29 September 2017

Paul Horner, Raja Hoax AS Paling Terkenal Meninggal Dunia?



Kabar hoaxer paling terkenal asal Amerika Paul Horner meninggal dunia baru-baru ini menjadi perbincangan hangat. Kabar meninggalnya raja hoax AS ini memancing respon warganet, ada yang skeptis dan ada juga yang mengamininya.

Kabar tersebut mulai beredar awal pekan ini, dengan rentetan berita palsu kematiaan orang terkenal yang menginvasi internet dan faktor Paul sebagai hoaxer terkenal yang bisa saja memalsukan berita kematiaannya, membuat kami tetap skeptis. Namun titik terang akhirnya hadir mengungkapkan bahwa Paul dinyatakan benar-benar meninggal dunia.

Paul Horner dinyatakan meninggal dunia pada usia 38 tahun, ia ditemukan tewas di tempat tidurnya pada 18 Sepetember 2017. Juru bicara Kantor Sheriff Maricopa County, Mark Casey, mengatakan bahwa berdasarkan bukti yang ditemukan di lokasi kejadian, Horner tewas karena overdosis yang tidak disengaja.

Paul Horner

Dengan menggunakan segudang situs berita palsu termasuk NationalReport.net dan NewsExaminer.net, Paul telah menulis ratusan artikel berita palsu, mayoritas menonjolkan dirinya sebagai tokoh protagonis dalam karakter populernya, seperti Fappy the Anti-Masturbation Dolphin (tokoh anti-masturbasi bernama Fappy).


Paul seorang simpatisan Donald Trump, hal itu jarang diketahui karena kepiawaiannya dalam menciptakan karakter. Ketenarannya menghasilkan banyak wawancara dengan media arus utama, termasuk wawancara dengan CNN, Washington Post dan Channel 4 News Inggris.


Berikut beberapa artikel Paul yang menjadi hits:

1. Pada bulan Oktober 2013, Paul menulis sebuah artikel yang mengklaim bahwa Presiden Obama menggunakan dana pribadinya untuk "The Museum of Muslim Culture" agar tetap dibuka karena anggaran dari pemerintah dihentikan. Artikel palsu itu kemudian diambil oleh Fox News dan ditayangkan dalam sebuah siaran berita.


2. Pada tahun 2014, salah satu artikel Paul yang paling banyak dibagikan mengklaim bahwa seniman grafiti misterius yang dikenal sebagai Banksy telah ditangkap dan diidentifikasi sebagai Paul Horner. Dengan begitu populernya tipuan hingga membuat agen Banksy, Jo Brooks harus mengeluarkan klarifikasi di akun Twitter-nya. Rumor virusitu juga dibantah oleh media mainstream Barat, rumor tersebut kembali beredar di tahun 2017.

3. Sekali lagi pada tahun 2014, Horner merilis artikel tentang seorang gamer berusia 15 tahun yang dijatuhi hukuman 25 tahun karena sebuah lelucon yang dikenal dengan "swatting" (panggilan prank ke polisi dengan maksud agar SWAT muncul ke rumah seseorang). Berita palsu tersebut bahkan berhasil mengelabui beberapa blog teknologi, termasuk BoingBoing.net.

4. Pada Oktober 2015, Paul berhasil menghasut ribuan pengguna internet tentang kabar Yelp menggugat South Park sebesar 10 juta dollar. Tipuan tersebut akhirnya direspon oleh Yelp melalui akun resminya di Twitter.


Sepak terjang Paul kian menggila saat pilpres AS 2016. Paul secara diam-diam mendukung Trump terlibat dalam menciptakan berita palsu untuk memenangkan Trump sebagai Presiden AS. Selain itu, Paul mengeruk banyak keuntungan dari pendapatan iklan karena tipuannya sangat laris, secara berita politik merupakan konsumsi utama di tengah kondisi politik yang kian memanas.

Bahkan efek dari sangat besarnya berita palsu yang beredar saat pilpres AS 2016, CEO Facebook Mark Zuckerberg mulai khawatir dan berusaha mengatasinya. Perusahaan mesin pencari internet dan jejaring sosial lainnya mulai ikut bergerak secara masif untuk mengatasi peredaran berita palsu.

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!


Emoticon Emoticon