21 January 2018

Apa Yang Akan Terjadi Jika Anti-Vaksin Menang?



Diantara salah satu dilema medis paling kontrovesrsi yang terjadi di zaman modern saat ini, permasalahan anti-vaksin dan pro-vaksin harus benar-benar diselesaikan secara adil dan bijak. Ketika kita mempertimbangkan realitas situasi yang terjadi, apakah vaksinasi perlu dilakukan atau malah harus dihindari karena berbahaya.

Anti-vaksin telah lama menentang penggunaan vaksinasi karena dianggap sebuah konspirasi global dan merupakan bisnis farmasi yang sangat menguntungkan. Untuk membuktikan apakah tuduhan mereka benar atau menyesatkan, mari kita mencari tahu kasus yang terjadi di beberapa negara.

Hingga tahun 2017, Rumania adalah negara dengan cakupan vaksinasi yang paling besar, mencapai 94% pada tahun 2012. Namun, pada tahun 2017, Rumania mengalami epedemi campak yang sangat besar, ada 6600 kasus dan 29 meninggal karena campak. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Tahun 2012, Rumania berhasil menjalankan vaksinasi mencapai 94%. Tahun 2014, jumlahnya menurun menjadi 89%, dan tahun 2015 menjadi 83%. Akhirnya tahun 2016 pemberian vaksin semakin menurun di bawah 80%, bahkan hanya 70% di beberapa wilayah bagian barat Rumania. Akibatnya, tahun 2017 Rumania mengalami kasus campak yang sangat besar karena tahun-tahun sebelumnya banyak warganya yang tidak melakukan vaksinasi.

Rumania bukan contoh satu-satunya dimana jumlah vaksinasi yang minim telah mempengaruhi epedemi campak. Beberapa negara di Eropa juga pernah mengalaminya walaupun tidak sebesar Rumania. Italia mengalami hampir 3000 kasus (1000 orang dirawat intensif di rumah sakit). Belgia dan Republik Ceko masing-masing mengalami 100 kasus. Ada juga kematian yang dilaporkan di Portugal, Bulgaria dan Jerman (total 700 kasus). Hingga Agustus 2017, total korban meninggal yang dilaporkan ada 40 orang.

Rumania dan Italia telah mengalami wabah campak terbesar pada tahun 2017. Kasus masih terus dilaporkan meskipun ada kegiatan pemberian vaksinasi di tingkat nasional setiap negara. Semua negara EU / EEA telah melaporkan kasus campak tahun 2017, kecuali Latvia, Liechtenstein, Malta dan Norwegia.

Jadi, ketika vaksinasi mulai menurun dan kasus campak mulai banyak terjadi, apakah menurut Anda itu hanya kebetulan semata? Yang pasti para anti-vaksin tidak akan bersedia bertanggung jawab atas kesesatan mereka hingga terjadi wabah campak. Bahkan mereka menuduh bahwa virus campak disebarkan melalui vaksinasi, dan mereka juga berdalih campak hanya penyakit ringan yang akan sembuh dengan sendirinya, campak menjadi mematikan karena vaksin itu sendiri.

Alibi dari para anti-vaksin tidak lain adalah bagian dari teori konspirasi yang hanya berdasarkan asumsi liar. Bukti-bukti sebesar apapun tidak akan diterima, doktrin yang telah tertanam erat di dalam pikiran mereka adalah vaksin harus menjadi tersangka, tidak perlu bukti, kebenaran hanya berdasarkan asumsi dan teori-teori liar.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Saat ini Indonesia tengah mengalami wabah campak yang cukup besar, terutama terjadi di wilayah Papua. Berdasarkan hasil laporan dari CNN Indonesia, hingga Jumat (19/1), sudah 68 anak yang tercatat meninggal dunia. Sementara yang dirawat makin bertambah jumlahnya.


Campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular yang disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui batuk dan bersin. Gejala penyakit Campak adalah demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit (rash) disertai dengan batuk dan/atau pilek dan/atau mata merah (conjunctivitis).

Penyakit ini akan sangat berbahaya bila disertai dengan komplikasi pneumonia, diare, meningitis, bahkan dapat menyebabkan kematian. Setiap orang yang belum pernah divaksinasi Campak atau sudah divaksinasi tapi belum mendapatkan kekebalan, berisiko tinggi tertular Campak dan komplikasinya, termasuk kematian.

Estimasi Kasus Campak dan Rubella di Indonesia Tahun 2010 – 2015 (Searo.who.int)

Gambaran Imunisasi campak di Indonesia (Searo.who.int)

Dibanding dengan negara lain di antara sebelas negara di Asia Tenggara (SEARO), Indonesia memiliki cakupan imunisasi campak sebesar 84% dan termasuk dalam kategori cakupan imunisasi campak sedang (World Health Statistics 2015).

