29 June 2017

PERSI Membantah Kabar Dokter Stefanus Taofik Meninggal Karena Kelelahan


dr. Stefanus Taofik

Netizen dihebohkan dengan kabar kematian dr. Stefanus Taofik, kabar yang beredar mengatakan bahwa dr. Stefanus meninggal akibat kelelahan menjadi dokter jaga selama empat hari berturut-turut di di tiga rumah sakit untuk memberi kesempatan para senior merayakan Lebaran.

Kabar tentang meninggalnya dokter Stefanus mulai ramai berdasarkan postingan Facebook dari pemilik akun Tifauzia Tyassuma mengabarkan kematian dokter Stefanus Taofik akibat kelelahan menjadi dokter jaga selama beberapa hari.


PEJUANG SEJATI

Dokter Stefanus Taofik, yang masih begitu muda, begitu ramah, begitu penuh semangat.

Bapak dari bayi mungil, kecintaan dan harapan keluarga, telah berpulang kembali kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, setelah bertugas berhari-hari tanpa henti tanpa jeda di Ruang Perawatan Intensive, demi menggantikan teman-teman sejawatnya tengah menikmati liburan yang panjang.

Tidak ada yang menggantikan beliau. Dan dari chat whatssap dan telegram dari teman-teman beliau tampak bahwa tugas berat tanpa istirahat itu beliau jalani dengan tabah dan semangat nyaris tanpa mengeluh.

Beliau wafat di kamar jaga. Kelelahan dan hantaman ketegangan yang terus-menerus dirasakan non stop dalam perjuangan menyelamatkan jiwa pasien-pasien kritis di Intensive Care Unit, berkejaran dengan detik-detik nafas dan degup jantung pasien yang melemah menuju titik nol, telah membuat jantungnya sendiri collaps, tanpa disadarinya.

Kelelahan. Makan dan minum tak teratur. Tidur dan istirahat mungkin sudah tercoret dari daftar harian. Berbagai faktor risiko yang tidak tersadari ada dan tidak terkelola dengan baik.

Banyak yang tidak menyadari betapa berat tugas seorang Dokter. Ketika bertugas di lini pelayanan, cuma satu yang terlintas: bagaimana pasien selamat, bagaimana pasien selamat. Bagaimana pasien selamat. Tak ada tempat untuk mengeluh atas kelelahan dan kegagalan dan kekhawatiran dan rasa frustrasi akibat keterbatasan.

Dokter Stef, perjuanganmu telah selesai dengan excellent .Engkau sudah jadi pahlawan bagi banyak pasienmu selama ini. Engkau sudah jadi penolong bagi teman-teman sejawat yang lain. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa menerima kepulanganmu dalam kemuliaan NamaNYA.

Rest in Peace, my friend.

Berdasarkan keterangan dari Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), dr Kuntjoro Adi Purjanto, M.Kes, dokter Stefanus Taofik bertugas jaga seperti biasa dan tidak banyak menangani pasien.

"Pihak RS menjelaskan bahwa Stefanus menangani satu pasien di ICU dan satu pasien operasi sedang pada saat bertugas pada 24 sampai 25 Juni 2017," kata Kuntjoro Adi. "Saat beliau bertugas, pihak RS juga menugaskan dua dokter anestesi purnawaktu yang siap jika diperlukan."


Pihak rumah sakit tempat Stefanus berkeja juga telah menjelaskan, almarhum saat itu menangani satu pasien di ICU dan satu pasien operasi sedang pada saat bertugas tanggal 24 sampai 25 Juni 2017.

Berdasarkan keterangan dari dr. Arif H. M. Marsaban, SpAn-KAP, Ketua Program Studi SP2 dari Divisi Anestesia Ambulatori dan Bedah Umum Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr Stefanus meninggal akibat penyakit Brugada Syndrome. Brugada Syndrome merupakan penyakit kelainan genetik pada pembuluh darah di koroner.

Jadi, rumor yang mengatakan dr Stefanus meninggal akibat kelelahan menjadi dokter jaga selama beberapa hari berturut-turut menggantikan teman-teman sejawatnya yang tengah menikmati liburan hari raya Idul Fitri tidak benar.

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!


Emoticon Emoticon