30 January 2018

Kasus Halusinasi Seksual Dapat Terjadi Pada Pasien Efek Pembiusan



Salah satu tuduhan paling buruk yang bisa dialami oleh seorang dokter dan praktisi medis adalah pelecehan seksual yang melibatkan pasien. Kasus seperti ini banyak terjadi, telah banyak laporan dimana pasien merasa menjadi korban pelecehan seksual, umumnya efek dari anestesi (pembiusan).

Mimpi dan halusinasi di bawah sedasi atau anestesi telah dikenal sejak awal diperkenalkannya anestesi. Halusinasi seksual dapat menyebabkan dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh dokter atau staf perawat. Halusinasi di bawah pengaruh obat penenang mungkin terasa sangat jelas dan disalahartikan sebagai nyata. Oleh karena itu, seringkali sulit untuk membantah tuduhan pasien kecuali ada bukti otentik, misalnya rekaman CCTV.

Di sini kami memberikan informasi dari efek anestesi yang perlu diketahui oleh praktisi medis dan masyarakat umum dimana halusinasi seksual dapat saja terjadi pasca pembiusan. Halusinasi seksual telah dilaporkan sejak diperkenalkannya kloroform. Agen baru seperti midazolam dan propofol tampaknya sangat rawan jika tidak digunakan secara hati-hati.

Banyak praktisi medis menjadi tertuduh akibat efek halusinogen dari obat ini. Masalah ini sangat serius dan harus menjadi perhatian utama agar praktisi medis dapat menghindari resiko terburuk yang akan terjadi jika pasien menggugat telah mengalami pelecehan seksual pasca pembiusan. Bagi pasien juga sangat penting mengetahui informasi ini agar tidak terburu-buru menyimpulkan apa yang dialami.

Midazolam, propofol, dan nitrous oxide dapat menghasilkan halusinasi seksual selama analgesia dental dan analgesia surgical serta anestesi. Bahkan tuduhan pelecehan seksual bisa terjadi pada pasien yang telah dibius di unit perawatan intensif. Tuduhan seperti itu benar-benar diyakini oleh pasien karena dianggap nyata. Fenomena ini pertama kali dilaporkan terjadi pada tahun 1849, dalam laporan The Lancet, dimana seorang pasien wanita saat persalinan berbicara bahasa cabul di bawah pengaruh anestesi kloroform. Akibatnya, sejak saat itu penggunaannya ditentang oleh praktisi kebidanan.

Laporan kasus tentang halusinasi seksual efek dari jenis obat anestesi telah banyak dipublikasikan. Biasanya melibatkan benzodiazepin, nitrous oxide dan propofol dalam kombinasi dengan fentanyl atau sufentanyl juga diketahui ikut terlibat.

Seorang ahli bedah gigi pernah dilaporkan oleh dua pasien wanita karena dituduh melakukan pelecehan seksual pasca pencabutan gigi. Keduanya dibius sebelum pencabutan gigi dengan 30 mg diazepam dan 10 mg midazolam intravena. Setelah mereka diberi obat penenang, dokter gigi itu sendirian bersama pasien untuk waktu yang lama dimana pelecehan yang dituduhkan terjadi. Meskipun dokter gigi membantah tuduhan itu dan apa yang terjadi adalah halusinasi seksual efek pembiusan, dia tetap dihukum karena melakukan perbuatan tidak senonoh.


Kasus lainnya menimpa seorang wanita berusia 32 tahun yang diberi midazolam 30 mg secara intravena dalam proses penelitian. Dia memutuskan untuk menarik diri dari penelitian karena halusinasi dan fantasi seksual yang membuatnya merasa malu. Dia telah membantu beberapa eksperimen dan menyadari bahwa ia tidak akan mengalami pelecehan selama prosedur tersebut, tetapi ia mengakui bahwa ada unsur seksualitas tidak menyenangkan yang membuat dirinya merasa malu.

Berdasarkan rincian hasil laporan, telah terjadi 41 insiden dimana banyak wanita melaporkan merasakan fantasi selama sedasi (anestesi kala obat diberikan untuk menenangkan pasien) dengan menggunakan midazolam IV atau diazepam: 27 diantaranya merasakan beberapa unsur seksual dan 20 lainnya mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan.

Apa yang terjadi dianggap efek dari obat dengan dosis besar. Oleh karena itu, selama atau setelah pasien wanita sedasi sebaiknya tidak diobati atau diperiksa tanpa kehadiran orang ketiga yang bertanggung jawab.

Pada tahun 1986, seorang dokter di sebuah rumah sakit di dekat Ottawa, Kanada, dituduh menempatkan penisnya di tangan pasien yang baru tersadar dari dosis intravena benzodiazepin. Dokter tersebut mengatakan bahwa ia sebenarnya sedang berusaha menguji kemampuan pasien dalam merespon sebuah perintah dengan memintanya meremas dua jari tangannya, bukan kemaluannya.

Kami mencoba bertanya pengalaman seorang dokter yang juga menjadi penasehat medis Sekoci, dokter Ronny. Ia menuturkan bahwa dirinya sering menggunakan katalar, bisa memberi efek mimpi buruk. "Kalau itu banyak ditemukan, jadi ketika selesai dia seperti mengamuk padahal sedang mimpi," tutur dr Ronny kepada Sekoci.

"Jadi halusinasi itu sebenarnya bisa organik dan non organik, organik misalnya pada pasien psikiatri, kalau yang non organik itu karena pengaruh obat-obatan, misalkan yang paling nyata adalah LSD," jelas dr Ronny. "Halusinasi juga jenisnya banyak, ada yang auditorik, taktil, dan penglihatan."

"Kalau ada kasus diraba-raba terus salah mengartikan merasa pelecehan, itu cenderung ke ilusi, bukan halusinasi. Halusinasi itu persepsi tanpa objek, misalnya seseorang merasakan disentuh padahal ia tidak disentuh sama sekali." tambah dokter Ronny.

Contoh kasus pasien merasa dilecehkan baru-baru ini menghebohkan ruang berita dimana seorang pasien wanita merasa menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum perawat di sebuah rumah sakit di Surabaya. Dalam hal ini, apakah korban sebenarnya merasakan halusinasi seksual atau benar-benar mengalami pelecehan, kita serahkan kepada pihak berwajib untuk memutuskan berdasarkan aturan hukum yang berlaku.

Instagram

Apakah hanya wanita yang mengalami halusinasi seksual dari obat anestesi? Tidak, pria juga dapat mengalaminya. Semua laporan korban kebanyakan merujuk pada wanita karena mereka memang cukup rentan mengalami pelecehan seksual. Berdasarkan catatan dari Wiley Online Library, laporan dunia medis dari dokter gigi tentang kasus halusinasi seksual, beberapa pria juga pernah mengalami.

Onlinelibrary.wiley.com

Berikut video orang-orang yang mengalami halusinasi efek anestesi:



Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!