Gletser Mencair, Mayat Pendaki Everest Muncul


Sekoci
Longsor salju di base camp Everest pada tahun 2009. Foto oleh Eric Simonson

Everest telah lama dikenal sebagai gunung tertinggi di dunia (8.850 m), dengan menaklukannya berarti menaklukan dunia. Banyak orang dari seluruh penjuru dunia mencoba menjamah puncaknya, tidak sedikit tewas dalam perjalanan. Hampir 300 pendaki Everest tewas saat menuju puncak sejak upaya pendakian pertama kali dan 200 mayat diperkirakan masih terkubur di salju dan es.

Pendakian ke puncak Everest harus melewati rintangan kematian, hipotermia, psikosis, longsoran salju, batu yang jatuh, dan terjatuh. Banyak pendaki mengaku bagian tersulit sebenarnya bukan proses pendakian yang berat dan berbahaya, tetapi kenyataannya mereka harus melewati 200 mayat yang membeku di berbagai lokasi gunung, seketika dapat menyiutkan nyali akan bernasib sama.

Sekarang, berkat perubahan iklim hingga melelehkan lapisan es di gunung, beberapa mayat terlihat muncul dari gundukan es. “Karena pemanasan global, lapisan es dan gletser meleleh dengan cepat dan mayat-mayat yang tetap terkubur selama bertahun-tahun kini menjadi terbuka,” kata Ang Tshering Sherpa, mantan presiden Asosiasi Pendaki Gunung Nepal, mengatakan kepada BBC News. “Kami telah menurunkan mayat beberapa pendaki yang meninggal dalam beberapa tahun terakhir, tetapi yang masih terkubur sekarang keluar.”

Banyaknya mayat pendaki yang dibiarkan tetap berada di gunung menimbang beberapa hal, biaya yang mahal, pesan para pendaki kepada keluarga sebelum berangkat, dan masalah politik – Gunung Everest berada di wilayah Nepal dan Tibet, provinsi Cina yang mengklaim sebagai negara merdeka.

Pendakian pertama yang tercatat adalah pada tahun 1953 oleh Edmund Hillary dan Tenzing Norgay Sherpa, dan sejak itu lebih dari 4.800 pendaki telah berhasil mendaki gunung. Tetapi Everst saat ini telah banyak berubah. Pada 2015, gempa bumi menghancurkan Hillary Step yang terkenal, salah satu jalur lintasan tersulit bagi pendaki sebelum mencapai puncak.

Sebuah penelitian pada tahun yang sama mengungkapkan gletser Everest kehilangan es pada tingkat yang sedemikian rupa sehingga antara 70 dan 99 persen gletser bisa hilang pada akhir abad ini.

Pada 2017, anggota badan dari mayat pendaki yang beku mulai muncul di atas tanah, dan sejak itu lebih banyak mayat ditemukan saat es terus mencair. Bisa memakan biaya hingga $ 70.000 untuk membawa mayat turun gunung, dan banyak pendaki berpesan jika mereka mati mereka lebih suka dibiarkan di sana.

Ini mungkin terdengar horor, tetapi jasad mereka dapat menjadi landmark bagi pendaki lain, membantu mereka mengarahkan diri, atau membantu upaya penyelamatan menemukan mereka, tetap menjadi bagian dari kelompok pendakian, bahkan ketika meninggal. Suatu kehormatan untuk membiarkan di tempat mereka berada, tetapi dengan pencairan es yang berpotensi memuntahkan 200 mayat, badan pemerintahan Everest mungkin tidak punya pilihan untuk membersihkan

Berikut foto beberapa mayat para pendaki yang dibiarkan dan ditandai, dan digunakan sebagai landmark:

Sekoci

Sergapan kebekuan instan adalah teror kematian di dekat puncak.

 

Sekoci

Tidur siang kerap menjadi kematian hingga tidak pernah bangun.

