29 April 2017

Putri Qatar Dipergoki Pesta Seks Dengan Tujuh Pria di London?


Seorang Putri Qatar pernah dikabarkan ditangkap Polisi London saat pesta sex disebuah apartemen di London. Putri Qatar tersebut bernama Sheikha Salwa, putri kandung dari mantan Perdana Menteri Qatar Hamad bin Jassim bin Jabor Al Thani, ia ditangkap karena melakukan pesta seks dengan tujuh pria di apartemen miliknya.

Berikut artikel dari arrahmahnews.com

Pada tanggal 21 Agustus, situs Veterans Today yang menukil dari situs media Financial Times, melaporkan bahwa seorang Putri Qatar telah melakukan pesta seks di sebuah apartemen di London.

Kegiatan pesta seks oleh Putri Qatar ini telah berlangsung lama dengan “motif sakit hati seorang intel Inggris”. Selama ini kegiatan pesta seks diatur oleh seorang intel Inggris dengan imbalan menggiurkan. Namun, Putri Qatar memberikan kepercayaan kepada intel Inggris yang lain. Karena sakit hati, intel pertama kemudian membocorkan kegiatan ini kepada wartawan ‘Financial Times’, dan beritanya menjadi viral di media-media online, meski kemudian Financial Times’ menghapusnya, diduga karena tekanan pemerintah Qatar dan Inggris.


Seperti dilaporkan Veterans Today, para polisi Inggris terkejut mendapati seorang putri kerajaan Qatar tengah melakukan kegiatan seksual bersama tujuh orang di apartemennya di London. Ketika polisi mendobrak kamarnya, putri tersebut tengah melakukan pesta seks dengan tiga laki-laki Eropa, sementara empat laki-laki lainnya tengah menunggu giliran di luar kamar.

Awalnya polisi mengintai seorang ‘terduga’ pelaku kegiatan prostitusi ilegal yang ternyata membawa mereka ke apartemen milik Putri Qatar tersebut. Kepada polisi orang itu menyebutkan bahwa putri tersebut bernama Sheikha Salwa, putri kandung dari mantan Perdana Menteri Qatar Hamad bin Jassim bin Jabor Al Thani. Melalui seorang perantara Putri Salwa memintanya membawa serta enam laki-laki dengan ‘kualitas fisik khusus’ yang berpengalaman melakukan aksi seks bersama-sama dengan imbalan menarik. Kepadanya Putri Salwa meminta untuk tetap berada di dalam apartemen hingga semua orang pergi, untuk menjaganya dari aksi-aksi kekerasan seperti telah terjadi sebelumnya.

Menurut laporan itu, Putri Salwa mengaku kepada petugas polisi bahwa yang dilakukannya bukanlah prostitusi melainkan membayar orang profesional yang tidak melanggar hukum Inggris. Namun polisi mengatakan bahwa yang dilakukannya adalah tindakan kriminal karena membayar orang-orang dengan catatan kriminal atau membayar orang untuk melakukan kegiatan prostitusi.

Menurut laporan itu kedutaan besar Qatar menawarkan imbalan sebesar $50 juta kepada Financial Times untuk mencegah laporan itu muncul ke publik, namun ditolak.

Tidak Terbukti

ANALISIS

Kabar tentang kandal besar telah pecah dalam keluarga kerajaan Qatar, seorang putri Qatar berusia 34 tahun bernama Sykes Saloua (Sheikha Salwa), adik dari raja Qatar, ditangkap oleh pihak keamanan Inggris di hotel London karena terlibat pesta sex dengan tujuh pria tidak berdasarkan bukti otentik.

Poin inti dari klaim menyatakan bahwa pesta birahi itu direncanakan oleh putri berusia 34 tahun. Pengkapan yang dilakukan oleh keamanan Inggris menekankan bahwa kasus tersebut bukan prostistusi melainkan memabayar orang profesional. Tindakanin secara hukum Inggris dianggap tidak melanggar hukum.

Foto dalam laman tersebut yang diklaim sebagai Shaikha Salwa, faktanya foto itu adalah salah satu wanita paling berpengaruh di Uni Emirat Arab pada tahun 2014 versi majalah Forbes, wanita tersebut bernama Alia Al Mazrouei.


Alia Al Mazrouei adalah seorang wanita pekerja keras yang menjalankan banyak bisnis. Meskipun sangat sibuk, ia tetap menjalankan tugasnya sebagai ibu untuk anak-anaknya. Alia Al Mazrouei tinggal di Abu Dhabi, ia berprofesi sebagai pengusaha perempuan dan seorang ibu.

Seorang jurnalis Alaraby Tv, Ahmad M. Yassine, mengungkapkan dalam akun Twitter miliknya bahwa foto Alia Al Mazrouei telah salah dituduh sebagai Shaikha Salwa (putri Qatar).

Berita tentang penangkapan putri Qatar yang terlibat pesta sex di London berawal pada 14 Agustus 2016 yang diterbitkan oleh situs middleeastpress.com, namun artikelnya telah dihapus. Artikel asli kami temukan dalam Archive yang tersimpan pada 20 Agustus 2016. Dalam artikel tersebut menampilkan gambar Sheikha Salwa dengan wajah berbeda.


Dalam artikel beritanya Middleeastpress mengandalkan sumber dari Financial Times. Dalam laporannya, pihak Kedutaan Qatar menawarkan $ 50 juta agar skandal itu tidak dipublikasikan, namun Financial Times menolaknya dan memilih menerbitkan fakta-fakta kasus tersebut.

