Apa Itu Bias Media?


Sumber-sumber media sangat berpangaruh di mana setiap informasi menjadi kebutuhan utama setiap hari. Bias media menjadi faktor penyebab konservatif melalui konten berita dan afiliasi politik. Mereka menggunakan kata-kata mengandung doktrin kuat, mencoba mempengaruhi audiens dengan menggunakan daya tarik emosi atau stereotip, menerbitkan laporan yang menyesatkan dan menghilangkan fakta informasi yang dapat merusak doktrinitas.

Iklim politik mendorong bias media semakin merajalela, digunakan sebagai alat kampanye. Ekosistem informasi menjadi tercemar oleh pengaruh distorsi jurnalistik. Sangat penting bagi kelangsungan demokrasi Indonesia bahwa berita televisi dan media cetak/online untuk berlaku adil dengan tidak memihak kepentingan.

Istilah “bias media” menyiratkan penyimpangan yang bertentangan dengan kaidah standar jurnalisme. Keterlibatan politik secara langsung  hingga mengabaikan nilai-nilai netralitas media berdampak ketidakmampuan jurnalis untuk melaporkan setiap berita dan fakta secara utuh, dan fakta-fakta tertentu harus disesuaikan dengan narasi yang koheren (koordinasi yang sudah disepakati dengan afiliasi politik).

Tugas seorang pewarta adalah menyajikan berita yang berimbang. Saat Anda membaca, mendengarkan, menonton berita, Anda mungkin pernah melihat warta yang dianggap bias. Untuk mengetahui apakah benar-benar bias, Anda harus menilai bukan hanya berdasarkan asumsi selera. Sebagai pembaca cerdas, menyaring sumber informasi sangatlah penting, mengidentifikasi elemen-elemen konten berita yang harus dihindari.

Konten berita yang tidak layak dijadikan sumber informasi mencakup beberapa elemen, seperti buruknya kualitas jurnalisme, provokatif, sensasional, keberpihakan, keuntungan, kekuasaan atau pengaruh politik dan propaganda. Berikut beberapa bentuk mengapa sebuah media menjadi bias (menyimpang), dikutip dari penelitian Brent Baker, Wakil Presiden untuk Penelitian dan Publikasi di Media Research Center.

Jenis-jenis media bias:

Bias karena kelalaian – Tidak mencantumkan fakta dari sisi berbeda, mengabaikan fakta yang cenderung membantah klaim kepentingan keberpihakan, dan selalu mendukung setiap klaim yang menguntungkan afiliasi. Bias ini terjadi ketika outlet berita melaporkan sebuah peristiwa hanya dari satu sudut pandang perspektif. Untuk mengetahui jenis bias ini, Anda harus melihat apakah keberpihakan media terhubung dengan kepentingan politik, apakah perspektif konservatif dimasukkan dalam setiap berita tentang peristiwa atau kebijakan tertentu.

Bias oleh pemilihan sumber – Hanya mengambil sumber yang mendukung atau satu pandangan. Bias ini juga dapat dilihat ketika seorang reporter menggunakan frasa seperti “ahli percaya,” “pengamat mengatakan,” atau “kebanyakan orang percaya.” Sumber ahli dalam konten berita seperti saksi ahli dalam persidangan. Ketika saksi ahli ditampilkan dalam persidangan oleh penuntut atau pembela, ia pastinya akan bersaksi membela siapa yang memanggilnya. Dan ketika sebuah berita hanya menyajikan satu sisi, jelas sisi yang didukung oleh reporter. Tidak semua berita yang menyertakan ahli menjadi bias, tetapi pastikan apakah sumber ahli semuanya menuju ke arah corong yang seimbang, pastikan setiap keterangan dalam jumlah yang sama (objektif).

