26 October 2017

Apakah AS Siagakan Pesawat Bomber B-52 Menghadapi Korut?



Terkait kabar yang semakin memanas antara Korut dan AS, militer Amerika Serikat baru-baru ini dikabarkan sudah mempersiapkan pesawat pengebom mereka, Boeing B-52 Stratofortress, untuk siaga penuh selama 24 jam.

Boeing B-52 Stratofortress adalah pesawat pengebom strategis jarak jauh yang diproduksi sejak 1952. Pesawat yang diproduksi Boeing ini bisa membawa 32.000 kilogram senjata, baik senjata nuklir maupun senjata lain seperti bom cluster, bom gravitasi, maupun rudal presisi.

Pesawat B-52 yang sarat dengan senjata nuklir akan diposisikan untuk lepas landas kapanpun, dengan awak yang siaga di sebuah pangkalan di Louisiana. Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Korea Utara (Korut).

Kabar tersebut banyak dilaporkan outlet berita arus utama, seperti kompas.com, tempo.co, sindonews.com. Laporan yang beredar bersumber dari sebuah artikel yang diterbitkan oleh defenceone.com, Kepala Staf Angkatan Udara AS, Jenderal David Goldfein, mengatakan kepada Defense One bahwa pihaknya sedang mempersiapkan untuk menempatkan kembali pesawat pembom B-52 pada kondisi siaga 24 jam.

Berselang satu hari setelah laporan Defense One, Angkatan Udara AS membantah laporan terkait tentang persiapan pesawat pembom strategis B-52 dalam posisi kesiapan tinggi 24 jam, menurut petugas pers USAF, Brigjen Ed Thomas.

"Tidak ada diskusi atau rencana untuk membawa pesawat pembom pada misi nuklir saat ini," kata juru bicara Angkatan Udara Brigadir Jenderal Ed Thomas kepada wartawan di Pentagon dalam sebuah briefing.

Pernyataan tersebut sekaligus membantah rumor dari laporan Defence One, yang akhirnya dirilis ulang oleh banyak outlet berita online global. AS secara khusus tidak mempersiapkan B-52 untuk situasi menghadapi Korut saat ini, tapi hal itu bukan berarti tidak bisa terjadi. Pernyataan Jenderal David Goldfein telah disalahpahami oleh Defence One, B-52 selalu siaga untuk menghadapi kondisi darurat dalam misi apapun.

Kepala Staf Jenderal David Goldfein mengatakan kepada Marcus Weisgerber dari Defense One selama kunjungan enam hari ke Pangkalan Angkatan Udara Barksdale di Louisiana pada awal Oktober 2017. Goldfein mengatakan bahwa persiapan sedang dilakukan jika Angkatan Udara mendapatkan telepon untuk memulihkan status siaga 24 jam.

"Tinggal satu langkah lagi dalam memastikan kesiapan kita," Goldfein mengatakan dalam wawancara tersebut. "Saya melihatnya bukan rencana pada kejadian tertentu, tapi untuk realitas pada situasi global yang kita hadapi dan bagaimana kita memastikan kita siap maju," katanya.


Pejabat lain telah mengklarifikasi dan menjelaskan bahwa tidak ada perintah peringatan itu, namun Angkatan Udara melakukan persiapan jika ada perintah dari Komando Strategis AS, yang bertanggung jawab atas operasi nuklir, atau Komando Utara AS, dioperasikan untuk melindungi wilayah Amerika Serikat dan sekitarnya.

Selama briefing di Pentagon pada hari Senin, Thomas menambahkan, "sampai tahun 1991, pilot duduk dalam posisi selalu waspada," katanya. "Semua keputusan ada di tangan Komando Strategis AS apakah akan menggunakan B-52 Stratofortress atau B-2 Spirit, jika kita harus beraksi."

B-52 dan B-2 menjadi sarana pengeboman dalam menyuplai persediaan Angakatan Udara AS untuk melakukan serangan nuklir dari sebuah pesawat terbang, B-1B Lancer tidak lagi menjadi bomber berkemampuan nuklir.

Kendati usianya yang sudah tua, B-52 masih tetap beroperasi dan akan terus terbang mengemban misi penting setidaknya hingga tahun 2040, penerbangan pertama B-52A pada tahun 1954 dan model B terbang tahun 1955.

B-52 Bomber

B-2 Bomber

Jadi, kabar AS telah siagakan pesawat pembom B-52 untuk hadapi Korut tidak benar. Dalam hal ini, persiapan yang dilakukan hanya sebatas persiapan rutin dan setidaknya hingga saat ini tidak ada perintah pengoperasian B-52 untuk menghadapi Korut.

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!


Emoticon Emoticon