 

Sekoci
Mayat Marko Lihteneker di gunung Everst

Pendaki Slovenia, Marko Lihteneker, meninggal karena terjatuh dan kelelahan saat turun pada tahun 2005. Dia terakhir terlihat hidup beberapa meter dari puncak dengan masalah pada masker oksigennya.

 

Sekoci

Banyak para pendaki mengatakan bahwa bagian tersulit dari pendakian Everst adalah mereka harus melewati semua mayat.

 

Sekoci
Green Boots

Jasad ini dinamai “Green Boots“, menjadi mayat paling terkenal di Everest. Nama aslinya adalah Tsewang Paljor. Dia meninggal saat bencana Gunung Everest 1996. Saat turun dari puncak, dia terjebak dalam badai salju, dan meninggal karena paparan.

 

Sekoci
George Mallory

Ini adalah tubuh George Mallory (penyebab kematian: cedera jatuh di bagian kepala), salah satu pendaki pertama yang mencoba mendaki Everest pada tahun 1924. Tubuh Mallory tidak ditemukan, tahun 1999 berhasil diidentifikasi. Dia mungkin orang pertama yang mencapai puncak gunung, tetapi apakah dia mencapai puncak atau tidak, masih menjadi masalah yang banyak diperdebatkan dan diteliti sampai hari ini.

 

Dua pendaki menemukan seorang wanita sendirian dan sekarat berteriak, “tolong jangan tinggalkan aku,” tetapi mereka terpaksa untuk melanjutkan perjalanan dan membiarkannya meninggal karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk membantunya dan tidak mungkin tetap tinggal dengan resiko mempertaruhkan nyawa mereka sendiri.

 

Sekoci
Hannelore Schmatz

Ini adalah Hannelore Schmatz, seorang pendaki Jerman yang meninggal karena kedinginan dan kelelahan pada tahun 1979. Diyakini dia berhenti untuk beristirahat dan bersandar di tas punggungnya, dengan posisi mayat yang tidak biasa. Sudah umum kematian di Everest terjadi selama istirahat atau tidur siang (orang itu tertidur dan tidak pernah bangun). Schmatz adalah wanita pertama yang meninggal di Gunung Everest.

Seorang warga Sherpa dan inspektur polisi Nepal berusaha memulihkan tubuhnya pada tahun 1984, tetapi keduanya malah menjadi korban keganasan Everest (meninggal). Seolah-olah Schmatz tidak ingin diselamatkan, dan sejak upaya itu, tidak ada yang berani mencoba untuk memulihkan tubuhnya.

 

Sekoci
David Sharp

Ia adalah David Sharp, pendaki Inggris yang berhenti untuk beristirahat di dekat “Green Boots” pada tahun 2006. Dia membeku di tempat dan tidak dapat melanjutkan pendakiannya. Sekitar 30 pendaki melewatinya dalam perjalanan menuju puncak dan memperhatikan bahwa dia masih hidup. Beberapa orang bahkan sempat berbicara dengannya. Namun, di Everest, upaya untuk membantu kemungkinan dapat mengakibatkan kematian Anda sendiri.

 

Sekoci
Shriya Shah-Klorfine

Ini adalah tubuh Shriya Shah-Klorfine, ia mencapai puncak pada 2012, kehabisan oksigen dan meninggal karena kelelahan. Dia terlalu lama menghabiskan 25 menit merayakan keberhasilannya mencapai puncak Everest sebelum mulai turun. Tubuhnya berada di 300 m di bawah puncak, terbungkus bendera Kanada.

 

150 mayat & 100.000 pon sampah tersisa di lereng Gunung Everest yang dingin. Karena perubahan iklim, gletser di gunung mencair, mayat dan sampah muncul ke permukaan. Namgyal Sherpa dan Chakra Karki membentuk ekspedisi untuk membersihkan di Zona Kematian Everest, bukan hanya membersihkan sampah yang ditinggalkan para pendaki, mayat yang telah lama tertimbun es juga ikut dibersihkan.

 

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
1
confused
fail fail
1
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
2
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

kategori: Informasi

Artikel Terbaru

Gletser Mencair, Mayat Pendaki Everest Muncul