30 September 2017

Bias Konfirmasi: Kelemahan Yang Dapat Membunuh Akal Sehat



Tidak dipungkiri bahwa berita palsu akan selalu ada dan tumbuh sumbur di mana bias konfirmasi selalu mendominasi paradigma manusia. Bias konfirmasi adalah kecenderungan orang-orang untuk mencari dan menerima bukti-bukti yang mendukung pendapat dan keyakinannya serta akan mengabaikan bukti-bukti yang bertentangan dengan seleranya - kebenaran berdasarkan selera.

Dalam mencari kebenaran faktual, setiap orang akan berupaya mengatasi bias konfirmasi dengan mencari bukti-bukti yang bertentangan dengan sudut pandangnya. Bias konfirmasi terkait dengan konsep bias pertahanan perseptual dan efek bumerang, di mana setiap individu atau kelompok akan melakukan segala cara untuk mempertahankan kepercayaannya pada suatu hal - hanya akan menerima bukti-bukti dan argumentasi dari orang-orang yang sejalan dengan pemikirannya.

Tidak heran jika saat ini alam maya seperti medan perang di mana informasi seperti belati bermata dua, perdebatan dan perselisihan menjadi pemandangan lumrah. Sebagai manusia, kita pastinya menyukai kebenaran. Namun, manusia cenderung secara alami akan menikmati kesalahan logis dalam bias konfirmasi.

Bias konfirmasi merupakan konsekuensi dari cara persepsi bekerja. Keyakinan akan menghadirkan harapan, selanjutnya membentuk persepsi, kemudian akan menciptakan kesimpulan. Dengan demikian kebenaran merupakan apa yang selalu kita harapkan dan menyimpulkan berdasarkan kesimpulan pribadi.

Kyle Hill pernah mengatakan: "Manusia cenderung hanya akan menerima informasi yang menguatkan apa yang diyakininya dan mengabaikan atau mendiskreditkan informasi yang bertentangan dengan seleranya. 'Bias konfirmasi' akan mengendap di atas mata seperti kacamata yang mendistorsi semua yang dilihatnya."

Keyakinan bahwa ular takut garam, populasi wanita lebih banyak dari pria, micin dapat membuat bodoh, daging kambing menyebabkan darah tinggi, petir tidak akan menyambar dua kali di tempat yang sama, dan Indonesia dijajah Belanda selama 3,5 abad, semua itu masih banyak dipercaya efek dari kurangnya kemampuan berpikir kritis dan memiih mengalah pada jenis irasionalitas dengan menghindari berpikir logis.

Pada prinsipnya dengan tersedianya banyak informasi di era digital, dapat melindungi kita dari bias konfirmasi. Namun, sangat disayangkan dengan berlimpahnya informasi malah menjadi bumerang dengan mengabaikan prinsip-prinsip objektivitas (mencakup investigasi mendalam dan tidak ada unsur keberpihakan).

Masalah klasik saat ini adalah dengan banyaknya informasi menuntut kita untuk memilah dan memilih, kecenderungan kuat untuk hanya memilih informasi sesuai dengan apa yang kita percaya dan sukai. Bias konfirmasi terkuat selalu hadir dalam pandangan politik di mana setiap kepentingan memainkan peran penting, dengan menciptakan doktrin dalam informasi yang sesuai dengan kepentingan politiknya.


Bias konfirmasi terbesar banyak hadir di jejaring sosial Facebook, artis media sosial dengan pengikut besar selalu menciptakan opini publik dan propaganda untuk menghasut pengikutnya. Henry Grantland Rice pernah berpesn: "Orang bijak akan menciptakan keputusannya sendiri, sedangkan orang bodoh akan mengikuti opini publik."

Bias konfirmasi sejatinya terjadi ketika kita secara selektif hanya memperhatikan dan memusatkan perhatian pada bukti yang cenderung mendukung hal-hal yang sudah kita yakini atau menginginkan menjadi benar, dengan mengabaikan bukti bantahan yang akan merusak keyakinan. Bias ini memainkan peran lebih kuat dalam hal kepercayaan yang didasarkan pada prasangka, keyakinan, kepentingan, dan kebencian atau mengidolakan tokoh.

Semakin emosional kita terlibat dengan keyakinan, maka semakin besar kemungkinan akan mengabaikan fakta atau argumen apa pun yang dapat melemahkan keyakinan. Hal ini akan membuat seseorang menjadi tendensius hingga menganggap diri selalu benar dan unggul dari orang lain yang berbeda paham.

Sejatinya kebenaran tidak bisa menyenangkan semua pihak, selalu ada pihak yang terganggu dan mencoba menggugatnya jika kebenaran yang hadir tidak sesuai dengan seleranya. Hal ini akan memicu kompetisi antagonis untuk mempertahankan pendapatnya. Yang perlu dipahami adalah semua itu terkait dengan peran psikologis di mana akal dan hati berusaha saling mengalahkan.

Langkah terbaik untuk menghindari bias konfirmasi dengan cara berdamai dengan diri sendiri dan selalu mengoreksi diri serta mengembangkan kemampuan kognitif. Setiap orang mampu mendeteksi hoax yang berasal dari objek luar pikirannya, namun tidak semua orang mampu mendeteksi hoax yang berasal dari objek dalam titik pribadi.

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!


Emoticon Emoticon