02 September 2017

[Mitos Vs Fakta] Daging Kambing Penyebab Darah Tinggi



Saat ini umat Muslim di seluruh dunia sedang merayakan hari raya Idul Adha. Ada hal menarik terkait kepercayaan yang telah lama diyakini masyarakat bahwa makan daging kambing dapat meningkatkan tekanan darah. Daging kambing selalu dituduh sebagai faktor antagonis di mana dapat membuat tekanan darah Anda menjadi tinggi.

Mitos ini terus berkembang dan dipercaya walaupun tanpa bukti ilmiah sebagai pendukungnya. Sebuah studi telah dilakukan untuk mengklarifikasi apakah daging kambing dapat meningkatkan tekanan darah atau tidak. Dalam sebuah jurnal yang diterbitkan di NCBI, dua percobaan dilakukan untuk menguji efek daging kambing pada tekanan darah.

Hasil dari percobaan tersebut menyimpulkan bahwa "daging kambing tidak menyebabkan peningkatan tekanan darah". Mitos ini mulai merebak dari tahun 1990 di mana saat itu daging kambing di Jepang dalam pasokan berlimpah, hal ini mengakibatkan beredarnya rumor hingga menyebar luas mengatakan bahwa daging kambing menyebabkan meningkatnya tekanan darah.

Kambing dengan kemampuan mereka untuk bertahan hidup dengan memakan berbagai rumput dan daun. Seperti daging lainnya, daging kambing terutama didasari dari protein dan lemak. Protein dalam daging kambing adalah seimbang dengan asam amino esensial dan non-esensial. Hal ini juga mengandung  taurin tingkat tinggi, karnitin, dan inosin yang penting bagi kesehatan manusia. Kandungan lemak dalam daging kambing sekitar 50% asam lemak jenuh dan 50% asam lemak tak jenuh dengan kadar asam oleat (C18: 1).

Dalam hal ini penyebab naiknya tekanan darah pada orang yang mengkonsumsi hidangan daging kambing disebabkan oleh bumbu yang digunakan, bukan dari daging itu sendiri. Kekuatan darah dalam menekan dinding arteri ketika dipompa oleh jantung ke seluruh tubuh menentukan ukuran tekanan darah. Tekanan yang terlalu tinggi akan membebani arteri dan jantung Anda, sehingga pengidap hipertensi berpotensi mengalami serangan jantung, stroke, atau penyakit ginjal.

Penderita hipertensi pada umumnya sangat menghindari mengkonsumsi daging kambing. Hipertensi diklasifikasikan menjadi dua kelompok, hipertensi esensial/primer dan hipertensi sekunder. Jenis darah tinggi primer tidak memiliki penyebab medis secara akurat atau tidak jelas, kebanyakan kasus serangan darah tinggi tergolong dalam kelompok primer. Sedangkan darah tinggi sekunder berasal dari gangguan yang muncul dari kerusakan organ tubuh seperti ginjal dan lainnya.

Daging merah yang berasal dari sapi, kambing dan lainnya, telah lama dipercaya mengandung senyawa L-karnitin (salah satu jenis asam amino) yang sangat berlimpah. Berdasarkan studi yang dipublikasikan secara online di jurnal Nature Medicine, makan daging merah dapat memberikan L-karnitin pada bakteri yang hidup pada usus manusia.

Bakteri ini mencerna L-karnitin dan mengubahnya menjadi senyawa yang disebut trimethylamine- N -oxide (TMAO). Dalam studi pada tikus, TMAO telah terbukti menyebabkan aterosklerosis, proses penyakit yang mengarah ke arteri kolesterol yang tersumbat. Seperti yang sudah diketahui bahwa arteri koroner tersumbat dapat menyebabkan serangan jantung.

Studi tersebut belum final dan mendapat pertentangan dari ahli lainnya. "Studi daging merah dan penyakit jantung pada manusia yang saling bertentangan," kata Dr Dariush Mozaffarian, profesor kedokteran di Harvard University. "Penelitian itu dilakukan dengan baik dan menarik, tapi terlalu dini untuk memutuskan bahwa molekul ini, TMAO, menyebabkan aterosklerosis pada manusia atau bahwa ini bertanggung jawab untuk beberapa efek dari konsumsi daging dan risikonya."

Dr Mozaffarian, ahli jantung dan epidemiologi, telah mempelajari efek kesehatan dari kebiasaan makan dan faktor gaya hidup lainnya dalam populasi besar. Sebelumnya timnya telah mengumpulkan beberapa temuan dari studi terbaik pada daging merah dan kesehatan, ia menemukan bahwa orang dengan makan daging merah yang tidak diproses secara baik akan berakibat buruk, hanya sedikit resiko terkena penyakit jantung.


Kembali ke L-karnitin, daging merah olahan pada umumnya mengandung L-karnitin yang lebih rendah daripada daging merah segar. "TMAO perlu dikaji lebih dalam pada manusia untuk memahami implikasi bagi kesehatan masyarakat," kata Dr Mozaffarian. "Penelitian itu sangat menarik tetapi belum final."

Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr Johanes Chandrawinata, SpGK, mengatakan, datangnya penyakit darah tinggi saat mengonsumsi daging kambing hanyalah mitos. Bahkan, kata dia, mengunyah satu kilogram daging kambing pun tak akan mendatangkan darah tinggi. "Kambing cukup sehat asal dagingnya saja, bukan dibarengi dengan jeroan, babat, otak, dan usus,” kata Johanes.

Kesimpulan: Daging kambing dapat mengakibatkan meningkatnya tekanan darah tidak ada bukti ilmiah sebagai pendukungnya, bumbu yang digunakan dalam masakan dan proses pengolahannya menjadi penentu tekanan darah Anda menjadi tinggi. Pada umumnya L-karnitin disebut-sebut sebagai faktor terbesar yang menyebabkan darah tinggi dan serangan jantung pada manusia, hal ini masih perlu penelitian lebih lanjut dan harus diuji pada manusia serta mendapatkan kesepakatan dari para ahli lainnya.

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!


Emoticon Emoticon