Bias oleh pemilihan berita – Polanya menyoroti berita yang mendukung agenda kepentingan, dan mengabaikan berita dari pandangan yang berlawanan. Pewarta mengabarkan berita yang dirilis oleh kelompok terafiliasi dengannya tetapi mengabaikan berita dengan topik yang sama atau serupa yang dirilis oleh kelompok lawan. Kejadian besar bernilai positif yang dilakukan kelompok lawan tidak akan dijadikan berita, sebaliknya hal sepele dari kelompoknya akan menjadi berita besar. Secara sederhana, bias ini dapat dilihat setiap berita yang ditampilkan sebagian besar hanya dari satu sisi pendukung, sebagai doktrin mempengaruhi audiens untuk merapat ke kubu terafiliasi.

Bias oleh penempatan – Penempatan berita adalah ukuran seberapa penting editor mempertimbangkan cerita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pembaca surat kabar hanya membaca berita utama. Bias ini terjadi ketika media online atau cetak menempatkan pola berita dengan mengecilkan konten informasi dari pihak lawan, sebaliknya memberikan ruang besar untuk berita dari kubu afiliasi. Untuk menemukan contoh bias ini, amati di mana outlet berita menempatkan berita politik. Dalam berita yang adil dan berimbang, reporter akan mengutip atau merangkum pandangan dari kedua kubu dengan porsi yang sama.

Bias dengan pelabelan – Bias ini datang dalam dua bentuk.  Yang pertama adalah memberikan penandaan politisi dan kelompok lawan dengan label negatif sambil membiarkan kelompok afiliasi tanpa label atau memberikan label positif. Jenis kedua dari bias ini terjadi ketika seorang reporter tidak memberikan informasi sebenarnya dari sumber, seperti mencantumkan keterangan “ahli” atau “pakar”, padahal sumber bukan ahli hanya suporter atau tim dari kelompok terafiliasi. Dengan melakukan hal itu, reporter memberikan kesan otoritas terpercaya yang tidak pantas diperoleh sumbernya. Reporter juga dapat menampilkan sumber yang tidak kompeten, biasanya untuk mengecoh audiens.

Bias demi perputaran – Bias ini terjadi ketika cerita hanya memiliki satu interpretasi dari suatu peristiwa atau kebijakan, dengan mengesampingkan yang lain. Putaran melibatkan irama dengan komentar subjektif reporter tentang fakta objektif, membuat perspektif ideologi satu sisi hingga terlihat lebih baik dari yang lain. Untuk memeriksa bias ini, perhatikan interpretasi mana dari suatu peristiwa atau kebijakan, pemberian kesan atau pandangan teoritis kepada kedua pihak. Jika sebuah berita mencerminkan satu sisi dengan mengesampingkan sisi yang lain, maka Anda telah menemukan bias ini. Bias ini dilakukan dengan memutar berita hanya tentang kelompok terafiliasi secara berulang-ulang, seperti pola kampanye.

Semua bias di atas adalah bias politik yang dimainkan media berita. Sebenarnya bias media mencakup secara luas demi kepentingan berita, seperti clickbait, sensasionalisme, iklan, dan berita palsu. Setiap informasi setidaknya harus melalui proses verifikasi sebagai jaminan bahwa informasi yang disampaikan adalah akurat. Namun, proses verifikasi tidaklah mudah tanpa pengetahuan yang memadai, verifikasi berita membutuhkan ketelitian dan pengetahuan dalam menelusuri sumber berita.

Judul berita clickbait, profesional jurnalisme seperti kehilangan arah

Sejatinya bias adalah sifat manusia, masuk ke dalam setiap hal yang diyakini secara kuat. Bahkan pemirsa sendiri bisa menjadi bias ketika menerima berita akurat, akan ditolak ketika tidak sesuai dengan selera hatinya. Di balik kepercayaan politik Anda, sebuah berita yang Anda bagikan pastinya harus mendukung ideologi. Beberapa outlet berita mungkin memiliki agenda tersembunyi dalam menyampaikan berita, tetapi hal itu tidak berbeda dengan agenda tersembunyi Anda ketika membagikan berita subjektif.

 

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

kategori: Informasi

Artikel Terbaru

Apa Itu Bias Media?