29 November 2017

Apakah Bedak Bayi Berbahaya Dapat Memicu Kanker?



Bedak bayi telah lama diklaim berbahaya hingga dapat menyebabkan beberapa jenis kanker. Menaburkan bedak bayi ke badan buah hati setelah mandi dianggap berbahaya karena mengandung asbes. Situs dr. Oz Indonesia dalam artikelnya mengatakan bahwa bedak bayi dapat memicu kanker ovarium.


Bedak talk merupakan bedak yang kandungan utamanya adalah mineral, terdiri dari unsur magnesium, silikon, dan oksigen. Dalam bentuk aslinya (tahun 1970an), bedak talk mengandung asbes (asbestos), zat yang diketahui dapat menyebabkan kanker paru-paru jika terhirup. Namun, setelah tahun 1973 produsen bedak tidak lagi menggunakan asbes, dilarang karena berbahaya.

Ada sebuah kasus menarik di mana produsen bedak Johnson & Johnson (J&J) digugat oleh seorang wanita bernama Jacquelin Fox dari Birmingham, Alabama karena kanker ovarium hingga ia meninggal. Juri Amerika Serikat pada sidang pengadilan (Februari 2016) memutuskan bahwa J&J harus membayar denda sebesar 72 juta dollar AS kepada keluarga korban.

Bedak talk J&J dituduh mengandung asbes hingga menyebabkan Fox meninggal dunia karena kanker ovarium. Fox diketahui selama 35 tahun setia menggunakan bedak talk J&J, mendiang didiagnosa mengidap kanker pada tahun 2013, akhirnya dia meninggal tahun 2015 pada usia 62 tahun dan kasusnya diteruskan oleh anaknya.

Kasus Jacquelin Fox bukanlah satu-satunya gugatan yang harus dihadapi produsen bedak J&J, ada 4.800 penggungat di AS telah mengajukan tuntutan kepada pengadilan dengan kasus serupa. Pengadilan AS telah menjatuhkan denda kepada J&J sebesar $ 307 juta untuk empat kasus yang dimenangkan semua penggugat.

Lalu bagaimana dengan bedak talk J&J yang beredar di Indonesia?

Badan Pengawas Obat dan Makanan melalui situs resmi BPOM telah mengeluarkan pernyataan resmi terkait Johnson & Johnson (J&J) yang diduga menyebabkan kanker. BPOM mengatakan bahwa produk yang diduga menyebabkan kanker adalah Johnson’s Baby Powder, ada 9 produk baby powder dari J&J yang terkait kasus tersebut, namun semua produk terkait tidak masuk dalam notifikasi kosmetika.

Komposisi produk baby powder Johnson & Johnson yang ternotifikasi di Badan POM umumnya mengandung talc dengan kadar 98% - 99.83%. Berdasarkan peraturan BPOM, tidak ada pembatasan kadar maksimum penggunaan maupun persyaratan lainnya, dan pada sediaan serbuk untuk anak-anak harus mencantumkan peringatan “jauhkan serbuk dari mulut dan hidung anak-anak”. BPOM Juga menyatakan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir karena produk baby powder Johnson & Johnson yang ternotifikasi di Badan POM tidak mengandung bahan dilarang yang dapat memicu kanker.

Apakah benar bedak talk dapat memicu kanker?

Ketika berbicara tentang apakah bedak talk dikaitkan dengan kanker, hal ini yang perlu dicermati adalah membedakan antara talk yang mengandung asbes dan talk bebas asbes. Talk yang mengandung asbes umumnya telah disepakati oleh para ilmuwan dan ahli medis sebagai penyebab kanker jika terhirup. Sedangkan talk bebas asbes masih dalam sengketa oleh para ilmuwan, banyak penelitian dilakukan dengan hasil yang tidak konsisten.

Para ilmuwan menggunakan 2 jenis studi utama untuk mengetahui apakah zat atau paparan dari talk nonasbes dapat menyebabkan kanker. 1 Studi laboratorium: Penelitian yang dilakukan di laboratium menggunakan hewan percobaan. 2. Studi pada manusia: Penelitian langsung pada manusia berdasarkan kelompok berbeda yang hasilnya didapatkan dari perbandingan antara kelompok yang terpapar dan kelompok yang tidak terpapar.

Studi di laboratorium menggunakan hewan percobaan mendapatkan hasil yang beragam, beberapa menunjukkan pertumbuhan tumor dan hasil lainnya tidak menemukannya. Sedangkan studi pada manusia, banyak penelitian pada wanita telah melihat kemungkinan hubungan antara bedak dan kanker ovarium. Namun umumnya penelitian merupakan hasil campuran, hasil yang beragam dan saling bertentangan.

Studi pada manusia dianggap bias karena sering mengandalkan ingatan seseorang dalam menggunakan talk selama bertahun-tahun, ingatan seseorang tidak akan menjamin keakuratannya. Sebuah studi kohort retrospektif (catatan historis di mana faktor risiko dan efek atau penyakit yang terjadi di masa lampau) mungkin jalan yang harus ditempuh untuk menghilangkan hasil yang bias. Satu studi kohort prospektif pernah dilakukan dengan hasil tidak menemukan peningkatan resiko kanker akibat bedak talk.


Bagaimana dengan pendapat ahli?

Beberapa lembaga internasional telah mempelajari paparan zat dari bedak talk untuk menentukan apakah dapat memicu kanker (sebuah zat yang menyebabkan kanker atau membantu pertumbuhan kanker disebut karsinogen). Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) yang merupakan bagian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), telah menyimpulkan terkait kasus ini.

