berasal dari abad ke-10, terbuat dari plat besi tanpa tanduk, ditemukan di dalam gundukan pemakaman seorang kepala suku Viking.

Kemungkinan bahwa hanya Viking senior yang memakai helm logam (tanpa tanduk), para prajurit mengenakan kupluk kulit sederhana atau tanpa penutup kepala saat bertempur. Helm bertanduk Viking sangat terkenal tetapi itu hanya khayalan dan tidak pernah terbukti. Helm bertanduk Viking kian terkenal ketika film-film layar lebar menggambarkan bangsa Viking berperang menggunakan helm bertanduk.

5. Columbus penemu Amerika

Untuk waktu yang cukup lama, Christopher Columbus mendapatkan penghargaan sebagai penemu Amerika. Pada tahun 1492, Christopher Columbus saat berlayar melihat daratan Bahama dan itulah pertama kali ia menginjakan kaki di Amerika dan diklaim sebagai penemu Amerika.

Sebelum kedatangan Columbus di Amerika, banyak orang sudah bermukim di sana. Sejarawan hingga saat ini belum dapat memastikan siapa yang pertama kali berada di Amerika, tetapi setidaknya Columbus bukan penemu Amerika. Ada suku Amerindian atau Amerika Indian, penduduk asli Amerika dan Alaska. Warga asli Amerika ini berasal dari Asia, sebagaian besar DNA mereka diketahui masih kerabat dari populasi Mongolia dan Siberia.

Selain itu, ada Pria Kennewick, tengkoraknya ditemukan di Sungai Kolombia, Washington, analisis karbon mengungkapkan jenazahnya berusia 9.000 tahun. Selain pria Kennewick, kerangka lain ditemukan di Amerika bernama Luzia, seorang wanita muda yang meninggal 11.000 tahun lalu. Dalam pemeriksaan waktu yang lebih dekat, ada orang lain yang telah lama menemukan Amerika. Mereka adalah bangsa Inuit (bagian dari keluarga Eskimo-Aleut) muncul di Alaska barat sekitar tahun 1000 masehi.

Bangsa Viking juga pernah mengeksplorasi wilayah timur laut Amerika Utara pada abad ke-10 masehi. Populasi lain yang memungkinkan pernah mengunjungi Amerika jauh sebelum Columbus adalah bangsa Polinesia sekitar tahun 1000 masehi. Walaupun tidak dapat dipastikan siapa manusia yang pertama kali menginjakan kaki di tanah Amerika, bukti-bukti manusia di Amerika jauh sudah ada sebelum kedatangan Columbus.

4. Thomas Edison penemu lampu

Lampu busur listrik pertama kali diperkenalkan oleh Humphrey Davy pada tahun 1806. Berawal dari karya Davy, para ilmuwan abad 19 mencoba memperbaiki dan menyempurnakan agar dapat digunakan di rumah dan kantor. Beberapa orang penemu berhasil mematenkan hasil temuan lampu mereka dengan berbagai teknik penciptaan.

Pada tahun 1841, seorang penemu Inggris bernama Frederick DeMoleyns mematenkan bohlam lampu hanya menggunakan teknik oksigen sebagai pembakaran dengan menggunakan kombinasi pembakaran yang terbuat dari platinum dan karbon. Seorang ilmuwan Amerika bernama John Wellington Starr juga menerima paten pada tahun 1845 untuk bola lampu menggunakan vakum dengan menghubungkan burner karbon.

Banyak ilmuwan lainnya yang menyumbangkan ciptaannya atas bola lampu, termasuk seorang ahli kimia Inggris bernama Joseph Swan, yang meningkatkan kualitas lampu dan mematenkannya dengan versi praktis dan efisien menggunakan vakum dengan pembakar dari berbagai bahan dan bentuk.

Banyak ilmuwan yang mencoba menyempurnakan bola lampu karena dianggap memiliki nilai komersial yang sangat tinggi. Thomas Alva Edison yang sebelumnya sudah terkenal dengan beberapa item paten dan dukungan finansial yang memadai, akhirnya masuk dalam zona persaingan. Edison bukanlah penemu lampu pertama, ia adalah pemenang persaingan penyempurnaan bola lampu untuk dipasarkan secara luas sebagai bisnis yang sangat menggiurkan.

3.  Perang Dunia Pertama

Perang Dunia 1 sebenarnya bukan perang dunia pertama kali, masalah ini agak rumit jika tidak memahami definisi Perang Dunia. Pada umumnya mengartikan Perang Dunia adalah sebuah perang besar melibatkan banyak negara dengan korban jiwa yang sangat besar. Perang Dunia 1 terjadi pada tahun 1914 dan selesai pada tahun 1918. Sebenarnya, ada perang dunia sebelum Perang Dunia 1, seperti Perang Napoleon dan Perang Krimea.

