Teknik Propaganda dan Manipulasi Media


Hoax

“Siapa pun yang mengendalikan media akan menguasai pikiran masyarakat.” Itulah kalimat yang sering kita dengar bagaimana power media yang sangat besar mampu mengubah dunia. Saat ini manipulasi media tidak lepas dari peran propaganda, biasanya dikendalikan oleh elit-elit politik.

Propaganda media adalah serangkaian teknik manipulasi dimana partisan menciptakan citra atau argumen yang mendukung ideologi mereka. Teknik ini umumnya terkait dengan kesalahan logika, manipulasi psikologis, penipuan langsung atau tidak langsung, teknik retoris dan propaganda, dan sering melibatkan eksploitasi informasi atau sudut pandang pribadi, dengan mendorong orang lain atau kelompok untuk tidak fokus ke suatu hal dengan mengalihkan perhatian ke hal lain.

Ruang media memiliki banyak sarana untuk menyebarkan propaganda, seperti blog, media berita, dan jejaring sosial Facebook, Twitter, atau WhatsApp. Manipulasi media menciptakan propaganda untuk mengganggu pikiran, dengan asumsi bahwa publik sangat rentan terpengaruh.

Aktivitasnya menciptakan doktrin dengan penekanan secara tersirat maupun tersurat, terutama mendukung atau menentang dengan satu sisi dari kasus yang sedang terjadi. Bala tentara cyber dikerahkan secara masif dan terorganisir, bergerak mempengaruhi publik dan mengubah pandangan ke arah yang sudah disediakan.

Teknik ini biasanya dimulai oleh individu yang berpengaruh (artis media sosial), tetapi bergerak secara kolektif melalui gerakan sosial yang melibatkan pengikutnya dengan jumlah besar. Individu ini menciptakan manipulasi opini publik, pengikutnya tanpa berpikir panjang langsung mengamini dan menyebarkannya.

Tidak heran jika saat ini pengguna media sosial begitu mudahnya dibenturkan, seolah mereka adalah prajurit yang tengah berperang, diberikan pilihan ‘membunuh’ atau ‘dibunuh’ – Karakter lawan harus dihancurkan dengan berbagai cara, tanpa peduli moralitas.

Selain itu, outlet berita online mainstream ikut dilibatkan sebagai senjata pamungkas, menggunakan teknik framing – membingkai sebuah peristiwa dengan cara pandang yang digunakan wartawan atau media massa ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Metode framing disajikan sesuai realitas dimana kebenarannya tidak bisa dipungkiri, tetapi dibelokkan secara halus, dengan memberikan penonjolan pada aspek tertentu dan menyembunyikan beberapa fakta yang bisa merugikan.

Manipulasi media terkait erat dengan propaganda yang berorientasi ideologi dalam mempertahankan kontrol atas populasi mereka. Propaganda modern mengadopsi metode-metode yang semakin canggih untuk mempengaruhi opini publik dan membentuk narasi-narasi politik.

Penerapannya dengan cara membatasi ruang untuk media independen, merasuki internet dan media sosial, mensponsori aktor-aktor yang bekerja memanipulasi opini publik, mengerahkan pasukan cyber, membentuk tim untuk menyerang lawan dan counter attacks saat mendapatkan serangan, dan menerapkan sistem otokrat untuk mengendalikan ruang berita.

Bergerak secara profesional dengan sumber daya besar merasuki ruang berita dan opini publik dengan tujuan mendorong agenda politik. Hal ini berdampak pada hubungan masyarakat, setiap orang akan didorong untuk terlibat dalam perang opini, dengan mengusung kebencian dan permusuhan.

Sejatinya kedamaian bukan tidak adanya perang, tetapi tidak adanya kebencian. Kedua belah pihak yang berseteru saling menciptakan propaganda dan manipulasi opini publik sebagai senjata, membungkusnya secara apik dengan sampul retorika. Manipulasi media merupakan teknik frasa yang menyamar sebagai proyeksi kebenaran untuk menyembunyikan makna dan maksud yang sebenarnya.

Taktik ‘Smear’ sering digunakan untuk mendiskreditkan, menodai atau menghancurkan reputasi lawan. Ini adalah teknik kuno yang masih digunakan hingga saat ini karena dianggap sangat efektif, melibatkan kebohongan atau distorsi kebenaran, dengan meningkatkan popularitas di jejaring sosial dan mesin pencarian internet seperti Google.

Reputasi lawan dihancurkan dengan cara “viralkan” dan “bagikan” hingga menjadi berita utama. Ini adalah manuver cukup mudah bagi mereka dengan dukungan sumber daya besar, menggerakan aktor-aktor, menciptakan website, dan mengendalikan media massa, yang akhirnya berada di puncak teratas ruang berita.

Dalam sejarah propaganda tidak lepas dari peran berita palsu dengan tujuan untuk menipu dan mengakali. Ini adalah bentuk penyesatan publik, aspek umum dari hoax adalah semua itu dimaksudkan untuk berbohong dan menipu. Agar bisa menjadi tipuan, kebohongan harus memiliki sesuatu yang lebih banyak untuk ditawarkan. Itu harus berlebihan, dramatis dan yang terpenting harus cerdik agar bisa dipercaya.