  • IARC mengklasifikasikan talk yang mengandung asbes sebagai "karsinogenik bagi manusia."
  • Berdasarkan kurangnya data dari penelitian pada manusia dan terbatasnya data dalam penelitian menggunakan hewan percobaan, IARC mengklasifikasikan bedak inhalasi yang tidak mengandung asbes sebagai "tidak dapat diklasifikasikan sebagai karsinogenik pada manusia."
  • Berdasarkan bukti terbatas dari penelitian manusia tentang kaitan bedak talk dengan kanker ovarium, IARC mengklasifikasikan penggunaan bedak pada sekitar area vagina sebagai "kemungkinan (tidak ada kepastian) bersifat karsinogenik pada manusia."

American Cancer Society mencatat bahwa penelitian menghasilkan temuan yang beragam dan menganggap bahwa jika ada risiko, risikonya akan sangat kecil. Studi yang selama ini dilakukan masih kontroversi karena perbedaan yang diamati pada risiko antara pengguna bedak dan pengguna non-bedak itu sedikit. Setiap pihak dapat mengambil hasil penelitian sesuai keperluannya, seperti asosiasi bedak Eropa yang mengambil dua studi tahun 2005 dan 2006 untuk mendukung posisinya.

Cancer Research UK telah meneliti berbagai faktor risiko dan faktor pencegahan kanker ovarium yang mencakup usia, genetika, berat badan, berbagai penyakit dan hormon serta penggunaan talk di antara kedua kaki. Hasil dari tingkat risiko yang berbeda untuk faktor-faktor ini, sedangkan posisi talk adalah bahwa risikonya tidak jelas dan jika ada risiko ditemukan, itu akan "sangat kecil".

Sebuah analisis tahun 2013 yang dipimpin oleh Harvard University dari 8.525 kasus kanker ovarium dan 9.859 kontrol menyimpulkan bahwa penggunaan bedak talk dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker cukup kecil hingga menengah dari berbagai jenis kanker ovarium. Mereka juga mencatat bahwa karena ada risiko kanker ovarium maka wanita disarankan menghindari menggunakan serbuk pada genital (alat kelamin) untuk mengurangi risiko kanker ovarium.

Shelley Tworoger, PhD, seorang ahli epidemiologi dan anggota senior di Moffitt Cancer Center di Tampa mengatkan bahwa studi yang pernah dilakukan tidak membuktikan kausalitas, hanya sebuah asosiasi. Masih relatif sedikit yang diketahui tentang bagaimana bedak talk dapat mempengaruhi biologi kanker ovarium. Ia menyimpulkan bahwa untuk sementara kita tidak dapat memastikan bahwa bedak talk menyebabkan kanker ovarium, di sisi lain ada bukti bahwa hal itu mungkin terjadi.

Kanker memiliki banyak penyebab, dan biasanya kanker bukan disebabkan oleh satu faktor. Ada banyak faktor lain yang terkait dengan kanker ovarium. Memiliki riwayat keluarga mengidap kanker ovarium terkait dengan risiko dua kali lipat lebih besar, jauh lebih kuat dari apa yang kita lihat dari bedak talk. Penggunaan kontrasepsi oral dapat mengurangi risiko.

Kesimpulan

Telah banyak penelitian dilakukan terkait hubungan bedak talk nonasbes dengan kanker, namun hasilnya masih kontroversi karena tidak konsisten. Dengan beragam hasil, ada yang menemukan hubungan talk dengan kanker dan lainnya tidak menemukan hubungannya, talk nonasbes dapat menyebabkan kanker atau tidak masih tidak ada kepastian. Banyak faktor confounding yang dapat menyebabkan seseorang menderita kanker selain dari penggunaan bedak talk, seperti ternyata pemakai talk sebagai perokok aktif atau obesitas juga faktor risiko lain yang dapat memicu keganasan.

Selain itu, pemicu kanker juga bisa dari faktor makrofag atau sel yang secara konstan dan lama memakan partikel bedak dan akan terjadi peradangan kronis yang akhirnya terjadi remodeling makrofag. Yang pasti, bedak talk masih belum dapat dipastikan menyebabkan kanker karena penelitian pada manusia harus menggunakan penelitian kohort retrospektif, bukan hanya studi kohort prospektif. Penelitian pada manusia dengan hasil sangat valid sangat sulit karena banyak faktor confounding di mana para peneliti harus benar-benar memisahkan semua faktor pemicu kanker selain bedak talk.

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!


Referensi:
NCBI (Perineal use of talcum powder and endometrial cancer risk)
NCBI (Genital powder use and risk of ovarian cancer: a pooled analysis of 8,525 cases and 9,859 controls)
NCBI (Occupational Exposure to Asbestos and Ovarian Cancer: A Meta-analysis)
NCBI (Consumer talcums and powders: mineral and chemical characterization)
Reuters (Johnson & Johnson wins reversal of $72 million verdict over talc cancer risks)
Badan POM (Penjelasan Badan POM Mengenai Produk Bedak Bayi Johnson & Johnson yang Diduga Menyebabkan Kanker)
American Cancer Society (Talcum Powder and Cancer)
Cancer Research UK (Ovarian cancer)
Cancer Research UK (News digest – pancreatic cancer redefined, chemo tricks to tackle cancer evolution, talcum powder and… carrots?)
IARC (Evaluation and Rationale)
WebMD (Expert Q&A: Can Baby Powder Lead To Ovarian Cancer?)


Emoticon Emoticon