Kami mencoba mencari artikel tersebut di situs Financial Times, namun kami tidak mendapatkan artikel berita yang relevan terkait kasus Sheikha Salwa dan skandal sex dengan 7 pria di London, artikel yang dimaksud telah dihapus.

Namun cerita yang mirip beredar pada tahun 2012, lagi-lagi artikel itu menunjukan sumber dari Financial Times dan menyebutkan ada perbuatan suap $ 50 juta agar menyembunyikan skandal tersebut. Berita tersebut beredar setidaknya sejak April 2012 di situs Islamtimes.org yang memuat sumber dari Finansial Times.


The apartment which is owned by non-other than Salwa Hamad bin Jassim, the Qatari Prime Minister’s daughter, raised some serious question marks over the young woman’s moral standards and the nature of her activities when in the United Kingdom. According to witnesses Salwa was actually at the apartment in the company of a westerner.

Although the Qatari embassy tried to prevent the scandal from seeing the light of day by offering $50 million to the paper, the Financial Times refused.

Pencarian di Internet juga kami menemukan sebuah gambar berita dari The Times dengan judul "British security Authorities arrested the daughter of Prime-Minister of Qatar" (otoritas keamanan Inggris menangkap putri perdana menteri Qatar)


Namun anehnya berita The Times diterbitkan pada Januari 2013, sedangkan Islamtimes jauh sebelumnya terlebih dahulu menerbitkan artikel yang sama pada April 2012.


Kami juga mencoba menelusuri berita British security Authorities arrested the daughter of Prime-Minister of Qatar di internet dari situs Financial Times. Lagi-lagi kami tidak menemukan berita yang relevan, berita tentang Qatar di Financial Times hanya berita tentang Presiden Suriah Bashar al-Assad mengintensifkan cyberwar melawan Qatar, artikel diterbitkan pada April 2012.

Dalam artikelnya Financial Times melaporkan bahwa kabar Putri perdana menteri Qatar ditahan di london. Panglima militer Qatar mengatur kudeta melawan Emir. Perdana menteri Hamad bin Jassin dipecat. Semua cerita itu tidak ada yang benar, namun untuk sementara pertarungan rezim Suriah yang diperangi berusaha membuat berita tersebut menjadi kredibel akibat ulah para hacker yang loyal.

Kelompok cyber army Suriah dan aktivis dunia maya melakukan aksi serangan spam ke Facebook dan Twitter dengan pesan-pesan pro-pemerintah Assad. Perang cyber yang dilakukan pihak Suriah dengan target Qatar merupakan upaya untuk meningkatkan citra Bashar al-Assad. Cyberwar Suriah dimaksudkan untuk menciptakan doktrin bahwa semua pemberontakan melawan Assad merupakan geopolitik yang dilakukan negara kaya Teluk monarki untuk menghancurkan Suriah, dengan menghasut rakyat untuk melakukan pemberontakan secara brutal.

The Qatari prime minister’s daughter is arrested in London. Qatar’s army chief stages a coup against the emir. Hamad bin Jassim, the prime minister, is sacked. None of these stories is true, but for a while Syria’s embattled regime tried to make them credible partly thanks to a group of loyal hackers.

Late on Monday, the so-called Syrian Electronic Army, the cyber activists who spam Facebook and Twitter with pro-government messages, hacked into the Twitter account of Saudi Arabia’s al-Arabiya news channel and planted the report of Mr bin Jassim’s removal. As al-Arabiya rushed to report that its social networks were infiltrated, the hackers posted news about an explosion at a Qatari natural gasfield.

The cyberwar against Qatar is part of escalating efforts by Bashar al-Assad, Syria’s president, to paint the revolt against him as a geopolitical struggle by wealthy Gulf monarchies bent on Syria’s destruction, rather than a brutal attempt to put down a popular uprising.

Kesimpulan: Kabar tentang Putri Qatar ditangkap di London dengan tuduhan melakukan pesta seks dengan tujuh pria di apartemen miliknya tidak ada laporan resmi. Berita tersebut bersumber dari Financial Times, namun artikelnya dihapus dengan alasan yang tidak diketahui pasti. Gambar yang dituduh Sheikha Salwa faktanya adalah seorang pengusaha wanita yang mendapat penghargaan dari majalah Forbes bernama Alia Al Mazrouei.

Financial Times sebelumnya pernah menerbitkan artikel berita mengenai rumor tersebut, namun semua itu dikatakan tidak benar, bahkan rumor tersebut merupakan aksi cyberwar yang dilakukan Suriah untuk melawan Qatar. Sebagai catatan bahwa situs Arrahmahnews merupakan situs tidak netral berdasarkan kepentingan golongannya, mereka secara terbuka mendukung pemerintahan Assad dan selalu menyerang pihak-pihak yang berseberangan.

Setiap berita yang terkesan sangat pedas menyerang pihak tertentu, Anda tidak perlu untuk mempercayainya. Jikapun informasi itu benar, tetap saja isi berita ada yang dimanipulasi demi kepentingan si penulis. Propaganda negatif dan manipulasi informasi adalah senjata andalan bagi situs yang mempunyai kepentingan untuk kelompok ataupun golongannya.

Salam Icokes. Sekoci Hoaxes!


Emoticon Emoticon