Iklim Politik Mendorong Troll dan Hoax Kian Meningkat!


Apakah saat ini Indonesia darurat hoax? Pertanyaan itu salah satu yang paling banyak diajukan terkait dengan semakin panasnya iklim politik saat ini. Sejatinya hoax sudah ada sejak beberapa abad lalu, kian berkembang pesat seiring dengan berkembangnya teknologi internet dan media sosial.

Hoax akan mendapat panggung megah dalam setiap hajatan politik. Gerakan anti-pemerintah digambarkan sebagai pemberontakan dan revolusi, sedangkan pasukan pro-pemerintah akan bergerak masif mengamankan kekuasaannya. Mereka bertemu di media sosial sebagai musuh yang selalu berperang membela idola kandidatnya masing-masing, seperti Hooliganisme yang selalu menciptakan kegaduhan.

Hari ini platform media sosial lebih berpotensi untuk dijadikan sarana memanipulasi opini publik dan mempengaruhi masyarakat dalam ajang pemilihan pemimpin. Troll dan hoax media sosial dalam iklim politik mulai menjadi perhatian mata dunia saat pemilihan presiden AS 2016, Donald Trump terpilih menjadi presiden AS efek dari troll media sosial.

“Fakta bahwa saya memiliki kekuatan seperti itu dalam hal angka di Facebook, Twitter, Instagram, dan lainnya,” kata Trump kepada CBS ’60 Minutes. Selain itu, ada dugaan kemenangan Trump tidak lepas dari campur tangan pihak Rusia saat pemilihan. Kongres AS meminta Facebook dan Twitter untuk mengungkapkan rincian tentang bagaimana Rusia bisa mempengaruhi pemilih yang menguntungkan Trump.

Terlepas dari kasus itu, strategi politik di media sosial, mulai dari penyebaran disinformasi hingga serangan terorganisir terhadap lawan, sebagian besar serangan tidak diketahui oleh publik, tidak terlihat invasif. Masalah itu harus dihadapi oleh masyarakat setiap negara di seluruh dunia, sering kali tidak pernah disadari.

Aktor politik menggunakan media sosial untuk melancarkan aksinya dengan memanipulasi opini publik di seluruh dunia, dengan mengerahkan pasukan cyber yang dibayar untuk melancarkan serangan kepada lawan politik. Melalui kombinasi pasukan cyber, kader partai, pendanaan publik, kontrak pribadi dan relawan, dan mengerahkan akun bots palsu menciptakan ribuan post spam setiap harinya.

Akun bots menghasilkan dukungan ilusi kepada kandidat calon, mendorong dukungan aktual dengan memicu opini publik. Hukum tidak resmi di media sosial berlaku konsensus dimana siapa saja yang memiliki sumber daya besar akan dengan mudah mengendalikan massa. AS tercatat memiliki jumlah terbesar bots yang memiliki peran beragam mencoba membentuk manipulasi opini publik secara online, melibatkan pemerintah, partai politik, dan perorangan serta organisasi.

Iklim politik sangat mempengaruhi berita palsu yang beredar di jejaring sosial, terutama akan kian meningkat mendekati hari-hari sebelum pemilihan, berita palsu dan hoax dibagikan secara luas oleh pengguna, tidak terkecuali jurnalisme profesional. Setiap kandidat akan saling mengerahkan kekuatannya di media sosial, biasanya kandidat yang berada di lingkup kekuasaan berpotensi lebih superior karena mereka memiliki kuasa untuk mengendalikan.

Alih-alih mempromosikan calon kandidat, aktor politik malah memilih untuk menciptakan mesin pembunuh dimana media sosial dijadikan medan perang. Pemilih tak lagi disajikan informasi tentang kandidat secara elegan melalui kebijakan komunikasi politik santun. Manipulasi opini publik dijadikan senjata mematikan dalam mempengaruhi pemilih, berita palsu seakan dianggap lumrah untuk menjatuhkan lawan atau mendongkrak elektabilitas kandidat yang diusung.

Amerika Serikat

Oxford Internet Institute (OII) dalam laporannya mengungkapkan bahwa kontes pemilihan presiden AS 2016 antara Donald Trump vs Hillary Clinton, menjadi titik balik dimana manipulasi media sosial berada pada titik tertinggi sepanjang masa. Banyak kekuatan dimainkan, ratusan ribu bots, situs website, media, hingga pasukan cyber bayaran. Secara keseluruhan, para periset Oxford University menyimpulkan bahwa akun bots pro-Trump menghasilkan efektivitas lima kali lebih besar saat kampanye dibanding bots pro-Hillary.

Azerbaijan

Azerbaijan selama bertahun-tahun menjadikan troll pro-pemerintah sebagai kasus manipulasi media sosial tingkat negara. Untuk mempertahankan kekuasaannya, Presiden Ilham Aliyev yang sudah memimpin Azerbaijan lebih dari 14 tahun mencoba mengeratkan cengkramannya dengan mengembangkan opini publik pro-pemerintah secara online. Bahkan ia pernah mengambil langkah tidak biasa yang tidak pernah terjadi sebelumnya, menunjuk istrinya sebagai Wakil Presiden untuk mengokohkan kekuasaan dinasti keluarga.

