04 January 2018

Kontroversi Pernyataan Djoko Setiadi: "Hoax Membangun Boleh Jika Tujuannya Membangun"


Djoko Setiadi (Gambar: Kompas.com)

Ketika Anda mendengar hoax pastinya akan berpikir bahwa semua itu adalah kejahatan pengetahuan dengan tujuan pembodohan massal. Lalu bagaimana jika Kepala Badan Siber dan Sandi Negara, Djoko Setiadi, yang baru dilantik oleh Presiden Joko Widodo mempersilakan masyarakat membuat hoax jika itu membangun.

"Kalau itu hoax membangun, ya, silakan saja. Tapi jangan terlalu proteslah, menjelek-jelekanlah. Yang tidak pantas disampaikan sebaiknya dikurangi," kata Djoko seusai dilantik menjadi Kepala BSSN di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 3 Januari 2018. Djoko meminta pelaku penyebar tipuan negatif di media sosial berhenti tindakannya. Sebab, akan ada tindakan bagi penyebar tipuan. "Akan ada tindakan. Jadi nanti kita ingatkannya berhenti, tidak dilanjutkan. Tapi kalau nanti dia mau jadi-jadi, ya, nanti ada aturannya," kata Djoko.

Apakah hoax diperbolehkan dengan alasan postif (membangun?

Sebelum kami menjelaskan lebih dalam, Anda harus mengetahui terminologi dari kata "hoax" itu sendiri. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mencatat ejaan "hoaks" sebagai bentuk kata serapan dari bahasa asing "hoax".

Kata "hoaks" dalam KBBI dikategorikan sebagai ajektiva dan nomina. Jika itu ajektiva, kata "hoaks" mengandung arti tidak benar; bohong. Hoaks dalam bentuk frasa, penulisannya menggunakan kata yang diterangkan terlebih dahulu, misalnya "berita hoaks". Selain itu, hoaks juga bisa berdiri sendiri sebagai nomina yang memiliki arti "berita palsu/bohong".

Dalam KBBI V daring, hoaks memiliki arti tidak benar atau berita bohong.


Dalam bahasa asing, hoax (dibaca: hoks) berawal dari "hocus pocus" yang berasal dari bahasa latin "hoc est corpus" yang artinya "ini adalah tubuh". Kata ini awalnya digunakan oleh penyihir untuk mengklaim kebenaran, padahal sebenarnya mereka sedang berdusta.

Hocus digunakan untuk menipu yang digunakan untuk sihir atau mantra para penyihir dan pesulap zaman dahulu. Kata "hoax" sendiri didefinisikan sebagai tipuan berasal dari Thomas Ady dalam bukunya candle in the dark (tahun 1656) atau risalah sifat sihir dan penyihir. Menurut Merriam Webster, kata "hoax" memiliki definisi tipuan yang bertujuan mengelabui untuk menjadi percaya pada kebohongan yang seringkali tidak masuk akal.

Sejatinya penggunaan kata "hoax" tidak bisa digunakan untuk semua jenis kebohongan atau tipuan, kata kunci dalam definisinya adalah "publik". Tidak ada yang namanya tipuan pribadi, pastinya tipuan publik. Sebuah kebohongan naik ke tingkat tipuan dengan cara mendapatkan ketenaran publik - menjadi viral dan dibagikan secara luas hingga banyak dipercaya.

Dampak publik yang lebih luas akan menghasilkan tipuan, semakin tinggi peringkatnya dalam mendapatkan kepercayaan dan kebodohan. Karakteristik ini dapat digunakan untuk menandai kesamaan dan perbedaan antara hoax (tipuan) dan bentuk penipuan lain. Seringkali masyarakat membedakan antara tipuan dan penipuan dilihat dari tujuannya, penipuan bertujuan untuk menghasilkan uang, sedangkan tipuan merupakan tipu daya untuk membodohi.

Sejatinya tipuan dan penipuan sama bisa bertujuan mendapatkan uang, dari tipuan menciptakan kecurangan dengan menyebarkan berita palsu untuk mendapatkan penghasilan iklan di situs web. Dalam hal ini, satu-satunya perbedaan tipuan dan penipuan hanya pada reaksi masyarakat. Penipuan adalah bentuk kejahatan kriminal yang sudah tertulis dalam undang-undang. Sedangkan tipuan adalah tindakan menipu atau berbohong - jenisnya beraneka macam dari yang dianggap sah (contoh: sulap), pelanggaran (contoh: mengelabui - pura-pura sakit), hingga menjadi ilegal (contoh: hoax/berita palsu).


Hoax tidak lepas dari perjalanan sejarah, dalam esensinya sejarah mencatat sebuah tradisi "Satir Art Hoax" (SAH). Apa itu satir art hoax? Satir adalah kritikan, art adalah seni, sedangkan hoax adalah tipuan/manipulasi/mengakali/kebohongan. Salah satu hoaxer seni satir yang paling terkenal adalah Benjamin Franklin (abad 18), seorang master seni dengan konsep yang berbeda dan unik dalam menyampaikan pemikirannya.