Mungkin Anda tetap mengatakan Perang Dunia 1 masih tetap terbesar hingga layak mendapatkan status “pertama”. Jika itu alasannya, Perang Napoleon dan Perang Tujuh Tahun (Seven Years War) terjadi dalam skala lebih besar. Jika alasannya jumlah korban jiwa, ada beberapa konflik perang Asia dengan jumlah korban jiwa jauh lebih besar dari perang 1914-1918.

Jika perang dunia diartikan sebagai perang terbesar, moniker Perang Dunia Pertama seharus jatuh kepada Perang Tujuh Tahun. Perang itu melibatkan tentara global yang berlangsung dari tahun 1756 hingga 1763 antara kekuatan-kekuatan besar di dunia. Perang Tujuh Tahun melibatkan semua negara besar dari semua benua, sedangkan Perang Dunia 1 sebagian besar hanya orang-orang Eropa yang terlibat langsung saling berperang satu sama lain.

Hal ini bukan berarti Anda harus mengakui Perang Tujuh Tahun adalah perang dunia pertama kali, melainkan sebagai gambaran bahwa sejarah bukanlah ilmu pasti. Konsep, klasifikasi, dan gagasan sering muncul secara organik tanpa struktur yang pasti. Selain itu, ada kepentingan lain hingga Perang Dunia 1 & 2 lebih popluer. Sebenarnya pada tahun 1914 banyak orang mengenal Perang Dunia 1 terjadi di Perang Indianapolis , tetapi tahun 1920 muncul referensi baru. Perang Dunia 1 sebagai perang dunia pertama bukan berdasarkan nilai sejarah yang dapat diandalkan, itu hanya cara mudah untuk membagi dua perang yang saling terkait.

2. Jenghis Khan adalah orang Cina

Kesalahpahaman terjadi ketika Mongol dianggap bagian dari bangsa Tiongkok. Memang benar Republik Mongolia milik Tiongkok selama dinasti Qing (1644-1912). Saat ini Cina masih berkuasa atas sebagian Mongolia yang bersejarah, provinsi yang dikenal sebagai Mongolia Dalam.

Bangsa Mongol pada abad ke-12 sama sekali bukan bagian dari bangsa Cina. Jenghis Khan yang lahir di Utara Ulan Bataar tahun 1162, ia tidak akan pernah berpikir dirinya sebagai orang Cina. Jika ada orang yang mencoba mengatakan hal itu padanya semasa hidup, kemungkinan besar kepalanya akan dipenggal.

Jika hidup kembali dalam sejarah, orang Cina sangat membenci bangsa Mongol sebagai penjajah asing. Kublai Khan, cucu dari Jenghis Khan, menaklukkan seluruh Cina dan mendirikan dinasti Yuan. Dia kemudian secara anumerta menyatakan kakeknya sebagai pendiri Dinasti.

1. 300 tentara Sparta melawan 20.000 pasukan Persia

Kebesaran 300 prajurit Sparta banyak diagungkan oleh cerita film, buku, hingga videogame. Namun, sejarah bisa dengan mudah diubah dalam skenario untuk hiburan agar lebih terlihat dramatis. Dalam pertempuran Thermopylae, 300 prajurit Sparta termasuk raja Leonidas berperang hingga mati melawan sekitar 20.000 pasukan Persia demi mempertahankan kedaulatan Yunani.

Dengan jumlah pasukan yang tidak seimbang, raja Leonidas beserta seluruh prajurit Sparta yang bertempur tidak ada satupun yang selamat. Perang Thermopylae terjadi pada tahun 480 SM, pasukan Persia mencoba menuju Attica (wilayah kekuasaan Athena), mereka harus melewati Thermopylae. Leonidas menghadang pasukan Persia hanya dengan 300 pasukan, tetapi jumlah sebenarnya lebih banyak.

Leonidas dibantu 6.000 hingga 7.000 pejuang Yunani dalam upaya mencegah Persia melewati Thermopylae. Pasukan Sparta berjuang sampai akhir, sedangkan pejuang Yunani yang tersisa semuanya melarikan diri karena mereka menyadari tidak mungkin melawan Persia. 300 Sparta yang berjuang sampai titik darah penghabisan menjadi pahlawan, itulah mengapa hanya mereka yang dipopulerkan.

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

kategori: Informasi

Artikel Terbaru

10 Kesalahpahaman Sejarah Yang Mungkin Anda Percaya