20 September 2017

Bagaimana Trolls Menginvasi Internet Mengeksploitasi Emosi



Salah satu indikasi 'internet asperger syndrome' adalah troll yang mengganggu. Troll awalnya beredar di internet (kolom komentar website), namun sekarang setiap pemilik website bisa dengan mudah memberantas troll dengan mengatur setiap komentar yang masuk.

Internet troll mengacu pada orang yang mengirim pesan (atau juga pesan itu sendiri) di Internet dengan tujuan untuk membangkitkan tanggapan emosional atau kemarahan dari pengguna lainnya. Istilah ini diturunkan dari frasa "trolling for newbies" dan "trolling for fish", yang pertama kali muncul di Usenet. Istilah ini juga sering disalahgunakan untuk memojokkan lawan diskusi dalam debat-debat panas dan sering juga disalahterapkan untuk mereka yang tidak peduli terhadap etika.

Troll sekarang merambah ke jejaring sosial yang semakin liar tak terkendali. Troll pada umumnya terbagi menjadi dua. Pertama, seseorang yang tidak menyadari sedang melakukan troll. Kedua, mereka yang secara terorganisir menggunakan troll untuk menyerang dan mengacaukan diskusi dengan mengeksploitasi emosi setiap orang agar keluar dari jalur pembahasan. Jenis troll yang kedua dijalankan secara terencana dengan tujuan mengalihkan perhatian untuk masuk dalam ruang perdebatan, trollers biasanya akan langsung menghilang hanya sekali komentar saja.

Trolling sering dideskripsikan sebagai versi online dari eksperimen pelanggaran, di mana batas-batas sosial dan aturan etika diabaikan. Mereka yang mengaku sebagai troll sering memposisikan diri sebagai Devil's Advocate, gadflies atau culture jammers, untuk menantang pendapat umum atau asumsi umum dari forum yang mereka ikuti, dengan tujuan untuk mengalihkan atau mengenalkan cara berpikir antimainstream yang menyimpang dari konteksnya.

Troll dianggap salah satu senjata paling efektif dalam serangan di jejaring sosial, butuh kepekaan dalam menghadapi mereka. Troll juga sering digunakan untuk mendiskreditkan posisi yang berseberangan dalam suatu argumen. Hal ini dapat menghasilkan argumentasi ad hominem; seorang troll yang memang berniat mungkin dapat mempertahankan posisi kontroversial hanya karena ia telah berhasil menantang opini yang dianggap umum.

Troll identik dengan makhluk buas berwarna hijau sejenis raksasa dalam cerita-cerita rakyat Skandinavia. Mereka hidup di gua-gua yang dalam dan gelap, atau di dalam tanah. Mereka berukuran lebih besar daripada manusia dan memiliki tenaga yang besar. Dalam kisah-kisah fiksi fantasi, Troll digunakan sebagai tenaga pengangkut beban yang berat atau sebagai pasukan penghancur dari kerajaan kegelapan Mordor. Bentuk Troll seperti manusia batu. Troll yang kecil disebut Dwarf Troll sedangkan troll yang besar disebut Giant Troll.

Giant Troll

Secara umum, kami menyarankan sebaiknya user untuk menghindari memberi makan troll, atau menghindari godaan untuk merespon. Menanggapi sebuah troll akhirnya membawa diskusi keluar topik, dan memberikan troll dengan perhatian terhadap tujuan utamanya. Ketika pemburu troll berhadapan dengan para troll, biasanya yang mengabaikan menjawabnya dengan "troll detected", "kamu sedang ngetroll", "kamu di sini tidak diterima", atau "semoga harimu menyenangkan."

Namun, mengingat para pemburu troll (seperti troll juga) adalah sering merupakan tukang cari konflik, yang rugi sesungguhnya bukanlah para pemburu troll, melainkan pengguna forum lainnya yang menginginkan tidak ada konflik sama sekali. Troll mengambil peran sebagai antagonis, dan tetap mencari cara lain untuk mengganggu atau membangkitkan kemarahan anggota grup atau dalam postingan seseorang. Label "troll" sering dianggap sebagai simbol penolakan sosial, dengan demikian dapat memperpanjang aksi trolling.

Troll menjadi bersemangat kepada pemburu troll atau mereka yang masuk perangkap troll, dan akan menjadi frustasi dengan sikap ignorers, dan kedua emosi ini tidak menghasilkan hasil yang bermanfaat kepada forum. Terlibat dalam troll menghasilkan "flame wars". Troll yang frustasi oleh strategi 'abaikan' dapat kemudian meninggalkan forum, atau dapat menjadi lebih 'membakar' jika mereka mendapat respon.

Internet Troll

Selalu ada komentar satu kata untuk update status di jejaring sosial, seperti Facebook, thread forum, Twitter dan foto Instagram, yang hanya mengatakan "lol", "wtf", "coeg", "anjrit" atau "oh". Mereka pastinya jauh dari jenis troll terburuk yang Anda temui secara online, namun saat topik serius atau terperinci sedang dibahas, balasan satu kata mereka merupakan gangguan bagi semua orang yang sangat serius mengikuti diskusi.

Troll berlebihan biasanya bisa menjadi kombinasi antara pengetahuan, pertengkaran dan bahkan perdebatan. Mereka mengetahui bagaimana cara mengalihkan topik dan menciptakan masalah baru dan benar-benar menyingkirkannnya dari proporsi. Beberapa dari mereka benar-benar mencoba melakukannya untuk menjadi lucu, terkadang mereka berhasil, sementara yang lain melakukannya hanya untuk memancing emosi hingga masuk dalam ruang perdebatan. Mereka jarang memberikan nilai nyata untuk diskusi dan sering menimbulkan masalah yang tidak terkait dengan apa yang sedang dibahas.


Sosial media menjadi platform paling subur di mana trolling secara bebas dan liar menginvasi melalui komentar, seperti cyberbullying, kebencian, ancaman hingga cyberwar. Perilaku pengguna internet yang cenderung trolling dengan menyerang, snarky (sinis dan sarkastis), dan kurangnya sopan santun, biasanya sebagian besar terjadi pada remaja.

Para peneliti di School of Health Science and Psychology di Federation University di Mount Helen, mencari ciri-ciri tertentu termasuk keterampilan sosial, psikopati, sadisme, dan dua jenis empati: afektif dan kognitif. Memiliki empati kognitif tinggi berarti mereka bisa memahami emosi orang lain. Memiliki empati afektif tinggi berarti seseorang dapat mengalami, menginternalisasi, dan merespon emosi tersebut.

Jadi, meskipun "troll" menunjukkan satu jenis empati, menggabungkannya dengan psikopati akhirnya membuat mereka menjadi jahat, kata para peneliti. Psikopati merupakan gangguan kepribadian yang ditandai oleh perilaku berbohong, mengeksploitasi orang lain, kecerobohan, kesombongan, kekacauan secara seksual, rendahnya kontrol diri, dan kurangnya empati terhadap orang lain.

Sejatinya rasa empati yang tinggi adalah kunci utama untuk menghindari agar tidak menjadi trollers dalam kehidupan internet. Ketika sifat psikopati selalu lebih dominan, troll akan mengekploitasi kurangnya empati untuk mencari korban demi memuaskan nafsu trolling. Psikopati terkait dengan pencarian sensasi dan impulsif, kemudian menciptakan kekacauan online adalah motivasi utama dari troll.

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!


Emoticon Emoticon