Sejatinya penggunaan kata “hoax” tidak bisa digunakan untuk semua jenis kebohongan atau tipuan, kata kunci dalam definisinya adalah “publik”. Tidak ada yang namanya tipuan pribadi, pastinya tipuan publik. Sebuah kebohongan naik ke tingkat tipuan dengan cara mendapatkan ketenaran publik – menjadi viral dan dibagikan secara luas hingga banyak dipercaya.

Propaganda adalah bentuk komunikasi dengan target untuk mempengaruhi sikap publik terhadap beberapa hal atau posisi dengan hanya menyajikan dari satu sisi argumen. Propaganda umumnya diciptakan oleh pemerintah, tetapi kekuatan besar oposisi tidak menutup kemungkinan ikut menciptakan propaganda sebagai perlawanan, biasanya bertujuan membenamkan elektabilitas pemerintah.

Dalam arti yang paling mendasar, propaganda menyajikan informasi untuk mempengaruhi publik. Propaganda dalam arti aslinya adalah netral, dan bisa merujuk pada penggunaan yang pada umumnya tidak berbahaya, seperti rekomendasi kesehatan masyarakat, mendorong warga untuk berpartisipasi dalam sensus atau pemilihan, atau pesan yang mendorong masyarakat untuk melaporkan kejahatan ke polisi.

Seiring waktu makna propaganda keluar dari jalur, tercemar limbah politik hingga bermakna negatif. Pada abad ke-20, istilah propaganda dikaitkan dengan pendekatan manipulatif, tetapi propaganda secara historis adalah istilah netral untuk penelitian deskriptif.

Secara bahasa arti propaganda adalah menyebarkan atau menyebarluaskan, awalnya bermakna positif. Kata “propaganda” aslinya berasal dari badan administrasi baru Gereja Katolik (jemaat) yang dibentuk pada tahun 1622, yang disebut  Congregatio de Propaganda Fide (Kongres Untuk Menyebarkan Iman). Kegiatannya menyebarkan iman Katolik ke negara-negara non-Katolik.

Sejak tahun 1790-an, istilah itu mulai digunakan untuk merujuk pada propaganda dalam kegiatan-kegiatan sekuler.  Istilah ini mulai mendapat konotasi yang buruk atau negatif pada pertengahan abad ke-19, ketika digunakan dalam lingkup politik. Propaganda ini digunakan dalam skala besar dan terorganisir pertama kali disebabkan oleh pecahnya Perang Dunia I.

Kekalahan Jerman atas Inggris di Perang Dunia Pertama tidak lepas dari peran propaganda yang dilancarkan Inggris, meruntuhkan semangat pasukan Jerman. Dalam Mein Kampf (buku yang dianggap paling berbahaya di dunia), Hitler menjelaskan teorinya tentang propaganda: “Hitler … tidak membatasi apa yang bisa dilakukan oleh propaganda; orang akan percaya apa pun, asalkan mereka diberitahu itu sangat sering dan cukup tegas, dan oposisi akan dibungkam dan tertahan dalam kesedihan.”

Mengidentifikasi propaganda tidak mudah dan selalu terkendala masalah. Kesulitan utamanya adalah membedakan propaganda dan jenis persuasi lainnya, terutama menghindari pendekatan yang bias. Propaganda berusaha mengubah cara pandang orang memahami suatu masalah atau situasi untuk tujuan mengubah tindakan dan harapan mereka dengan cara yang diinginkan oleh kelompok kepentingan.

Manipulasi media adalah senjata propaganda modern dalam mempengaruhi publik, umumnya digunakan dalam ranah politik untuk memikat pemilih, menggunakan retorika, manipulasi opini publik, berita palsu (hoax), iklan, aktivisme, perang psikologis, public relations (PR), atau framing media massa.

Aktivitasnya menggunakan teknik astroturfing (strategi kampanye atau promosi terselubung), clickbait (digunakan oleh outlet berita), gangguan (pengalihan isu), troll (mengalihkan perhatian hingga keluar dari konteks pembahasan), ad populum (menyesatkan pikiran), manipulasi opini publik (diciptakan oleh aktor-aktor politik), dan teknik lainnya yang digerakan secara terorganisir.

Dalam hal apapun manipulasi media adalah teknik kotor menghalalkan segala cara dalam meraih ambisi kekuasaan ataupun uang. Masyarakat dijadikan target sekaligus senjata digiring untuk saling membunuh (cyber war). Semua pihak tidak menutup kemungkinan menggunakan teknik ini. Alih-alih mewujudkan masyarakat yang aman dan tentram, mereka secara terbuka menciptakan medan perang dengan menghembuskan aura kebencian.

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kategori: Informasi

Artikel Terbaru

Teknik Propaganda dan Manipulasi Media

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format