12 June 2017

Warga Eropa Banyak Meninggalkan Internet dan Kembali Memilih Radio dan Televisi Sebagai Sumber Berita Terpercaya



Sebuah survei Eurobarometer 86 yang telah dirilis belum lama ini mengungkapkan bahwa mayoritas warga Eropa memilih radio dan televisi sebagai sarana mendapatkan informasi. Mereka memilih kembali ke media tradisional sebagai sumber informasi akibat maraknya berita palsu yang beredar di internet.

Kepercayaan warga Eropa kepada internet terjun bebas, hanya 36% warga Eropa mempercayai internet dan 21% masih mempercayai jejaring sosial. Menurut hasil survei, media tradisional radio dan televisi masih dianggap oleh warga Eropa sebagai sumber terbesar dari informasi terpercaya.

Radio mendapat tempat pertama 59% dengan respon positif dari warga Eropa, diikuti televisi dengan jumlah 50%. Bahkan surat kabar lainnya seperti koran kurang mendapatkan respon positif di Eropa dan selama lima tahun terakhir masih dengan posisi stabil dalam mendapatkan respon positif.

Gambar: EBU

Masalah utama warga Eropa kembali ke media tradisonal efek dari menjamurnya berita palsu di internet dan jejaring sosial. Mereka banyak tidak mempercayai internet sebagai sumber berita hingga internet banyak ditinggalkan.

Pergerakan berita palsu mulai beredar secara masif dengan jumlah yang sangat besar ketika pemilihan Presiden AS pada 2016 dan Brexit di Inggris, umumnya warga Eropa mengikuti perkembangan berita pemilihan presiden AS yang ternyata memiliki volume sangat besar dari pergerakan berita palsu, khususnya di internet dan jejaring sosial.

Sikap warga Eropa terhadap internet nampak berubah tidak lepas dari kepercayaan yang mereka butuhkan, internet tidak lagi menjadi sumber terpercaya bagi warga Eropa. Yunani adalah satu-satunya negara Eropa yang masih mengandalkan internet sebagai sumber berita dibanding radio, televisi dan surat kabar.


Masalah berita palsu menuntut Facebook untuk melakukan langkah-langkah dalam upaya memerangi berita palsu, Facebook tercatat sebagai jejaring sosial yang paling subur beredarnya berita palsu. Dalam setiap negara dari 33 negara Eropa yang telah disurvei, mereka yang tidak percaya media sosial kalah jumlah dengan mereka yang mempercayai media sosial. Media sosial adalah sarana terbesar menjamurnya berita palsu di seluruh benua, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Komisi Eropa.

Berdasarkan hasil laporan analisis dari data European Broadcasting Union (EBU) pada laporan kepercayaan di media 2017, negara-negara Eropa yang paling percaya media sosial adalah Perancis dan Swedia.

Analisis EBU juga menunjukkan melemahnya kepercayaan dari internet pada umumnya, dengan 24 dari 32 negara-negara Eropa merekam penurunan kepercayaan dari internet selama jangka lima tahun, 2012-2016.

Media tradisional - radio, televisi, dan surat kabar - mendapat kepercayaan warga Eropa lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

Gambar: EBU

Gambar: EBU

Kepala Media Intelijen EBU, Roberto Suarez mengatakan bahwa pasca menjamurnya berita palsu mendorong masyarakat untuk melihat dan membedakan antara persaingan berita dan memilih untuk menaruh kepercayaan kepada media yang lebih tradisional.

"Tugas kami dari anggota lembaga penyiaran publik untuk menghargai dan mempertahankan tingkat kepercayaan dan memberikan laporan independen untuk melawan penyebaran berita palsu dan mengawasi di media sosial," kata Suarez.

Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Saya mengamati bahwa pengguna internet dan jejaring sosial kian hari semakin tinggi. Pergerakan berita palsu saat ini semakin liar, pada dasarnya efek dari euforia politik, terutama masa kampanye pilkada DKI hingga pasca pemilihan Gubernur DKI.

Sebelum pilkada DKI, hoax yang beredar pada umumnya masih berkutat pada informasi palsu dan disinformasi, yang disebarkan oleh individu dan outlet berita. Kini hoax disebarkan secara terencana dan masif oleh kelompok dan golongan dengan sengaja mengaburkan fakta dengan tujuan berdasarkan kepentingannya.

Pada dasarnya hoax yang beredar di Indonesia saat ini bersumber dari kepentingan politik, tidak heran jika berita politik sangat laris dan digemari. Bahkan pemerintah mulai peduli dengan pemberantasan berita hoax akibat kegaduhan politik pilkada DKI yang sangat mengkhawatirkan.

Efek pilkada DKI membuat banyak situs politik mendadak bermunculan dan dengan mudahnya mendapatkan pengunjung yang sangat banyak. Nampaknya pemerintah belum optimal dalam menanggulangi berita palsu. Saat ini masyarakat terpecah menjadi dua kubu dan tidak hentinya saling mengadu taring dengan menyebarkan berita palsu.

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!


Emoticon Emoticon