Setiap negara mempunyai imunisasi yang berbeda, tergantung prioritas dan keadaan kesehatan di masing-masing negara. Penentuan jenis imunisasi ini didasarkan atas kajian ahli dan analisa epidemilogi atas penyakit-penyakit yang timbul. Di Indonesia, program imunisasi mewajibkan setiap bayi (usia 0-11 bulan) mendapatkan imunisasi dasar lengkap terdiri dari 1 dosis Hepatitis B, 1 dosis BCG, 3 dosis DPT-HB-Hib, 4 dosis polio tetes, dan 1 dosis campak dengan jadwal pemberian yang sudah ditetapkan.

Jadwal pemberian imunisasi pada bayi (Kementerian Kesehatan RI)

Wabah campak dan gizi buruk tengah melanda di Kabupaten Asmat, Papua. Berdasarkan laporan dari Kompas.com. Tercatat 61 anak sejak bulan September 2017 hingga saat ini dikabarkan meninggal dunia.


Wabah campak yang menyerang suku Asmat dilaporkan terjadi sejak September 2017, sedikitnya 568 menjadi korban, sebagian anak-anak dan balita. Berdasarkan keterangan tertulis yang disampaikan Bupati Asmat, Elisa Kambu, wabah campak itu menyerang 23 distrik/kecamatan yang mencakup 224 kampung/desa. Ratusan orang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah setempat dengan rincian 393 orang rawat jalan dan 175 orang rawat inap.

Salah satu alasan merebaknya wabah campak di Kabupaten Asmat dikarenakan imunisasi yang tak optimal. Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua mengungkapkan bahwa cakupan imunisasi campak di Kabupaten Asmat menurun drastis dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Menurut Oscar Primadi, Kepala Humas Kementerian Kesehatan (Kemenkes), imunisasi tak optimal di Asmat. Untuk itu ia mengimbau agar tiap warga melaksanakan imunisasi dengan lengkap dan benar.

Sejarah Campak

Pada abad ke-9, seorang dokter Persia menerbitkan salah satu laporan tertulis tentang penyakit campak. Pada tahun 1757, Francis Home, seorang dokter Skotlandia, berhasil mengidentifikasi bahwa campak disebabkan oleh agen infeksi di dalam darah. Pada tahun 1912, campak menjadi penyakit resmi secara nasional di Amerika Serikat.

Pada tahun 1954, John F. Enders dan Dr. Thomas C. Peebles mengumpulkan sampel darah dari beberapa siswa yang sakit selama wabah campak di Boston, Massachusetts. Mereka berdua berusaha mengisolasi virus campak pada darah siswa dan menciptakan vaksin campak. Mereka berhasil mengisolasi campak pada darah seorang anak berusia 13 tahun, David Edmonston.

Penyakit campak sendiri sudah ada jauh sebelum vaksin diciptakan. Penciptaan vaksin didasari atas kasus campak yang semakin besar dan mengakibatkan kematian dengan jumlah yang cukup besar. Jika Anda menuduh bahwa vaksin adalah penyebab campak menjadi lebih mematikan, lalu bagaimana dengan orang-orang yang meninggal terserang campak sebelum terciptanya vaksinasi? Penyakit campak sudah ada sekitar 500 SM.

Sejatinya vaksinasi merupakan pencegahan agar campak tidak menyerang, hingga saat ini tidak ada obat khusus campak. Campak sendiri sebenarnya penyakit ringan yang akan pulih sendiri dengan istirahat yang cukup atau perawatan intensif. Jika ada penderita campak mengalami kondisi parah hingga meningal, kemungkinan mengalami komplikasi medis. Seperti yang terjadi di Asmat, banyak penderita campak meninggal karena mereka mengalami kondisi gizi buruk.

Berdasarkan data dan bukti-bukti di atas, wabah campak melanda disebabkan menurun dan minimnya pemberian vaksinasi. Seandainya anti-vaksin berhasil menang dalam mempengaruhi masyarakat, bisa dibayangkan bagaimana dunia ini akan diinvasi oleh campak secara masif. Sejatinya anti-vaksin adalah bagian dari teori konspirasi yang berjalan liar melepaskan teori-teorinya akan ketakutan berlebihan (paranoid) yang tertanam di dalam pikiran mereka.

Jika Anda salah satu anti-vaksin, apakah Anda bersedia bertanggung jawab atas penderitaan dan kematian manusia yang jumlahnya tidak sedikit yang disebabkan oleh campak? Atau Anda punya teori lain untuk memperkuat alibi dengan tetap menuduh bahwa vaksin harus menjadi tersangka? Bagaimana para ahli yang selama ini berusaha keras mengatasi campak agar tidak mewabah dengan menciptakan vaksin anti-campak, di sisi lain gerakan anti-vaksin hanya berdasarkan teorinya selalu menentang tanpa pernah peduli kepada para korban.

Adakah gerakan anti-vaksin yang turun langsung menemui para korban untuk memberi bantuan? Mereka selama ini hanya mampu berteori dengan segala asumsinya yang menyesatkan. Segala tuduhan mereka ciptakan tanpa pernah berkontribusi menanggulangi wabah campak, yang ada mereka menjadi penyebab wabah campak kembali muncul.


Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!