China

China adalah rumah bagi kemungkinan manipulasi media sosial pertama dan terbesar, dengan jaringan luas melibatkan sekitar dua juta orang yang bekerja untuk mempromosikan kekuatan partai penguasa. Sebuah studi di Harvard University, diperkirakan bahwa pemerintah China menciptakan sekitar 448 juta komentar di media sosial setiap tahun. Dari 43.800 postingan pro-pemerintah yang dianalisis, 99,3% dilakukan oleh satu dari 200 lembaga pemerintah.

Israel

Dengan lebih dari 350 akun media sosial resmi milik pemerintah, yang mencakup keseluruhan platform media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram, dengan menggunakan tiga bahasa (Ibrani, Arab, dan Inggris), Israel memiliki jaringan operasi online paling profesional di dunia. Tidak seperti Azerbaijan dan China, Israel menekankan strategi “debat” untuk memperkuat atau mendukung otoritas pemerintah dengan nada optimis, menekankan setiap keputusan pemerintah harus berakhir positif.

Rusia

Rusia menjadi negara penghasil troll berskala global terbesar di dunia. Propaganda yang mereka luncurkan ke berbagai negara melibatkan kekuatan besar media online yang dibiayai negara dan bekerja sebagai senjata informasi yang ampuh, Russia Today (RT) dan Sputnik. Mereka juga melancarkan propaganda dengan cara menyusup masuk ke ruang chat dan menggunakan Facebook dan Twitter untuk memanipulasi opini publik. Beberapa organisasi Rusia melatih dan membayar trolls untuk menyerang lawan-lawan Vladimir Putin.

Inggris

Referendum Brexit 2016 (Britain Exit) atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa juga memberikan momen penting untuk strategi manipulasi media sosial. Sebelum pemungutan suara, sekitar sepertiga dari semua lalu lintas di Twitter berasal dari bot otomatis, yang hampir keseluruhan berasal dari pro-Leave (menginginkan Inggris meninggalkan Uni Eropa).

Indonesia

Tidak dipungkiri bahwa tahun politik 2018-2019 (digelarnya pilkada serentak 2018 melibatkan 17 Provinsi dan pilpres 2019) akan mendorong dua kubu yang saling berseberangan saling melancarkan serangan politiknya dengan menciptakan manipulasi opini publik di media sosial. Tidak sedikit akun media sosial bayaran dikerahkan untuk melancarkan aksinya mempengaruhi masyarakat, dengan bersenjatakan opini publik atau manipulasi informasi. Menjelang pilpres 2019 dimana iklim politik semakin memanas, masyarakat harus bersiap-siap menghadapi banjir berita palsu, ujaran kebencian, dan manipulasi opini publik.

Semua data di atas menjelaskan bahwa hoax saat ini bisa dianggap darurat, tetapi permasalahan utamanya adalah politik. Jika menimbang dari hukum sebab-akibat, posisi hoax menjadi akibat, sedangkan penyebabnya adalah iklim politik. Hoax akan selalu ada sepanjang waktu, tetapi sifatnya fluktuasi tergantung kondisi yang terjadi. Iklim Politik akan mendorong hoax untuk lebih meningkat, secara tidak langsung hoax bisa dijadikan senjata cukup ampuh bagi aktor politik untuk mempengaruhi pemilih dalam memenangkan kandidatnya.

Untuk menekan hoax yang terjadi di Indonesia saat ini sebenarnya cukup mudah diatasi, aktor-aktor politik harus menjalankan kebijakan politik santun tanpa harus mengerahkan pasukan cyber bayaran. Alih-alih memberantas hoax, tidak sedikit netizen mencoba menjadi debunkers tetapi malah terlibat dalam politik. Syarat utama menjadi debunker (orang yang membongkar hoax) harus menjunjung tinggi prinsip idealis, objektif, netral, dan profesional.

Mulai saat ini jika Anda benar-benar menginginkan ruang maya Anda menjadi jernih, jangan pernah terorientasi dengan politik. Jika Anda memilih sikap mendukung salah satu calon kandidat, gunakan cara santun dengan mempromosikan calon kandidat secara positif, tanpa perlu menyerang pihak lawan. Sejatinya setiap orang berhak menentukan pilihannya, tetapi perbedaan pilihan bukan alasan untuk bermusuhan. Jikapun harus berperang, pilihlah musuh yang pantas untuk dilawan, bukan saudara sebangsa dan setanah air.

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
Angry Angry
0
Angry
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

Kategori: HOAX

Artikel Terbaru

Iklim Politik Mendorong Troll dan Hoax Kian Meningkat!

Choose A Format
Personality quiz
Series of questions that intends to reveal something about the personality
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Poll
Voting to make decisions or determine opinions
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals
List
The Classic Internet Listicles
Countdown
The Classic Internet Countdowns
Open List
Submit your own item and vote up for the best submission
Ranked List
Upvote or downvote to decide the best list item
Meme
Upload your own images to make custom memes
Video
Youtube, Vimeo or Vine Embeds
Audio
Soundcloud or Mixcloud Embeds
Image
Photo or GIF
Gif
GIF format