Hoax Dipengaruhi Cara Kerja Otak!


Apakah Anda berpikir bahwa orang-orang yang masuk perangkap hoax memiliki kecerdasan yang rendah alias bodoh? Mulai saat ini Anda harus mengubah penilaian Anda karena itu tidak tepat. Sejatinya hoax dan berita palsu tidak ada hubungannya dengan kecerdasan, semua itu terkait dengan cara kerja otak kita.

Ahli ilmu neural (neurosains), Albert Maoukheiber, menjelaskan mengapa otak kita cenderung dapat terpengaruh, ia memilah-milah informasi yang diterimanya berdasarkan heuristik, yaitu jalan pintas untuk perkiraan cara memecahkan masalah. Terkadang mekanisme penyaringan ini salah dan terjadi kesalahan.

Sebuah informasi dan berita yang kita terima akan menjadi salah atau benar tergantung bagaimana otak menerimanya. Ketika informasi bertentangan dengan apa yang ada di dalam otak, kita akan lebih waspada terhadap setiap fakta yang memperkuatnya.

Singkatnya, otak akan menyortir setiap fakta hingga menjadi kebenaran sesuai dengan selera otak. Ketika informasi hadir, kita akan menilainya secara spontan berdasarkan pendapat, kita tidak bisa memperlakukan informasi secara objektif sebelum memverifikasinya secara mendalam.

Mengapa itu terjadi? Karena untuk menghindari disonansi kognitif yang tidak menyenangkan, ketegangan internal yang terjadi ketika ada kontradiksi antara pemikiran yang kita miliki dan informasi yang berasal dari luar pikiran. Oleh karena itu otak kita akan mengatur ulang realitas untuk mempertahankan koherensi batin yang diyakini.

Posisi berita palsu berada di dalam ketidaktahuan kita, sejatinya ketidaktahuan bukanlah kebodohan, karena tidak ada manusia yang tahu segalanya. Ketika serangkaian filter otak terlibat dalam penafsiran informasi, kita akan berpikir seakan mengetahui segalanya, apalagi itu terkait dengan keyakinan yang kuat pada orientasi politik dan golongan.

Itu artinya jika seseorang terjerat berita palsu bukan karena ia bodoh, tetapi fungsi otak yang cenderung memilih jalan pintas untuk lebih cepat menilainya. Hal itu disebabkan oleh banyak faktor, umumnya terkait dengan pertahanan keyakinan yang sangat kuat hingga tidak peduli dengan objektivitas kebenaran.

Semakin emosional kita terlibat dengan keyakinan, maka semakin besar kemungkinan akan mengabaikan fakta atau argumen apa pun yang dapat melemahkan keyakinan. Sejatinya kebenaran tidak bisa menyenangkan semua orang, selalu ada pihak yang terganggu dan mencoba menggugatnya jika kebenaran yang hadir tidak sesuai dengan pendapatnya.

Hal itu akan memicu kompetisi antagonis untuk mempertahankan pendapatnya. Yang perlu dipahami adalah, semua itu terkait dengan peran psikologis dimana akal dan hati berusaha saling mengalahkan. Konsep pertahanan persepsi akan mendorong otak untuk melakukan segala cara dalam mempertahankan kepercayaannya pada suatu hal.

Makna kebenaran bukan tentang menemukan fakta-fakta yang berasal dari dalam titik pribadi, kebenaran ditemukan dalam proses pencarian dari luar pikiran. Setiap orang tidak akan dapat menemukan kebenaran jika hanya mengandalkan apa yang ada di dalam pikirannya, menentukan kebenaran harus mempelajari setiap bukti dan fakta dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

Disonansi kognitif akan mendorong pertahanan otak dari informasi faktual yang bertentangan dengan keyakinannya. Ketika itu terjadi, setiap data dan fakta ilmiah akan dianggap angin lalu, asumsi akan menjadi senjata utama untuk membantahnya. Seolah-olah ia melemparkan diri kembali ke zaman purba dimana setiap orang tidak pernah mempertanyakan otoritas dan ilmu pengetahuan.

Hoax
(Gambar: Pierre Beteille)

Jadi, hal pertama yang harus dilakukan ketika menerima informasi adalah berpikir, diawali dengan menggunakan logika, tetapi itu bukan mutlak penentu kebenaran. Sejatinya logika bukanlah penentu kebenaran, itu hanya pintu gerbang bagi pikiran untuk masuk mencari kebenaran.

Masalah berita palsu di era modern saat ini pada umumnya akan menyalahkan internet dan platform media sosial seperti Facebook. Mereka secara bebas membuka ruang bagi setiap penggunanya untuk memposting sesuka hati, yang kemudian menyebar seperti api tertiup angin melalui tombol “Suka” dan “Bagikan”.

Namun, sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Human Behavior menunjukkan bahwa keterbatasan otak manusia juga harus disalahkan. Ketika seseorang kelebihan beban dalam menerima informasi baru, mereka cenderung bergantung pada mekanisme penanganan yang kurang ideal dalam membedakan antara yang benar dan salah, dan akhirnya mengistimewakan popularitas, menurut hasil penelitian.

Ini merupakan kombinasi yang mematikan dari saturasi data dan pemikiran pendek, yang dapat memungkinkan berita palsu menyebar dengan sangat efektif. Saat ini penyebab utama mengapa seseorang dapat dengan mudah terpapar berita palsu karena memisahkan diri dari interaksi kelompok lain, cenderung hanya bergaul dengan kelompok yang sejalan dengan pemikirannya.

Orang-orang seperti ini akan menentukan kebenaran sebuah informasi hanya berdasarkan asumsi dan argumen yang berasal dari kelompoknya, bahkan opini publik yang berasal dari kelompoknya dianggap mutlak sebuah kebenaran. Fenomena ini sangat berbahaya bisa memunculkan epidemi berita palsu, kebenaran ditentukan atas dasar ketidaksukaan atau/dan fanatisme.

Konsep kebenaran tidak lepas dari nilai-nilai objektivitas, kita harus terhubung dengan data dan fakta yang berasal dari sumber-sumber yang bertentangan. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki jiwa pemberani, mereka yang lemah akan memilih tetap berada dalam zona nyaman dibuai kebenaran ilusi.

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!


Like it? Share with your friends!

0
40 shares

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

Kategori: Informasi

Artikel Terbaru

Hoax Dipengaruhi Cara Kerja Otak!

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format