Benjamin Franklin adalah founding father of satire, setiap tipuan satirnya bukan bertujuan untuk menyesatkan namun menguak sisi lain dari kehidupan sebagai evaluasi diri. Terkadang hoax tidak selamanya berkonotasi negatif, ada juga hoax positif yang memiliki nilai edukasi, seperti hoaxer Benjamin Franklin. Selain menjadi hoaxer, Franklin dikenal cukup cerdas sebagai filsuf, ahli ilmu, negarawan, dan sastrawan.

Contoh kasus lain dari hoax seni setir terjadi pada tahun 1932 dimana seorang seniman bernama Francesco Cremonese melakukan kebohongan publik dengan mengubur patung marmer wanita karyanya sendiri yang diidentifikasi sebagai karya seni Yunani-Romawi dari abad ke-1 SM. Setelah tipuannya terbongkar, Francesco menjelaskan bahwa apa yg dilakukannya semata hanya untuk menunjukan kurangnya pengakuan yang tidak layak atas dirinya sebagai seorang seniman. Dia menganggap karya seni hanya diakui dan dihargai jika itu berasal dari masa lalu.

Kembali ke kontroversi pernyataan Kepala Badan Siber dan Sandi Negara, Djoko dalam wawancara dengan Kompas menjelaskan pernyataannya dengan mengambil contoh kondisi di Jakarta yang sedang banyak pembangunan jalan untuk insfrastruktur. Hal itu menyebabkan kemacetan dan masyarakat pastinya dirugikan. Jika hal itu dikritik artinya bersifat membangun agar mendapatkan solusi.
Misalnya di Jakarta kan lagi banyak pembangunan jalan untuk infrastruktur. Jalan ditutup warga bingung mau lewat mana. Dari pihak pemerintah yang berwenang tidak ada solusi, jadi menimbulkan kemacetan kan. Kalau mau belok, berputar jauh sekali. 
Nah ini kalau dikritik berarti sifatnya membangun supaya kita mencari solusi sehingga tidak terjadi kemacetan di mana-mana.
Jika hoax membangun yang dimaksud Djoko seperti apa yang dilakukan oleh Benjamin Franklin dan Francesco Cremonese, itu artinya orang yang menggunakan hoax seperti itu haruslah memiliki integritas keilmuan tinggi dan memiliki jiwa seni, disampaikan dalam bentuk seni satir. Namun saat ini Satir Art Hoax sudah keluar dari jalurnya, pada awalnya Satir Art Hoax, lalu berubah menjadi Satir Hoax, kemudian kian keluar dari jalur menjadi Satir dan/atau Hoax.

Sejatinya hoax dengan tujuan membangun harus berbentuk satir cerdas, tanpa mengolok-olok atau menghina. Seni satir mulai terjadi dalam literatur (terutama puisi) datang pada Abad Pertengahan dengan maksud mengejek akademisi dan intelektual yang telah menghabiskan begitu banyak waktu di dalam ruangan dan sibuk dalam ilmu pengetahuan namun mereka telah kehilangan kontak dengan dunia luar dalam kehidupannya sehari-hari.


Satir sendiri sebenarnya termasuk dalam genre sastra yang berasal dari bangsa Yunani dengan maksud sindiran. Sindiran itu merupakan bentuk sastra yang ketat, tetapi istilah itu dengan cepat keluar dari definisi aslinya. Pada umumnya satir didefinisikan sebuah sindiran dengan nilai yang membuat seseorang untuk berpikir dan menjadi sebuah humor segar. Humor bukanlah komponen utama dari seni satir, sebenarnya ada jenis satir yang tidak dimaksudkan untuk menjadi "lucu" sama sekali.

Kami menggaris bawahi maksud pernyataan Djoko tentang hoax yang membangun adalah berupa kritikan. Apa yang disampaikan Djoko ada benarnya jika merujuk pada Satir Art Hoax, seperti yang dilakukan oleh Franklin dan Francesco. Namun, SAH tidak lagi berlaku di era sekarang ini, belum ada orang yang benar-benar mampu menjalankannya, selain itu satir sendiri di Indonesia masih dianggap tabu.

Definisi hoax saat ini sudah berbeda dengan kondisi yang terjadi di masa lalu. Hoax yang kita kenal saat ini mulai populer pada abad 20 seiring perkembangan internet dan media sosial. Istilah hoax kian populer berdasarkan film drama Amerika yang dibintangi oleh Richard Gere, "The Hoax" (2006). Jadi, peryataan bahwa "hoax yang membangun dibolehkan" sudah tidak relevan jika diterapkan pada era saat ini. Kritikan dan hoax memiliki arti yang jauh berbeda, kritikan yang dimaksud tidak bisa mengacu pada Hoax Seni Satir karena saat ini maknanya sudah keluar dari jalurnya.

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!